Tak Semua Investor Tertarik Berinvestasi di Aset Kripto, Ini Alasannya


Investor kenamaan, Lo Kheng Hong, membeberkan alasannya tidak berinvestasi di aset kripto yang belakangan ini ramai digandrungi kaum muda.

Lo membeberkan keengganannya berinvestasi di aset kripto lantaran tidak adanya aset dasar yang menyertai kripto. Berbeda dengan investasi di saham perusahaan yang mempunyai aset fisik.

"Saya tidak berinvestasi di kripto dan saya tidak menyesal. Saya tidak berani investasi di kripto, karena kalau saya beli saham ada perusahaan yang menyertainya. Misal saya beli Gajah Tunggal, ada pabrik ban terbesar di Asia Tenggara menyertainya. Tapi kalau saya beli kripto, gak ada asetnya," kata Lo, dalam siniar yang dipublikasikan Syailendra Capital, belum lama ini.

Dia juga menyebut, berinvestasi di aset kripto termasuk investasi dengan risiko tinggi namun dengan potensi imbal hasil yang juga tinggi.

"Bagi saya, saya tidak mau berinvestasi di high risk high gain. Saya maunya di low risk, high gain," ungkapnya.

Investor yang dijuluki ‘Warren Buffet Indonesia’ ini mencontohkan saat membeli saham PT Indika Energy Tbk (INDY) di harga Rp 1.100 per saham, padahal nilai bukunya Rp 1.600.

"Ketika saya beli Indika Energy, nilai buku per saham 1.600 tapi harga sahamnya Rp 1.100, itu kan cuma PBV 0,06%. Itu low risk, high gain. Saya gak akan beli kripto," katanya.

Selain itu, kata Lo, berdasarkan pengalaman yang dia alami selama 30 tahun di pasar modal, investasi di instrumen saham tetap menjadi pilihan terbaik, kendati ia juga mempunyai investasi di aset lain seperti properti.

"Ada sedikit, berbentuk villa. Saya punya villa di Puncak, saya tinggal di sana. Saya tidak investasi di tempat lain, saham is the best choice. Tapi yang saya yakini belum dipercaya 99% masyarakat Indonesia, mereka taruh di bank, properti. Di kepala saya sudah tercantum, saham is the best choice," tandasnya.