Terkuaknya Misteri Mencengangkan di Balik Stonehenge Jerman


Stonehenge adalah bangunan kuno di Inggris, yang selama bertahun-tahun menjadi pesona misterius bagi banyak orang, dari kalangan ilmuwan sampai orang awam. Belakangan, ditemukan bentuk bangunan kuno serupa seperti Stonehenge di Inggris. Salah satunya ada di Jerman, dan selama ini dikenal dengan nama Stonehenge Jerman.

Stonehenge di Jerman bernama Woodhenge Pömmelte, dan berumur 4.300 tahun. Semula, keberadaan bangunan kuno itu masih misterius, khususnya dalam penggunaannya. Namun belakangan, misteri di balik Stonehenge di Jerman mulai terkuak. Di antaranya beberapa informasi yang bisa dibilang mengerikan.

Contohnya kerangka perempuan dan anak-anak yang remuk, menunjukkan bahwa ritual prasejarah di situs tersebut termasuk tindakan pengorbanan manusia.

Woodhenge tersebut adalah kompleks gundukan konsentris lingkaran, parit, dan tiang kayu yang terbenam dalam. Monumen Pommelte telah lama hancur. Tapi pada masa kejayaannya, monumen prasejarah ini terdiri dari serangkaian gundukan dan parit, selaras dalam tujuh lingkaran berpusat sama yang memiliki tiang-tiang kayu berdiri di dalam lingkaran.

Ditemukan pertama kali dari pantauan udara pada tahun 1991, penggalian situs tersebut baru dimulai akhir-akhir ini. Monumen Neolitik di Pömmelte dulunya adalah struktur besar yang dikenal sebagai henge; monumen melingkar yang berasal dari Zaman Batu. Namun, dalam kasus di Jerman, terbuat dari kayu, persis seperti Woodhenge yang terkenal di Inggris.

Ditemukan oleh fotografer udara di dekat kota Jerman, Pömmelte, yang terletak sekitar 136 kilometer barat daya Berlin, Woodhenge Pömmelte tidak pernah dihuni tetapi berfungsi sebagai tempat berkumpul bagi komunitas budaya yang berbeda, seperti yang diungkapkan dalam sebuah studi baru dalam jurnal Antiquity.

Para arkeolog menemukan kerangka-kerangka yang terkubur di situs Zaman Batu yang berasal dari tahun 2300 SM. Sisa-sisa jasad 10 perempuan dan anak-anak yang terpotong-potong telah ditemukan di tempat kuno yang dikenal dengan sebutan Stonehenge Jerman tersebut.

Dari tubuh perempuan dan anak-anak yang terpotong itu, empat di antaranya menderita luka parah pada bagian rusuk dan tengkorak, sesaat sebelum kematiannya.

Dalam bagian parit, turut ditemukan potongan-potongan kecil dari pot dan cangkir keramik, kapak batu dan tulang binatang. Ahli mengungkapkan, Woodhenge Pömmelte aktif digunakan selama sekitar 300 tahun.

Pemimpin studi, André Spatzier, mengatakan bahwa salah satu kerangka, yakni seorang remaja, diikat tangannya sebelum dilemparkan ke dalam parit. "Masih belum jelas apakah orang-orang ini dibunuh secara ritual, atau apakah kematian mereka hasil dari konflik antarkelompok, seperti perampokan," tulisnya dalam studi penelitian.

Sementara para arkeolog mengatakan, mereka tidak dapat menentukan tujuan kematian, namun konsep pengorbanan ritual menjadi kemungkinan yang paling kuat. Tidak ada laki-laki dewasa ditemukan di parit, dan barang-barang yang dikubur menunjukkan kondisi bahwa mereka telah dirusak secara ritual.

Temuan ini sangat kontras dengan penemuan kuburan 13 laki-laki yang ditemukan di sisi timur Woodhenge. Mereka dikubur dengan cara yang bermartabat, tanpa adanya tanda-tanda trauma. Diduga, mereka merupakan orang yang mengisi strata sosial kelas atas.

Mereka berusia antara 17-30 tahun, dan dikubur dalam konkordansi dengan budaya Bell-Beaker dan budaya penguburan Unetice untuk laki-laki, meskipun disesuaikan dengan tata letak melingkar. Detail menarik lainnya tentang kuburan ini adalah dugaan dari keyakinan akan sesuatu yang menunggu almarhum setelah kematian.

"Orientasi umum penguburan ini menghadap ke timur, dan lokasi mereka di bagian timur pagar Woodhenge mencerminkan hubungan kematian dan matahari terbit, melambangkan kepercayaan pada reinkarnasi atau kehidupan setelah kematian."

Stonehenge yang berada di selatan Inggris telah lama memesona para arkeolog dan dianggap sebagai warisan Inggris yang unik. Tetapi situs Jerman ini, dan lainnya di Eropa Tengah, Portugal, dan Spanyol, menunjukkan monumen semacam Stonehenge turut didirikan selama Zaman Batu di situs-situs di luar Kepulauan Inggris.

Ini memunculkan kemungkinan bahwa pembangunan henge melingkar tidak terbatas pada Kepulauan Inggris, tetapi mungkin telah menyebar ke seluruh Eropa sebelum menyeberangi Selat Inggris. 

"Saya akan mengatakan itu tentu tepat untuk mempertimbangkan kembali gagasan bahwa Inggris saat ini sepenuhnya merupakan kasus khusus," kata arkeolog Daniela Hofmann dari University of Hamburg, dikutip dari Science.

Tetapi ada perbedaan. Tidak seperti Woodhenge Pömmelte, saat ini tidak ada bukti bahwa pengorbanan manusia terjadi di Stonehenge, setidaknya oleh pembangun aslinya.