10 Film Terbaik tentang Dunia Jurnalistik yang Perlu Ditonton (Bagian 1)


Wartawan mungkin salah satu profesi paling menarik di dunia. Jika tidak menarik, Hollywood pasti ogah membuat film bertema kewartawanan. Nyatanya, Hollywood menghasilkan sejumlah film wartawan yang asyik. Menonton film-film ini, Anda mungkin akan kepincut dengan asyiknya kerja jurnalistik.  

Bagi Anda yang ingin jadi wartawan, ada baiknya menonton film-film ini. Bagi yang sudah jadi wartawan, film-film ini bisa jadi pegangan maupun pembangkit semangat kerja kewartawanan.

1. All The President’s Men (1976)

Sejak skandal Watergate terjadi pada 1974, bahasa Inggris (Amerika) punya kosakata akhiran baru. Setiap skandal yang melibatkan pemerintah AS pasti diberi akhiran “gate” di belakangnya. Presiden Reagan punya Iran-gate. Clinton punya Zipper-gate saat skandal cintanya dengan Monica Lewinsky muncul ke publik. 

Alan J. Pakula merunut lagi investigasi duo wartawan Washington Post, Bob Woodward (Robert Redford) dan Carl Bernstein (Dustin Hoffman), atas skandal yang ujungnya membuat Presiden Richard Nixon mengundurkan diri itu. Inilah cerita detektif paling seru yang detektifnya bukan polisi, melainkan wartawan.

“Follow the money,” kata sumber anonim mereka, Deep Throat. Woodward dan Bernstein mewawancarai banyak orang hingga memelototi kartu perpustakaan yang menggunung.

2. The Killing Fields (1984)

Film ini dikenang orang bukan sebagai film tentang kewartawanan, melainkan tentang bagaimana kekejaman rezim Polpot membantai rakyatnya sendiri di Kamboja pertengahan tahun’70-an lampau. 

Film ini adalah kisah sejati persahabatan antara wartawan New York Times dan penerjemahnya, Dith Pran, di tengah kekacauan Kamboja saat itu. 

Sang wartawan New York Times memperoleh hadiah Pulitzer berkat laporannya yang dikerjakan bareng Pran, di saat sahabatnya itu disiksa lahir batin di ladang pembantaian. Beruntung film ini berakhir manis, dengan lantunan lagu.

3. Under Fire (1983)

Alkisah, di Nikaragua akhir 1970-an, pemberontak Marxis gerilyawan Sandinista tengah berjuang menggulingkan pemerintahan Samoza yang pro AS.

Kontan Nikaragua jadi gula bagi wartawan yang datang menyemut. Termasuk fotografer andal, Russell Price (Nick Nolte). Di tangah perang, Price dihadapkan pada pilihan sulit.  Ia diminta pemberontak memfoto Rafael yang sudah mati, kelihatan hidup agar perjuangan bisa diteruskan. 

Jurnalisme yang mengagungkan fakta dan kejujuran tentu mengharamkan itu. Tapi ini bukan lagi soal jurnalisme atau berita eksklusif, tapi nasib puluhan juta rakyat Nikaragua.

4. Shattered Glass (2003)

Muda, pintar, berbakat, dan pembohong besar. Itulah Steven Glass (Hayden Christensen), wartawan cemerlang dari majalah New Republic, majalah bergengsi yang jadi bacaan resmi di Air Force One, pesawat kenegaraan presiden AS. 

Siapa sangka, banyak berita berbobot yang ditulisnya adalah hasil rekaan—entah semua atau separuhnya. Film ini mengajarkan dengan baik bagaimana kebohongan bisa menjadi adiksi.

5. The Insider (1999)

60 Minutes, acara berita liputan mendalam di stasiun TV CBS, punya reputasi tinggi di AS yang hasil liputan-liputannya tak hanya jarang terlampaui oleh media sejenis, tapi oleh media apapun (cetak, online, atau lainnya). Tapi, suatu kali mereka juga pernah keseleo.

Film ini merekam saat-saat 60 Minutes yang terhormat itu membiarkan sumber beritanya terkatung-katung sendirian. Para petingginya memilih tak menyiarkan berita soal kecurangan petinggi perusahaan rokok, guna menghindari tuntutan. Ya, memang tak ada gading yang tak retak. Tapi kadang retakan gading itu justru yang akan dikenang terus.

6. Welcome to Sarajevo (1997)

Wartawan yang diterjunkan ke medan konflik pasti menemukan dilema. Ia jadi saksi bagaimana nyawa manusia begitu mudah melayang diterjang peluru. Tapi, apa iya sang wartawan yang hadir di sana hanya jadi saksi, lalu memberitakannya pada dunia, dan melenggang pulang seolah tak terjadi apa-apa? 

Wartawan juga manusia. Ia punya hati nurani. Film ini memperlihatkan saat-saat wartawan memakai hati nuraninya. Seorang wartawan Inggris (diperankan Stephen Dillane), tak hanya memberitakan konflik Perang Bosnia-Serbia yang diliputnya. Ia juga ikut menyelamatkan anak-anak yang terjebak di tengah perang. Seorang di antaranya ia adopsi dan dibawa pulang ke Inggris.

Baca lanjutannya: 10 Film Terbaik tentang Dunia Jurnalistik yang Perlu Ditonton (Bagian 2)