Mengapa Banyak Orang Percaya Teori Konspirasi? Ini Penjelasan Ahli


Faktanya, banyak orang mempercayai teori konspirasi—peristiwa yang dirancang untuk terjadi, namun siapa perancangnya tidak pernah jelas, sebagaimana tujuannya juga tidak pernah jelas. 

Mempercayai teori konspirasi, bagi mereka, adalah cara memahami sesuatu yang penjelasan logisnya tidak mampu memuaskan mereka. Dengan mempercayai teori konspirasi, mereka seperti mendapatkan jawaban atas pertanyaan mereka, meski jawaban itu sama tidak jelas.

Mempercayai teori konspirasi, sebagaimana teori konspirasi itu sendiri, mungkin terkesan absurd. Namun faktanya banyak orang yang percaya.

Pada tahun 2015, para pakar politik menemukan bahwa sekitar setengah warga Amerika Serikat mendorong setidaknya satu teori konspirasi. Isinya bisa apa pun: mulai dari Illuminati sampai konspirasi tentang di mana Obama lahir, atau keyakinan yang dipegang luas bahwa peristiwa 9/11 merupakan perbuatan orang dalam badan intelijen AS.

"Teori konspirasi tidak berwajah tunggal," kata Viren Swami, profesor psikologi sosial di Anglia Ruskin University. "Ada perspektif yang berbeda-beda tentang mengapa orang percaya pada teori-teori ini, dan itu tidak harus begitu khusus - jadi bentuk penjelasan yang paling sederhana adalah orang-orang yang percaya teori konspirasi menderita semacam psikopatologi."

Kesimpulan lain yang ditarik para peneliti adalah teori-teori ini dapat memberikan cara rasional untuk memahami kejadian yang membingungkan atau mengancam harga diri. 

"Mereka memberi penjelasan yang sangat sederhana," tambah Swami, yang dalam penelitian menyimpulkan bahwa orang-orang yang percaya pada teori konspirasi lebih cenderung menderita stres daripada orang-orang yang tidak percaya. 

Psikolog lain juga menemukan bahwa orang dengan tingkat pendidikan tinggi cenderung tidak percaya pada teori konspirasi.

Gambaran yang muncul dari mereka tentang Amerika modern adalah gambaran gelap, terutama bagi Swami yang telah melihat perubahan pada orang-orang yang biasanya mempromosikan bahan konspirasi. Di Asia Selatan, khususnya, teori konspirasi telah menjadi mekanisme bagi pemerintah untuk mengusasai rakyat.

Di Barat, biasanya justru sebaliknya; mereka menjadi subyek orang-orang yang tak berdaya, yang tak punya kekuasaan, dan ketakberdayaan itu yang menimbulkan teori konspirasi untuk menantang pemerintah. Seperti terjadi pada teori menyangkut peristiwa 9/11. Pada orang yang tidak berdaya, teori konspirasi dapat menabur benih protes sosial dan membuat orang bisa mempersoalkan sesuatu.

"Namun terjadi perubahan sekarang dengan politisi, terutama Donald Trump, yang mulai menggunakan konspirasi untuk memobilisasi dukungan."

Presiden Amerika Serikat ke-45 ini juga terkenal lantang sebagai penganut 'birther', teori bahwa Presiden Obama tidak benar-benar lahir di Hawaii, atau di tanah AS mana pun, dan karenanya tidak konstitusional untuk menjabat presiden.

Dia juga menuduh terjadinya berbagai kecurangan dalam pemilihan umum 2016 yang ia menangkan sendiri, dan tim kampanyenya bertanggung jawab dalam menyebarkan kabar yang kemudian terbukti palsu seperti Pizzagate dan Pembantaian Bowling Green.

Kisah tentang adanya elit rahasia yang tak tersentuh pasti bergema di kalangan orang-orang yang merasa ditinggalkan dan tidak berdaya; Trump mengatakan bahwa ia ingin mewakili orang-orang ini, terutama dikawasan Jalur Karat (Rust Belt) Amerika yang pernah sangat kuat.

Namun, bukannya merasa lebih terwakili di ruang kekuasaan oleh seorang non-politisi seperti mereka - dan secara teoritis akan merasa kurang tidak berdaya dan rentan terhadap terori konspirasi - sepertinya banyak orang Amerika justru lebih banyak lagi yang mempercayai cerita-cerita konspirasi.