Sejarah Ternyata Keliru, Nenek Moyang Orang Islandia Bukan Bangsa Viking


Apakah orang Indonesia bersedia jika disebut sebagai “keturunan bangsa Belanda”? Kemungkinan besar tidak, karena Belanda memang bukan nenek moyang orang Indonesia. Hubungan Indonesia dengan Belanda adalah hubungan antara bangsa penjajah dan yang dijajah. Kita tentu tidak akan mau menganggap bangsa penjajah sebagai nenek moyang kita.

Namun, anehnya, hal itu justru terjadi pada orang-orang Islandia. Mereka terkenal dengan julukan “keturunan bangsa Viking”, padahal sebenarnya justru bangsa Viking menjajah nenek moyang mereka. Dalam hal itu, mungkin, Viking dianggap bangsa yang hebat, hingga orang Islandia merasa bangga.

Orang cenderung berpikir bahwa bangsa Viking adalah orang Islandia, kira-kira seperti stereotipe bangsa Romawi untuk orang Italia. Bahkan, ketika tim nasional sepak bola Islandia merayakan kelolosannya ke Piala Dunia 2018, mereka mengumandangkan chant Viking; semua orang begitu antuisas.

Nenek moyang orang Islandia memang punya hubungan dengan Bangsa Viking, hanya saja dalam tatanan yang tak harmonis. Hubungan itu sebagai penjajah dan yang terjajah, dan dapat dibuktikan melalui beberapa sumber kuat.

Salah satunya menurut catatan yang dipajang di Museum Kota Reykjavik, menjabarkan bahwa sebagian orang Islandia berasal dari keturunan petani Norwegia, yang melarikan diri dari ancaman Viking. 

Gaya hidup mereka juga berbeda. Tidak seperti Bangsa Viking yang gemar menjelajah dan berperang, nenek moyang Islandia cenderung hidup damai dengan berternak dan berladang.

"Orang Islandia tidak pernah benar-benar terhubung (dalam silsilah keturunan) dengan dunia Viking," kata Jesse Byock, profesor sejarah Islandia dari Universitas California. "Namun, anak muda mereka sangat antusias dengan Viking."

Meski begitu, Byock menyebut nenek moyang Islandia sebetulnya tak kalah tangguh, setidaknya untuk urusan bertahan hidup. Setelah meninggalkan desa-desa mereka, para petani Norwegia mengalami kelaparan dahsyat, dan mereka melakukan apa saja demi tetap hidup.

Bertahan hidup di tempat baru, di dataran Islandia yang sulit untuk bertani, nenek moyang mereka menyantap hakarl, makanan tradisional dari daging hiu yang diawetkan, yang rasanya tak enak.

Nenek moyang Islandia bersenang-senang dengan makanan buruk itu. Kerap harus berjalan jauh menyusuri pantai demi mencari hiu terdampar, untuk kemudian diolah jadi makanan yang dapat bertahan lama, dan tak membusuk saat musim dingin.