Kehidupan di Bumi Bisa Segera Punah Akibat Ulah Manusia (Bagian 2)


Uraian ini merupakan lanjutan uraian sebelumnya (Kehidupan di Bumi Bisa Segera Punah Akibat Ulah Manusia - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Manusia dikondisikan untuk percaya bahwa menciptakan sesuatu yang baru adalah tujuan hidup yang bermakna dan satu-satunya cara untuk memajukan ambisi mereka. Namun, kita lupa memberi batas.

Teka-teki ini juga belum bisa dipecahkan oleh sains. Mengandalkan solusi teknologi ramah lingkungan saja sudah salah, karena fokusnya masih didasarkan pada hal-hal baru.

Sekalipun kita bisa mengganti semua kendaraan berbahan bakar fosil dengan kendaraan listrik, misalnya, kota-kota di dunia sudah berjuang untuk membatasi ruang untuk mobil.

Selain itu, kendaraan listrik juga meninggalkan jejak karbon akibat proses pembuatannya.

"Akumulasi massa antropogenik terkait dengan perkembangan perkotaan, bersama dengan akibat lingkungan yang terkait," kata Emily Elhacham, salah satu penulis studi Weizmann Institute of Sciences.

"Saya berharap peningkatan kesadaran akan mendorong perubahan perilaku yang akan memungkinkan penemuan titik keseimbangan yang lebih baik. Setiap langkah ke arah ini akan memiliki efek positif."

Lihatlah jejak karbon gawai kita, internet, dan sistem pendukungnya. Apa yang sehari-hari kita pakai ini menyumbang sekitar 3,7% dari emisi rumah kaca global, dan diperkirakan akan berlipat ganda pada tahun-tahun mendatang.

Sangat mungkin untuk mengurangi emisi dengan mengirim satu email yang lebih sedikit atau menghindari berbagi foto yang tidak perlu di media sosial.

Ini mungkin tampak seperti pengurangan yang tidak signifikan dari satu individu, tetapi coba pikirkan jika miliaran tindakan kecil tersebut dilakukan banyak orang bersama-sama.

Perusahaan teknologi besar mengklaim mereka akan ramah lingkungan atau menetapkan tujuan untuk netralitas karbon, tetapi jarang mendorong orang untuk menghabiskan lebih sedikit waktu di media sosial atau memesan lebih sedikit produk.

Sebaliknya, model periklanan dan pemasaran menyampaikan pesan kuat: ciptakan dan konsumsi lebih banyak. Materialisme yang irasional ini tertanam begitu dalam dengan tradisi dan simbol budaya juga.

Di Amerika Serikat, Thanksgiving diikuti oleh karnaval lain yang disebut Black Friday. Selama perayaan ini, antrean panjang pelanggan datang ke mal dan sering terluka atau terinjak-injak karenanya.

Berharap pada teknologi

Di era Antroposen, manusia mungkin merasa berhak untuk menggantungkan harapan pada teknologi untuk memperbaiki masalah apa pun, sehingga mereka dapat terus melakukan apa yang mereka lakukan.

Untuk mengurangi plastik, misalnya, ada inovasi seperti cangkir kopi yang dapat terurai, tas yang bisa dipakai berulang kali, dan sedotan yang dapat digunakan kembali.

Namun, kita tetap memerlukan pendekatan keberlanjutan yang berbeda untuk mengatasi konsumerisme besar-besaran kita.

Pendekatan pasif perkembangbiakan massa antropogenik bukan semata-mata karena kurangnya pengetahuan tentang dampaknya, tetapi secara umum juga berkaitan dengan kecenderungan manusia untuk menepis fakta-fakta yang tidak sesuai dengan pandangan mereka.

Manusia secara alami cenderung mengabaikan masalah yang nampak jauh dari kehidupan sehari-hari atau hal-hal yang mengurangi kenyamanan mereka.

Selain itu, manusia mungkin berpikir alam dapat melengkapi organisme untuk bertahan hidup, apa pun yang mereka lakukan.

Memang benar bahwa evolusi gaya Darwin yang lambat dan bertahap melalui seleksi alam sering kali terjadi di lingkungan tertentu yang sangat tercemar.

Tim ilmuwan di Jepang, misalnya, menemukan jenis bakteri dari fasilitas daur ulang botol yang dapat mengurai dan memetabolisme plastik. Di sisi lain, temuan ini menunjukkan cara-cara manusia mengubah kehidupan di planet ini.

