Mengapa Kemaluan Cowok Disebut ‘Burung’? Ternyata Ini Jawabannya


Sudah jadi rahasia umum, kalau penis atau kemaluan cowok kerap disebut “burung”. Penyebutan itu bisa jadi dimaksudkan untuk menghaluskan ucapan, karena menyebut “penis” secara langsung bisa jadi membuat risih sebagian orang. Namun, yang aneh, bagaimana istilah “burung” itu bisa dilakukan atau bahkan disepakati semua orang di mana pun?

Menyebut kemaluan cowok dengan istilah “burung” tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di negara-negara lain. Masing-masing negara, dengan bahasa berbeda, memang menyebut kemaluan cowok dengan istilah masing-masing. Namun, anehnya, istilah-istilah yang digunakan itu juga merujuk pada unggas, lebih spesifik pada burung.

Jadi, mengapa kemaluan cowok disebut “burung”?

Pengasosiasian penis dengan unggas, sebenarnya, sudah terjadi sejak ratusan lalu. Ihwal penggunaan kata unggas dalam mengasosiasikan penis sebenarnya tak hanya terjadi di Indonesia. Dan, bisa jadi penggunaan dalam bahasa Indonesia lahir karena pengaruh dari luar. 

Masyarakat Amerika Serikat, misalnya, punya kata “cock” untuk menyebut penis. Awalnya, kata tersebut hanyalah bagian dari bahasa slang—ragam bahasa tidak resmi dan belum baku, dan bisa jadi sifatnya musiman. 

Mundur ke ratusan tahun yang lalu. Penggunaan kata unggas untuk mengasosiasikan penis diyakini muncul pada abad ke-12. Seorang penulis dan konsultan untuk kantor kabinet Britania Raya, Mark Harrison, pernah menulis bahwa istilah “a male chicken” atau “ayam jantan” sudah dipakai sejak abad ke-12. Hingga abad ke-15, istilah tersebut menjadi cukup umum di masyarakat.

Vivek Sharma meyakini, pengistilahan unggas pada penis berasal dari Jerman, dengan sebutan ‘burung jantan’. Selain itu, Sharma juga menjelaskan adanya kemiripan karakteristik saat kedua hal (penis dan unggas) sama-sama dalam postur tegak. Tak heran kalau penis diasosiasikan dengan unggas, memang karena banyaknya kemiripan.

Di beberapa negara, sejak dari zaman dahulu kala, ayam jantan sering digunakan sebagai simbol maskulinitas. Kemudian, entah bagaimana prosesnya, pengasosiasian penis dengan unggas meluas ke berbagai penjuru dunia, dan jadi kesepakatan bersama masyarakat dunia.

Selain Jerman dan Amerika Serikat yang telah disebutkan tadi, pemakaian kata slang unggas untuk penis kini sudah bisa ditemui di berbagai negara, tanpa kecuali di Indonesia. Misal Spanyol yang punya istilah pajaro (burung), pavo (kalkun), atau polla (ayam). Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Sebenarnya, penggunaan kata burung sudah bukan hal yang asing lagi. Beberapa suku seperti Sunda dan Jawa pun mengenal istilah “manuk” sebagai pengasosiasian untuk penis. Mungkin atas dasar pengetahuan yang sudah meluas itulah, yang membuat ‘burung’ bukan lagi kata slang di Indonesia.

Kalau mau sedikit membuktikan dan tak malas, coba periksa Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kalian bakal menemukan arti yang tak hanya menjelaskan bahwa burung adalah hewan. Jangan kaget jika menemukan arti lain dari burung adalah ‘kemaluan laki-laki’. 

Seperti dijelaskan sebelumnya, pengasosiasian penis dengan unggas terjadi karena adanya kemiripan di antara keduanya:

Pertama, penis dan burung punya leher yang cukup panjang, dan lebih kecil dari badannya. Dari segi bentuk leher, sudah jelas kemiripan unggas dengan alat kelamin cowok.

Kedua, burung termasuk unggas yang berkembang biak dengan cara bertelur. Telur tersebut tentu sangat berguna dalam rangka menjaga kelestarian keturunannya. Untungnya, cowok pun memilikinya, dan menjadi bagian penting dari penis dalam rangka melestarikan keturunan. Kalau burung bisa bertelur banyak, penis hanya punya dua. Dua ‘telur’ tersebut amat penting, sebab di sanalah produksi sperma terjadi.

Ketiga, penis dan burung sama-sama punya bulu. Hanya saja, ada banyak perbedaan. Bulu-bulu di penis lebih tepat disebut rambut. Tapi kita kerap susah membedakan bulu dengan rambut, jadi kita sepakati saja kalau itu bulu. 

Keempat, tak hanya kucing atau anjing yang suka mendapatkan elusan. Unggas pun begitu. Tengok saja ayam jago atau burung merpati yang kerap ditenteng orang-orang. Si burung pasti bakal merasakan kenyamanan dan membuatnya jinak. Pun dengan penis. Paling suka mendapatkan elusan. 

Kelima, burung dan penis sama-sama bisa mematuk. Apalagi kalau menemukan makanannya. Bedanya, ketika cewek dipatuk burung, sakitnya bisa hilang dalam beberapa detik. Sedangkan kalau dipatuk penis, efek patukannya bisa sampai sembilan bulan.