Area Es Terakhir di Kutub Utara Terancam Mencair Akibat Perubahan Iklim


Sebuah studi menemukan bahwa wilayah Kutub Utara yang disebut 'Area Es Terakhir' mungkin lebih rentan terhadap perubahan iklim, demikian disampaikan oleh para ilmuwan.

Dikutip dari Live Science, zona beku ini terletak di bagian utara Greenland menyusut secara musiman, sebagian besar es laut di sana semula dianggap cukup tebal untuk bertahan.

Namun, selama musim panas tahun sebelumnya, Laut Wandel di bagian timur area ini kehilangan 50% es di atasnya, membawanya ke titik terendah sejak pencatatan dimulai.

Dalam studi, para peneliti menemukan bahwa kondisi cuaca mendorong penurunan tersebut, tetapi perubahan iklim memungkinkan hal itu dengan secara bertahap menipiskan es yang telah lama ada di daerah itu dari tahun ke tahun.

Area ini membentang lebih dari dua ribu kilometer dan menjangkau dari pantai utara Greenland ke bagian barat Kepulauan Arktik Kanada. Di sana, es laut berusia setidaknya lima tahun dengan ketebalah sekitar empat meter.

Dalam beberapa dekade terakhir, arus laut telah memperkuat lapisan es di Area Es Terakhir dengan bongkahan es laut yang mengambang.

Pencairan yang Akan Terus Berlanjut

Tetapi para peneliti menemukan bahwa angin utara membawa es menjauh dari Greenland, dan menciptakan bentangan perairan terbuka yang dihangatkan oleh matahari.

Air yang sudah dipanaskan tersebut kemudian beredar di bawah es laut untuk mendorong pencairan lebih banyak lagi, kata penulis utama studi itu, Axel Schweiger, ketua Pusat Sains Kutub Universitas Washington.

Hal ini tidak akan terjadi jika perubahan iklim belum terjadi di Area Es Terakhir. Sekitar 20% dari hilangnya es pada tahun lalu dapat secara langsung dikaitkan dengan perubahan iklim, sementara 80% terkait dengan anomali angin dan arus laut.

Hilangnya es ini sudah mempengaruhi hewan yang tinggal di Kutub Utara seperti beruang kutub, dan anjing laut, "dan terkadang paus narwhal," jelas Laidre.

Walau studi baru tidak mengatakan kapan area tersebut akan mencair sepenuhnya, pencairan diperkirakan akan terus berlanjut, menurut Schweiger.