Kisah Manusia yang Mampu Mengalahkan Kecerdasan Buatan


Sejak lama telah diprediksi bahwa akan tiba suatu hari kelak ketika kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) akan memiliki kemampuan manusia, termasuk dalam cara berbicara atau berkomunikasi. Di masa depan, menurut prediksi tersebut, manusia dan kecerdasan buatan akan sangat sulit dibedakan, khususnya jika kita tidak melihat sosok yang bercakap-cakap dengan kita.

Dari prediksi itu pula, muncul kompetisi tahunan, yang disebut Loebner Prize, yang mempertandingkan antara manusia dengan kecerdasan buatan, dan juri akan memilih mana yang benar-benar manusia dan mana yang hanya kecerdasan buatan. Faktanya, kecerdasan buatan memenangkan kompetisi itu beberapa kali!

Meski begitu, ada pula manusia yang akhirnya bisa mengalahkan kecerdasan buatan dalam kompetisi itu. Namanya Brian Christian, seorang penulis dan penyair. Dia menjadi pemenang penghargaan “Manusia Paling Manusiawi”, setelah mengalahkan kecerdasan buatan dan peserta manusia lainnya, dalam kompetisi tahunan Loebner Prize.

Didasarkan pada ujian Turing yang diciptakan oleh Alan Turing pada tahun 1950, Loebner Prize adalah sebuah kompetisi yang memberikan penghargaan bagi kecerdasan buatan dan manusia paling manusiawi.

Para juri manusia berbicara dengan kecerdasan buatan dan manusia lainnya melalui komputer. Keduanya harus meyakinkan juri bahwa mereka manusia untuk memenangkan kompetisi ini.

Menurut Turing, yang merupakan seorang ilmuwan komputer, pakar matematika, pakar biologi teori, dan filsuf, kecerdasan buatan pada 2000-an akan sangat canggih dan berperilaku layaknya manusia. Bahkan, setelah berbicara selama lima menit, 30 persen dari juri manusia akan lupa lawan bicara mana yang manusia dan mana yang kecerdasan buatan.

“Aku masih ingat, momen ketika aku menyadari bahwa hal ini bukan sekadar ide yang dituangkan oleh Alan Turing ke dalam laporannya, tetapi sebuah kompetisi tahunan yang diadakan oleh Hugh Loebner,” kata Christian dalam wawancaranya bersama Quartz.

“Jadi, aku mendaftarkan diri sebagai manusia yang duduk di balik tirai dan mengetik, berusaha untuk meyakinkan para juri bahwa aku benar-benar manusia,” ujarnya lagi.

Meskipun tim yang mengadakan Loebner Prize menyuruh Christian untuk bersantai dan tidak mempersiapkan apa-apa karena dia seorang manusia, Christian tidak merasa tenang.

Dia pun mempelajari semua percakapan dalam kompetisi-kompetisi sebelumnya. Lalu, ketika persiapan itu dirasanya belum cukup, Christian pergi menemui psikolog, ahli bahasa, filsuf, ilmuwan komputer, pakar kencan, dan orang-orang lain yang terlatih dalam komunikasi manusia.

“Aku bertanya kepada mereka semua, satu pertanyaan yang sama: ‘Apa fitur paling khas dari komunikasi manusia?’” ujarnya.

Ternyata, untuk menunjukkan bahwa dia bukan hanya skenario yang sudah disiapkan sebelumnya, Christian harus menjawab semua pertanyaan juri, seaneh apa pun pertanyaan tersebut, dengan cekatan.

Lalu, agar tidak dikira ensiklopedia elektronik yang digabung dari berbagai macam transkrip, Christian juga harus membuktikan bahwa dia adalah orang yang sama sepanjang percakapan.

Untungnya, prediksi Turing belum terjadi. Hingga detik ini, belum ada satu pun kecerdasan buatan yang berhasil lulus ujian Turing, walaupun beberapa, seperti Mitsuku dan Rose, hampir mendekati. Kedua chatbot tersebut telah menyabet Loebner Prize.

Mengutip filsuf Oxford John Lucas, pemenang “Manusia Paling Manusiawi” ini berkata, bahwa jika ada mesin yang lulus ujian Turing, hal itu bukan karena mesin tersebut terlalu cerdas, tetapi karena manusia telah menjadi terlalu kaku.

Christian menjelaskan, kita telah mengganti interaksi tatap muka dengan telepon, kemudian kita mengganti percakapan di telepon dengan e-mail. Setelah itu, kita menggantinya lagi dengan pesan singkat, dan kini kita mengganti pesan singkat dengan emotikon.

“Dalam berinteraksi dengan sesama, kita terus-menerus bergerak menuruni tiang totem bandwith. Ini bukanlah dunia di mana ujian Turing akan bertahan untuk waktu yang lama,” ujarnya.