Adaptasi organisme dalam menanggapi polutan merupakan fenomena yang kompleks.

"Dalam jangka panjang, peningkatan massa antropogenik yang berkelanjutan akan menyebabkan hilangnya habitat melalui dislokasi fisik dan perubahan habitat, seperti kontaminasi polutan yang dihasilkan dari produksi dan pembuangan massa antropogenik," kata Alessandra Loria, ahli biologi di McGill University, Kanada, yang menjadi penulis utama studi ini.

Penelitian menunjukkan bahwa efek negatif yang disebabkan oleh polusi seringkali memburuk selama beberapa generasi, meskipun mekanisme penanggulangannya berbeda-beda pada setiap spesies.

Menipisnya sumber daya alam dan keanekaragaman hayati secara cepat bukanlah hal evolusioner normal yang terjadi di alam.

Sementara beberapa spesies pasti dapat beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di lingkungan kita, manusia bukan lagi sekadar spesies yang mengikuti evolusi Darwin, tetapi kekuatan yang jauh lebih besar yang datang untuk mendorong evolusi di planet ini. 

Penelitian telah menunjukkan bahwa untuk sebagian besar spesies, adaptasi evolusioner tidak akan cukup cepat untuk menahan efek perubahan lingkungan yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia. Dan spesies kita sendiri tidak terkecuali.

Meskipun tidak ada bukti bahwa kita akan menghancurkan diri kita sendiri, ada indikasi yang jelas bahwa kita mengabaikan dampak yang mungkin terjadi. Misalnya, beberapa kepunahan massal dalam sejarah bumi terkait dengan pengasaman lautan.

Lautan menyerap sekitar 30% karbon dioksida yang dilepaskan ke atmosfer, yang pada gilirannya meningkatkan keasaman laut. Lautan mungkin menjadi lebih asam, lebih cepat 300 juta tahun terakhir, terutama karena aktivitas manusia.

"Kehidupan manusia akan terpengaruh secara negatif karena hilangnya banyak manfaat keanekaragaman hayati," kata Loria.

Kalah dalam perlombaan evolusi

Dampak manusia terhadap planet ini jauh lebih dalam daripada jejak karbon atau pemanasan global. Efek materi antropogenik akan mengambil alih identitas Bumi dan kehidupannya. Menghadapi hal ini, manusia mungkin kalah dalam perlombaan evolusi.

Menghilangkan bahan seperti beton atau plastik atau menggantinya dengan alternatif, tidak akan mengatasi masalah mendasar, yakni sikap manusia dan nafsu materialisme manusia yang tinggi.

Di sinilah tepatnya materialisme dapat dengan mulus berubah menjadi faktor risiko yang tidak diketahui dalam bencana global. Dengan tidak adanya perisai evolusi yang sepenuhnya aman, kita dapat bergantung pada kecerdasan kita untuk bertahan hidup.

Namun demikian, seperti yang dikatakan Abraham Loeb, profesor sains di Universitas Harvard dan astronom yang mencari peradaban kosmik yang mati, "tanda kecerdasan adalah kemampuan untuk mempromosikan masa depan yang lebih baik".

"Jika kita terus berperilaku seperti ini, kita mungkin tidak akan bertahan lama," katanya. "Di sisi lain, tindakan kita bisa menjadi sumber kebanggaan bagi keturunan kita, jika mereka mempertahankan peradaban yang cukup cerdas untuk bertahan selama berabad-abad yang akan datang.”

Kisah Bhasmasura dalam Mitologi Hindu menawarkan paralel yang menakutkan terkait dampak materialisme.

Sebagai pemuja Dewa Siwa, Bhasmasura mendapat anugerah dari Siwa, yang membuatnya mampu untuk mengubah siapa pun menjadi abu hanya dengan sentuhan di kepala.

Segera setelah mendapatkan kemampuan magis ini, dia mencoba mengujinya pada Siwa sendiri. Siwa berhasil melarikan diri, lanjut ceritanya.

Tetapi manusia mungkin tidak cukup beruntung untuk melarikan diri dari tindakan mereka sendiri. Kecuali, kita bisa menawarkan visi berbeda yang berakar pada pengurangan konsumsi.