Tidur dalam Waktu Cukup Punya Manfaat Tak Terduga untuk Kesehatan


Resep paling populer menyangkut tidur menyatakan bahwa kita membutuhkan waktu tidur ideal selama 8 jam setiap malam. Anjuran itu bahkan kerap dilengkapi dengan berbagai data yang menunjukkan bahwa orang yang kurang tidur bisa mengalami berbagai masalah kesehatan, dari depresi sampai berat badan. 

Namun, kadang-kadang kita melihat orang yang sering kurang tidur, tapi tampak sehat-sehat saja, bahkan bisa hidup sampai tua tanpa banyak masalah kesehatan. Bagaimana penjelasan mengenai hal itu?

Para ahli mengidentifikasi kasus semacam itu sebagai orang yang mengalami mutasi gen DEC2, yaitu orang yang hanya membutuhkan waktu tidur sedikit. Artinya, meski mereka mungkin kurang tidur—jika diukur dengan ukuran normal—namun tubuhnya tidak terlalu terpengaruh hingga tidak mengalami masalah kesehatan. 

Hal itu terjadi karena adanya mutasi pada gen yang disebut DEC2. Kaitan antara gen dengan kebiasaan tidur itu pertama kali diungkapkan oleh ilmuwan dari Universitas California, Ying-Hui Fu, PhD.

“Yang paling menarik buat saya adalah bahwa mutasi gen bisa mempengaruhi kebiasaan,” ujar Ying-Hui Fu. “Semua hal memang tak bisa dijawab karena gen, tapi dalam hal ini sangat jelas susunan gen berpengaruh pada perilaku kita.”

Untuk membuktikan bagaimana gen mempengaruhi kebutuhan tidur, Ying-Hui Fu dan timnya menguji tikus percobaan yang secara genetik didesain untuk membawa gen manusia DEC2. Hasilnya, tikus itu tidur lebih sedikit dan terjaga lebih lama dibandingkan tikus lain. Hasil penelitian itu pun dipublikasikan di jurnal Science edisi Agustus 2009.

Richard Simon, Jr., MD, ahli masalah tidur, menanggapi temuan itu dengan menyatakan bahwa umumnya orang membutuhkan tidur yang cukup untuk mendapatkan tubuh yang bugar. “Orang yang tidur kurang dari 8 jam termasuk minoritas, karena faktanya waktu tidur yang kurang bisa membuat hidup kacau.”

Meski dampak mutasi gen DEC2 adalah hal yang berkaitan dengan kebutuhan tidur seseorang, namun sebagian ahli berpendapat hal itu hanyalah satu dari rangkaian proses tidur yang sangat kompleks. Mehdi Tafti, PhD., peneliti masalah tidur dan genetik dari Universitas Lausanne, Swiss, menyatakan, “DEC2 mungkin adalah mutasi yang sangat jarang.”

Bagaimana pun, kenyataannya, kebanyakan kita akan lebih segar jika tidur dalam jumlah yang cukup, dan kerap merasa kelelahan jika kurang tidur. Lebih dari itu, tidur yang cukup tidak hanya membantu menjaga kesehatan dan kebugaran, namun juga bisa menjadi semacam “cadangan” jika sewaktu-waktu kita harus menghadapi kondisi tertentu yang membuat kita kurang tidur.

Tracy Rupp dan sekelompok tim peneliti dari Walter Reed Army Institute of Research melakukan penelitian menyangkut hal tersebut dengan melibatkan sekelompok responden. Para responden yang terlibat dalam penelitian dibagi menjadi dua kelompok. Selama satu minggu, kelompok pertama diberi waktu tidur yang cukup, sementara kelompok kedua tidur dalam waktu kurang.

Pada minggu berikutnya, semua responden dibuat kurang tidur. Setelah itu, kedua kelompok responden diminta mengerjakan tugas dan tes. Responden dari kelompok yang tidur dalam waktu cukup terbukti mampu mengerjakan tes dengan baik saat mereka berada dalam kondisi kurang tidur. Konsentrasi mereka juga lebih baik dibandingkan kelompok kedua yang kurang tidur.

Berdasarkan penelitian itu, kita melihat bahwa tidur yang cukup bisa membantu kita jika sewaktu-waktu harus menghadapi kondisi darurat yang membuat kurang tidur, dan harus menghadapi sesuatu yang cukup berat.