Mengenal dan Memahami Water Birth atau Melahirkan di Air


Melahirkan di air, atau yang biasa diistilahkan water birth, mungkin belum terlalu dikenal di negara kita, meski sudah ada ibu hamil yang telah melakukannya. Di beberapa negara Asia lain, metode water birth atau melahirkan di air justru banyak menjadi pilihan ibu yang akan melahirkan.

Di Indonesia, ibu Liz Adianti dianggap sebagai wanita pertama yang melahirkan bayi dengan metode water birth. Ibu Liz Adianti sendiri memilih metode ini karena ingin dapat meminimalisasi atau mengurangi rasa sakit selama melahirkan. Metode water birth memang dipercaya lebih memudahkan proses kelahiran—khususnya mengurangi rasa sakit—jika dibandingkan melahirkan secara konvensional.

Bagaimana sebenarnya water birth ini?

Melahirkan di air tidak bisa dilakukan di sembarang rumah sakit, karena proses ini membutuhkan kolam khusus untuk bersalin yang sengaja didesain untuk tujuan tersebut (birth pool), selain tingkat sterilisasi air juga perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan kemungkinan infeksi bagi si ibu maupun bagi si bayi.  

Kolam untuk melahirkan tersebut biasanya diisi dengan air hangat, dengan suhu antara 36 sampai 37 derajat Celcius, atau kurang lebih sama dengan suhu dalam rahim. Karena ditujukan untuk melahirkan, maka kolam itu pun dibuat senyaman mungkin.

Para pakar kesehatan di bidang ginekolog menyatakan bahwa melahirkan dalam air memiliki kelebihan dibanding metode melahirkan lain. Apabila kebetulan Anda menemukan rumah sakit yang menyediakan metode ini, dan Anda ingin memilih metode ini untuk melahirkan, ada beberapa hal yang perlu Anda ketahui, khususnya manfaat dan risikonya.

Manfaat bagi ibu

Ibu akan merasa lebih rileks, karena semua otot yang berkaitan dengan proses persalinan menjadi elastis.

Metode water birth juga akan memudahkan proses mengejan, sehingga rasa nyeri selama persalinan tidak terlalu dirasakan.

Di dalam air, proses pembukaan jalan lahir akan berjalan lebih cepat.

Manfaat bagi bayi

Menurunkan risiko cedera kepala bayi.

Meskipun belum dilakukan penelitian secara mendalam, namun pakar kesehatan meyakini bahwa lahir dengan metode ini memungkinkan IQ bayi jadi lebih tinggi dibandingkan bayi yang lahir dengan metode lain.

Peredaran darah bayi akan lebih baik, sehingga tubuh bayi akan cepat memerah setelah dilahirkan.

Metode water birth

Water birth murni: Ibu masuk ke kolam persalinan setelah mengalami pembukaan 6 sampai proses melahirkan terjadi.

Water birth emulsion: Ibu hanya berada di dalam kolam hingga masa kontraksi akhir. Sedangkan proses melahirkan tetap dilakukan di tempat tidur.

Risiko

Mengenai risiko, sebagian dokter menyatakan bahwa risiko melahirkan dengan metode water birth sama dengan risiko melahirkan dengan cara konvensional, dalam arti water birth tidak memiliki risiko yang lebih besar. 

Karena dilahirkan di dalam air, maka sebagian orang mungkin khawatir si bayi akan memiliki kemungkinan tertelan air. Namun, kekhawatiran itu dianggap tidak perlu, karena tubuh bayi terselimuti oleh lapisan amniotik yang nyaman selama berada di dalam rahim, dan kondisi air yang hangat tempatnya dilahirkan memiliki suhu yang tak jauh beda dengan rahim.

Namun, meski begitu, melahirkan lewat water birth tetap membutuhkan bantuan dokter kebidanan dan kandungan, juga spesialis anak yang akan dapat melakukan pengecekan langsung pada saat si bayi lahir. Sehingga apabila ada masalah atau gangguan, dapat segera terdeteksi dan diatasi.

Kemudian, risiko lainnya adalah hipotermia atau suhu tubuh yang terlalu rendah dapat dialami si bayi, apabila si ibu mengalami proses melahirkan yang berlangsung lebih lama dari perkiraan. Selain itu, bayi juga dapat berisiko mengalami temperature shock, apabila suhu air tidak sama dengan suhu dalam rahim yang 27 derajat Celcius.