Kisah Penemuan Kembali Kitab Kuno yang Telah Hilang Selama 500 Tahun


Buku-buku atau kitab-kitab yang mengandung teks/tulisan dari zaman kuno tidak hanya penting sebagai koleksi, namun juga penting sebagai bukti sejarah. Melalui teks-teks kuno yang tersimpan dalam buku atau kitab kuno, orang-orang zaman sekarang bisa mempelajari apa saja yang terjadi di zaman kuno, serta bagaimana peradaban di masa lalu menjalani kehidupan.

Karena itu pula, berbagai pihak pun berupaya untuk menyelamatkan buku atau kitab kuno semacam itu. Termasuk sebuah kitab yang disebut Lyghfield.

Lyghfield adalah kitab kuno dari abad ke-13, dan kitab itu telah hilang selama 500 tahun. Belakangan, kitab tersebut dikembalikan ke perpustakaan Katedral Canterbury di Inggris. Kitab Lyghfield hilang pada abad ke-16, ketika Henry VIII memerintah Inggris dan memimpin Reformasi Inggris untuk memisahkan Gereja Inggris dari Gereja Katolik Roma. 

Pada saat itu, ratusan biara dibubarkan, termasuk Katedral Canterbury. Katedral Canterbury sebelumnya telah menjadi tempat ibadah selama 1.400 tahun, dan menjadi "gereja induk" dari Komuni Anglikan. Selain itu, katedral ini juga merupakan tempat tinggal Archbishop of Canterbury, pendeta senior di Gereja Inggris. 

Dilansir dari Live Science, kitab Lyghfield dan sebagian besar dari 30.000 volume koleksi buku yang disimpan di katedral tersebut hilang pasca reformasi tersebut. Menurut pihak Katedral Canterbury, hanya 30 jilid dari koleksi asli yang masih tersimpan di perpustakaan. 

Siapa sangka, pada bulan Juli 2018, Katedral menemukan kitab tersebut dijual di penjualan buku langka di London. Pihak gereja pun membelinya seharga 100.000 poundsterling atau sekitar 1,9 miliar rupiah, dengan menggunakan dana hibah dari National Heritage Memorial Fund dan sumbangan lainnya. 

Menurut Katedral, kitab ini diperkirakan dibuat di Paris, yang pada abad pertengahan dikenal sebagai salah satu pusat percetakan. Kitab ini ditulis dalam bahasa Latin pada kertas perkamen, dan didekorasi secara mendetail. 

Saat ini, Lyghfield adalah satu-satunya kitab yang lengkap dalam koleksi buku abad pertengahan yang dimiliki katedral. 

“Kitab ini memberi kesaksian tentang pergolakan Reformasi, masa yang mendefinisikan apa jadinya katedral hari ini, dan akan memiliki peran kunci dalam menceritakan kisah kita kepada pengunjung,” jelas Cressida Williams, Kepala Arsip dan Perpustakaan di Katedral Canterbury. 

Lyghfield dan teks-teks kuno lainnya, yang disimpan di Katedral, sekarang masuk ke dalam Memory of the World Register UNESCO.