Kata Psikolog, Harapan Indah dalam Perkawinan Bisa Berbuah Derita


Apa yang ada dalam benak orang, ketika membahas perkawinan? Umumnya, orang membayangkan hal-hal indah, dari makan bersama sampai tidur bersama, dan menjalani kehidupan bersama. Harapan semacam itu makin menguat pada orang-orang yang sedang jauh cinta pada seseorang, lalu membayangkan perkawinan akan terus mempertemukan mereka, siang dan malam.

Harapan atau ekspektasi semacam itu makin populer, karena selama ini topik-topik terkait perkawinan memang cenderung dibuat serba indah. Orang-orang seperti dibuai bahwa perkawinan adalah surga dunia yang tidak memiliki masalah, bahwa orang pasti bahagia setelah menikah, dan semacamnya. Padahal, realitas perkawinan tidak selalu seperti itu.

Bahkan, harapan yang terlalu tinggi dalam perkawinan bisa berujung penyesalan. Karena nyatanya perkawinan tidak hanya berisi hal-hal indah, tapi kadang juga derita. Ketika harapan tak tercapai, derita yang datang.

Majalah Time melansir, sebuah riset meneliti premis bahwa pasangan masa kini berharap terlalu banyak pada institusi pernikahan. Bahwa hubungan itu dapat memenuhi kebutuhan akan keintiman, otonomi, dan persahabatan.

Untuk mengeksplor premis tersebut, profesor psikologi James McNulty dari Florida State University melacak hubungan 135 pasangan di Tennessee, AS. Mereka dipantau sejak berstatus pengantin baru.

Masing-masing partisipan mengisi survei yang menilai seberapa tinggi standar yang diterapkan, kepuasan mereka dalam pernikahan, serta tingkat masalah pernikahan yang mereka alami.

Periset juga merekam diskusi antarpasangan untuk mengukur tingkat permusuhan pasangan secara tidak langsung: ketika salah satu dari pasangan tidak langsung mengatasi masalah mereka, atau secara tidak langsung menyalahkan pasangannya.

Dua kali setahun, selama empat tahun para pasangan ini melaporkan kepuasan pernikahan pada periset. 

NPR melansir, pasangan yang dalam pernikahannya dapat bekerja sama dengan baik, cenderung merasa bahwa pernikahannya memenuhi ekspektasi kebahagiaan yang tinggi. Pasangan ini secara terbuka bicara tentang sikap pasangan yang tak disenangi, dan apa yang mereka inginkan dari pasangan untuk memperbaikinya.

Tetapi, orang-orang dalam pernikahan di mana pasangannya menempuh jalur permusuhan, secara tidak langsung cenderung merasa ekspektasi mereka tak terpenuhi.

Ini karena pasangan mereka akan menduga-duga apa yang salah. "Pasangan menyampaikan ketidakpuasan tanpa memberi informasi yang jelas bagaimana cara mengatasi masalah yang mendasarinya," kata McNulty.

Jika pasangan seperti ini punya ekspektasi rendah sejak awal, tingkat kebahagiaan mereka tak serta merta menurun secara signifikan. Ekspektasi mereka tetap terpenuhi.

Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana mencocokkan ekspektasi seorang istri, misalnya, dengan kemampuan suami mewujudkannya. McNulty bilang ada dua opsi. "Anda bisa mencoba memperbaiki masalah pernikahan. Apa masalah yang mendasar," imbuhnya.

Jika masalah itu tak bisa diperbaiki? "Anda dapat memahami, menyadari, dan menerima bahwa Anda tak bisa mendapat semua keuntungan yang diharapkan dari sebuah pernikahan," pungkas McNulty.

Kuncinya adalah untuk menjaga ekspektasi. Tetap ada, meski tak terlalu tinggi. Khususnya setelah masa bulan madu telah usai. Riset ini dipublikasikan dalam Personality and Social Psychology Bulletin.