5 Album Musik dengan Biaya Produksi Termahal di Dunia


Setiap musisi, entah penyanyi solo maupun grup musik, menyuguhkan karya mereka dalam bentuk album. Dulu, sebelum era digital seperti sekarang, album musik banyak dikemas dalam CD (compact disk) atau dalam kaset pita. Dalam satu album biasanya terdapat 8 sampai 12 lagu yang dibawakan musisi bersangkutan.

Proses penggarapan sebuah album membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Selain harus menyewa studio, pembuatan album juga kadang harus membayar para pencipta lagu yang terlibat, komposer, penata musik, dan lain-lain. 

Karenanya, biaya itu kadang makin membengkak, khususnya jika menggunakan studio dan orang-orang kelas satu. Berikut ini adalah lima album musik yang disebut-sebut menghabiskan biaya terbanyak atau termahal.

1. 'Loveless' - My Bloody Valentine

Album kedua dari band shoegaze asal Irlandia, My Bloody Valentine, kerap disebut-sebut memiliki ongkos produksi yang tidak main-main. Sebab, album tersebut menghabiskan sekitar 500 ribu dolar AS, atau sekitar Rp 970 juta, sesuai nilai tukar pada tahun 1991 saat album itu rilis.

Uang tersebut dialokasikan untuk proses rekaman, yang kabarnya berlangsung di 20 studio dan sejumlah teknisi. Meski demikian, gitaris Kevin Shields tidak membenarkan angka tersebut.

2. 'Chinese Democracy' - Guns N' Roses

Menghabiskan waktu produksi selama lebih dari satu dekade, membuat album yang akhirnya dirilis pada 2008 ini termasuk salah satu dengan ongkos tertinggi. Sebab, jika diakumulasikan hingga tahun perilisannya, album keenam Guns N' Roses itu dikabarkan telah menghabiskan total 13 juta dolar AS (Rp 142 miliar, kurs 2008).

Total uang itu merupakan akumulasi untuk bayaran setiap personel, teknsi, perangkat lunak pendukung rekaman, studio, serta produser yang terus berganti-ganti.

3. 'My Beautiful Dark Twisted Fantasy' - Kanye West

West menggarap album studio kelimanya ini saat sedang mengasingkan diri di Hawaii pada tahun 2009. Total dana yang dihabiskan West dalam proses rekaman album yang dirilis pada 2010 ini mencapai 3 juta dolar AS (Rp 28 miliar, kurs 2009). 

Selain menjalani proses rekaman selama hampir 24 jam non-stop setiap hari di Avex Recording Studio, Hawaii, ia juga melanjutkan sebagian proses rekamannya di California dan New York. 

4. 'One By One' - Foo Fighters

Setelah mendapatkan respons cukup positif pada album 'There Is Nothing Left to Lose', Foo Fighters kembali dengan album keempat yang bertajuk 'One By One' pada Oktober 2002.

Album yang direkam setelah gitaris Chris Shiflett pada formasi band itu sempat mengalami perombakan besar. Ketidakpuasan para personel dengan 10 lagu yang telah ada dalam demo sebelumnya, membuat mereka harus merekam ulang semua materinya selama empat bulan di studio, dengan menghabiskan lebih dari 1 juta dolar AS (Rp 8,9 miliar, kurs 2002).

5. 'A Night At The Opera' - Queen

Album yang populer dengan track ikonis berjudul 'Bohemian Rhapsody' tersebut, dirilis Queen sebagai album studio keempat, pada November 1975. Karya ini disebut sebagai salah satu album rock termahal pada masanya, karena menghabiskan lebih dari £40,000 untuk dana produksinya.