Tidak Harus 8 Jam, Waktu Tidur Tiap Orang Bisa Berbeda


Selama ini, kita kerap mendengar bahwa waktu tidur yang ideal adalah 8 jam, yang dilakukan pada malam hari. Setelah tidur selama delapan jam, kita bisa bangun di pagi hari dengan tubuh yang lebih segar.

Tetapi, kenyataannya, ada orang-orang yang meski telah tidur selama delapan jam tapi tetap merasa letih dan tidak segar saat bangun tidur. Sementara itu, ada pula orang-orang yang waktu tidurnya kurang dari delapan jam, tapi merasakan tubuh sudah segar saat bangun.

Karenanya, durasi tidur setiap orang mestinya bisa berbeda. Orang yang banyak beraktivitas atau bekerja keras di siang hari, misalnya, tentu membutuhkan waktu tidur lebih lama dibanding orang yang seharian banyak bersantai. Begitu pula, anak muda, remaja, hingga orang tua, masing-masing tentu memiliki kebutuhan waktu tidur yang berbeda.

Selain itu, ada orang yang memang nyaman bangun pagi, namun ada pula yang justru merasa lebih nyaman saat bangun siang (tentu karena memang tidak aktivitas). Dengan kata lain, memaksa setiap orang harus bangun pagi belum tentu tepat.

Penelitian yang pernah dipaparkan Live Science menyebutkan bahwa jam tidur normal (malam tidur, pagi bangun) bersifat biologis. Artinya, malam memang ditujukan untuk beristirahat. 

Namun ini tak berlaku pada semua orang. Pelaku bangun siang, yang nyaman dengan kebiasaannya meski bersifat anomali, akhirnya jadi tidak nyaman sebab dipaksa untuk mengikuti ritme orang lain.

Secara biologis pula, badan pelaku bangun siang belum siap untuk beraktivitas. Oleh sebab itu, masuk akal jika sejumlah penelitian mengungkap pemaksaan bangun pagi berdampak pada buruknya suasana hati atau turunnya kepuasan hidup. Tidur adalah kenikmatan paling mendasar manusia, dan dianggap sebagai teknik istirahat terbaik. Jika tidur saja tidak puas, maka ketidakpuasan akan berlanjut setelah ia bangun.

Dengan demikian, persoalannya bukan pada waktu tidur, melainkan durasi dan kualitasnya. Kombinasi terburuk adalah suka begadang, namun juga biasa bangun pagi. Dalam kondisi kurang tidur, yang bersangkutan justru akan tidak produktif sepanjang hari. Jika memang tidur telat, maka wajar jika bangunnya juga telat. Tidak lain demi memenuhi durasi tidur yang cukup. 

Para ahli sepakat bahwa utang tidur ternyata tak dapat dilunasi hanya dengan tidur maraton seharian. Sebagaimana dikutip dari Scientific American, tubuh tetap akan membawa efek-efek negatif dari kehilangan jam tidur: otak berkabut, penglihatan memburuk, tak fokus mengemudi, dan sulit mengingat. Obesitas, diabetes, stroke, dan penyakit jantung, adalah efek jangka panjangnya. 

Sebagian orang membutuhkan durasi tujuh hingga 11 jam untuk tidur, tapi para ahli menyarankan delapan jam. Meski demikian, sebenarnya tak ada durasi tidur ideal. Masing-masing orang punya kebutuhan berbeda. Orang dewasa berbeda dengan anak-anak. Orang yang beraktivitas berat berbeda dengan yang beraktivitas ringan sepanjang hari.