Mengenal Gaelik, Bahasa Kuno yang Kini Hampir Punah


Setiap negara memiliki banyak bahasa daerah, yang biasa digunakan untuk bertutur atau berkomunikasi di antara orang-orang satu daerah. Di Indonesia, misalnya, ada banyak bahasa daerah, termasuk bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Madura, dan lain-lain. Bahasa-bahasa itu masih ada dan masih dikenal, karena masih ada yang menggunakan.

Yang mengkhawatirkan, dari waktu ke waktu keberadaan bahasa daerah terus mengalami pengikisan atau makin berkurang penggunanya. Kenyataan semacam itu tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di berbagai negara lain. Gaelik, sebagai contoh, saat ini menjadi salah satu bahasa yang terancam punah.

Pada 2018, bersama sekitar setengah dari kira-kira 6.000 bahasa di dunia, Gaelik Skotlandia dianggap berisiko mati. Pada daftar UNESCO, yang berisi bahasa-bahasa yang terancam, bahasa itu digolongkan sebagai 'pasti terancam punah'.

Penelitian menunjukkan bahwa salah satu faktor terbesar yang disalahkan sebagai pembunuh bahasa minoritas adalah ekonomi yang berkembang pesat.

Ketika ekonomi berkembang, satu bahasa sering mendominasi ranah politik dan pendidikan bangsa. Artinya, orang terpaksa mengadopsi bahasa dominan itu, atau berisiko tertinggal jika enggan melakukannya.

Bahasa kuno

Digunakan di Skotlandia selama lebih dari 1.500 tahun, pada Abad Pertengahan, Gaelik Skotlandia adalah bahasa Skotlandia. Namun selama berabad-abad, penggunaannya menyusut kembali ke Hebrides dan Highlands.

Pada 1746, di Pertempuran Culloden, pasukan pemerintah Inggris mengalahkan pasukan Jacobite. Setelah itu, penindasan negara terhadap budaya dan tradisi klan dimulai, termasuk melarang Gaelik.

Bahasa itu semakin melemah sepanjang abad berikutnya karena pembukaan lahan Highland, ketika pemilik tanah menggusur para petani kecil dari tanah yang mereka sewa selama beberapa generasi, dengan tujuan memperkenalkan peternakan domba yang menghasilkan keuntungan lebih tinggi.

Hasil migrasi massal itu berarti bahwa saat ini ada komunitas berbahasa Gaelik di Nova Scotia di Kanada serta di Selandia Baru, Australia, dan AS.

"Secara historis, Gaelik dan cukup banyak bahasa minoritas cenderung dikecualikan dari penggunaan formal, terpinggirkan dari kehidupan ekonomi," kata Wilson McLeod, profesor Gaelik di Universitas Edinburgh, Inggris. "Anggapan tradisional adalah bahwa Gaelik tidak punya nilai komersial."

Kemudian, pada tahun 1970-an, sebuah model bisnis perintis muncul di Isle of Skye. Pemilik lahan, Sir Iain Noble, mengubah bangunan pertanian yang tak terpakai menjadi pusat pendidikan dan budaya Gaelik, Sabhal Mor Ostaig, dan mendirikan sebuah hotel dan penyulingan wiski.

Dia bersikeras bahwa bahasa Gaelik adalah bahasa kerja yang normal. Ini adalah ide baru. "Pada tahun 1950-an dan 1960-an, tak seorang pun di Skotlandia yang bekerja di kantor yang berbahasa Gaelik," kata McLeod.

Pikiran mulai berubah. Politisi mulai tertarik pada gagasan Gaelik sebagai motor dalam pembangunan ekonomi, khususnya di daerah pinggiran.

"Dari awal abad ke-19 dan seterusnya, ekonomi Highlands dan kepulauan ada dalam kondisi krisis terus menerus dengan migrasi, penurunan populasi yang serius, keterbelakangan yang serius, dan kemiskinan," kata McLeod.

Tahun 1980-an muncul kebijakan kunci untuk bahasa, dengan peningkatan pendanaan publik untuk seni, budaya, dan pendidikan Gaelik, dan khususnya untuk televisi.

Pada tahun 2005, parlemen Skotlandia di Edinburgh mengesahkan undang-undang untuk mempromosikan dan melindungi bahasa Gaelik sebagai bahasa resmi Skotlandia, dengan tujuan untuk "memberikan rasa hormat yang sama kepada bahasa Inggris."

Sejak itu, pendidikan Gaelik pun berkembang. Bahkan orangtua yang tiba di Skotlandia dari negara-negara seperti Jerman dan Turki pun mengirim anak-anak mereka ke TK dan sekolah berbahasa Gaelik.

Penelitian terbaru oleh Highlands and Islands Enterprise pada tahun 2014 menempatkan nilai ekonomi tahunan Gaelik sekitar £5,6 juta (Rp100 miliar) dan berpotensi berkembang hingga £148,5 juta (Rp2,8 triliun).

Dalam penjualan dan pemasaran, misalnya, bahasa ini dapat meningkatkan persepsi keunikan, keaslian, dan asalnya, sehingga meningkatkan daya tarik bagi pelanggan.

Dengan 18 huruf dalam abjadnya, tidak ada padanan langsung untuk 'tidak' atau 'ya'. Lima suku kata yang diperlukan untuk mengatakan 'tolong' pun sangat berbeda dari bahasa Inggris.

Hal semacam ini memberi akses ke harta karun sejarah yang unik, sastra, lagu dan cerita—dan kosakata untuk mengekspresikan ide-ide yang tidak mudah dikatakan dalam bahasa Inggris.

"Ini semua berkaitan dengan identitas," kata Marsaili MacLeod. "Ini adalah bahasa leluhur saya, generasi kakek dan nenek saya, bahasa tempat dan orang-orang. Bahasa ini memberi saya pemahaman tentang siapa saya dan dari mana saya berasal. "

Bahasa Gaelik memberikan pemahaman tentang lingkungan yang telah dibangun dari generasi ke generasi—dari tanda-tanda alam dan cuaca, hingga tanaman mana yang punya sifat penyembuhan, katanya. "Bahasa pribumi mana pun pasti punya banyak hal untuk diceritakan tentang tempat itu."