Tips Berinvestasi yang Aman dan Menguntungkan untuk Pemula


Tujuan investasi tentu untuk mendapatkan untung dari uang yang diinvestasikan. Namun, tidak jarang, orang yang berinvestasi justru kehilangan uang investasinya karena tertipu perusahaan abal-abal atau karena terbujuk rayuan imbal hasil yang besar.

Bagaimana pun, investor tentu ingin mendapatkan keuntungan yang besar dari investasi yang dilakukan. Namun, perlu dicermati bahwa keuntungan yang tidak masuk akal (terlalu besar) justru bisa berbahaya, karena ada kemungkinan itu merupakan penipuan. Sudah banyak kasus terjadi, orang berharap dapat untung besar tapi malah uangnya hilang.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan maraknya investasi bodong karena pemahaman masyarakat terhadap instrumen investasi masih sangat rendah. Mereka rata-rata tergoda dengan keuntungan yang tinggi dengan modal yang rendah.

"Karena masyarakat kita pengetahuannya masih kurang. Untungnya sekian persen, iming-iming 15% untungnya per bulan. Banyak yang begitu di kita," ujar Kepala Bagian Direktorat Pasar Modal Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dien Sukmarini.

Untuk itu, menurut dia, jika masyarakat ingin berinvestasi secara aman, pastikan terlebih dulu bahwa lembaga tersebut resmi tercantum di OJK. Jika masih ragu, bisa langsung menghubungi call center OJK di 021-1500655.

"Pastikan dulu dia resmi enggak di OJK. Kalau enggak, mending enggak usah. Jangan karena iming-iming," kata dia.

Sementara itu, Head Investment Avrist Asset Management, Farash Farich, juga mengatakan hal yang serupa. Menurut dia, yang pertama harus dipahami investor adalah melakukan kroscek, apakah perusahaan investasi itu terdaftar di bawah pengawasan OJK.

"Jika terdaftar, berarti perusahaan investasi tersebut memiliki regulasi. Jika tidak terdaftar, berarti kan tidak ada regulasi yang mengatur jika ada masalah di kemudian hari," kata dia.

Menurut Farash, masyarakat perlu memperhatikan return (keuntungan maupun kerugian yang diperoleh perusahaan dalam satu masa periode). Jika return tidak masuk akal, lebih baik jangan berinvestasi.

"Misalnya, ada perusahaan yang menawarkan suku bunga 10% (per bulan), itu perlu diperhatikan dulu bagaimana perusahaannya. Masuk akal atau tidak," ungkapnya.