Kisah 9 Aksi Memaafkan yang Paling Menyentuh dan Menakjubkan (Bagian 1)


Seorang ibu memaafkan orang yang telah membunuh putranya. Seorang mantan tahanan kamp konsentrasi mengadopsi cucu komandan Nazi, yang telah menyiksanya. Seorang wanita memaafkan orang yang telah menembak wajahnya. Itu hanya sebagian kecil dari kisah-kisah nyata terkait aksi memaafkan yang luar biasa menakjubkan.

Tidak setiap manusia memiliki keberanian untuk meminta maaf. Begitu pun, tidak setiap manusia memiliki kemampuan untuk memberi maaf. Sembilan kisah luar biasa ini bisa menjadi pelajaran yang membuka hati kita.

Ibu yang memaafkan pembunuh putranya yang akan digantung

Lilitan tambang siap menjerat leher Balal. Sesaat lagi, pria Iran itu segera digantung. Keluarga korban yang dibunuhnya diberi kesempatan mendorong kursi tempatnya bertumpu.

Balal adalah terpidana mati kasus pembunuhan. Pria berusia 20-an tahun itu menikam Abdollah Hosseinzadeh (18) di tengah tawuran di jalanan kota Royan, di Provinsi Mazandaran.

Namun, yang terjadi kemudian sama sekali tak disangka. Ibu korban tiba-tiba menghampirinya, menampar pipinya keras-keras, tapi memaafkan orang yang telah membunuh anaknya itu. Sementara ayah korban melepas jerat yang melilit lehernya. Nyawa Balal tak jadi melayang.

Foto-foto yang diambil Arash Khamooshi, dari kantor berita semi-pemerintah, Isna, menunjukkan ibu Balal memeluk ibu korban. Dua perempuan itu saling berpelukan dan menangis—yang satu telah kehilangan anak, lainnya mendapatkan putranya kembali.

Tahanan kamp konsentrasi yang 'mengadopsi' cucu komandan Nazi

Di usianya yang ke-80 tahun, Eva Mozes Kor telah berdamai dengan masa lalunya. Juga dengan orang-orang yang pernah menyakitinya. Termasuk Nazi. Nenek baik hati itu bahkan mengadopsi Rainer Hoess, cucu Rudolf Hoess, komandan pasukan SS di kamp Auschwitz, tempatnya dulu pernah dikurung.

Ia menganggap pemuda itu sebagai cucunya sendiri. Kala itu, Eva dan kembarannya, Miriam, dimasukkan paksa ke truk pengangkut ternak. Mereka dibawa ke kamp konsentrasi Auschwitz bersama anggota keluarganya yang lain.

Keduanya berhasil selamat, meski harus menjalani eksperimen medis yang dilakukan Dr. Joseph Mengele, yang tenar dengan julukan "Angel of Death", Malaikat Kematian.

Eva dan Miriam termasuk 200 orang dari 1.500 yang selamat dari kekejaman kamp Auschwitz, saat pasukan Uni Soviet membebaskan mereka pada Januari 1945. Tapi tidak untuk anggota keluarganya yang lain.

Beberapa dekade kemudian, Eva menerima email dari Rainer, kini 49 tahun, yang merasa jijik dengan kekejaman yang dilakukan kakeknya, dan putus hubungan dengan keluarganya yang memilih tutup mulut sekian lamanya.

Rainer meminta Eva untuk menjadi nenek angkatnya. Setelah bertatap muka, perempuan itu pun bersedia. "Aku bangga menjadi neneknya. Aku mengagumi dan mencintainya," kata dia.

Narapidana tak bersalah yang memaafkan penghasutnya

Ricky Jackson mendekam dalam penjara selama 39 tahun. Ia baru menghirup udara bebas pada 2014, saat berusia 57 tahun. Untuk kesalahan yang tak pernah ia lakukan.

Hebatnya, ia memaafkan orang yang telah menggiringnya ke penjara.

Pada tahun 1975, Jackson dan dua temannya ditangkap atas pembunuhan seorang penagih utang di sebuah toko di Cleveland, Ohio. Akibatnya, 2 di antara mereka, Jackson and Kwame Ajamu, ditahan selama 39 tahun. Dasar penahanan mereka adalah pengakuan saksi mata Eddie Vernon, yang saat kejadian baru berusia 12 tahun.

Belakangan terungkap, kesaksiannya palsu.

Saat menua, rasa bersalah makin besar dalam diri Vernon. Ia akhirnya mengaku pada seorang pastor bahwa ia telah berbohong pada polisi, jaksa, juga para juri di pengadilan. Atas dukungan sang pastor, Vernon menarik kembali kesaksiannya. Jackson dan Ajamu dibebaskan pada 2014.

Pada akhir 2014, Ricky Jackson dan Vernon bertemu. Yang luar biasa, tak ada kepahitan dalam pertemuan itu. Jackson tak menyalahkan penghasutnya. Ia memaafkannya. Vernon lega bukan kepalang.

Baca lanjutannya: Kisah 9 Aksi Memaafkan yang Paling Menyentuh dan Menakjubkan (Bagian 2)