Selain Indonesia, Ini Negara-negara yang Merajai Industri Halal Dunia


Ada perkembangan tren dalam industri dunia akhir-akhir ini, yang populer disebut “industri halal”. Sebagaimana namanya, industri halal mengedepankan hal-hal yang bersifat halal, yang tentunya menggunakan tolak ukur atau standar ajaran Islam. Seperti makanan dan minuman halal, wisata dan tourisme halal, sampai fashion halal. 

Di Indonesia, MUI bahkan telah didapuk sebagai pihak yang berwenang memberi label “Halal” pada barang-barang atau produk yang ingin mendapat sertifikasi halal.

Terkait Indonesia, negara ini adalah salah satu negara yang memiliki populasi muslim terbesar di dunia. Karenanya, Indonesia juga menjadi pasar terbesar bagi produk-produk halal. Apakah Indonesia juga menjadi produsen terbesar dalam urusan produk halal? 

Dalam konferensi pers Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) di Grand City, Surabaya, Deputi Gubernur Bank Indonesia menyatakan, "Indonesia adalah pasar terbesar produk makanan, fashion halal di dunia. Sayangnya, Indonesia baru sebatas pasar dan belum menjadi pelaku. Padahal, Indonesia sebenarnya sangat mampu untuk memproduksi produk-produk halal yang dapat dikonsumsi di dalam negeri maupun diekspor.”

Lalu negara mana yang menguasai industri halal dunia? Industri halal global malah dirajai oleh sejumlah negara yang bukan negara dengan persentase penduduk muslim yang besar. Industri makanan halal global dirajai oleh Thailand yang hanya memiliki persentase penduduk muslim sebesar 5 persen.

Thailand telah mengukuhkan diri sebagai dapur halal dunia. Sementara itu, Australia telah memproduksi dan mengekspor daging sapi halal.

Korea Selatan yang terkenal dengan industri kecantikannya juga merajai industri kosmetik halal dunia. Adapun industri tekstil halal didominasi oleh China.

Industri semacam tersebut adalah hasil dari dikembangkannya rantai pasok halal atau halal supply chain. Maksudnya adalah, produksi barang atau jasa dari hulu hingga hilir memiliki standar dan sertifikasi halal.

"Halal supply chain adalah jejaring, aktivitas ekonomi yang bisa memproduksi dan memenuhi berbagai kebutuhan produk dan jasa halal," ujar Gubernur BI.

Dalam mengembangkan rantai pasok halal, belajar dari pengalaman negara lain, perlu fokus pada sektor yang memiliki keunggulan kompetitif. Dalam kasus Indonesia, sektor yang paling memiliki keunggulan daya saing adalah makanan halal.

Oleh sebab itu, pengembangan rantai pasok halal perlu dipercepat. Rantai pasok halal ini pun harus terintegrasi, baik dari sisi usaha besar, menengah, maupun kecil.

"Termasuk pemberdayaan ekonomi pesantren dan kelompok-kelompok muslim lain. Indonesia perlu menyusun program dan melaksanakan program untuk membentuk halal supply chain, " tuturnya.