Sejarah Konflik Besar yang Memicu Perang di Dunia, dari Masa ke Masa


Konflik dan peperangan di antara manusia di dunia tampaknya menjadi bagian sejarah dari masa ke masa. Kenyataannya, sejak zaman kuno sampai zaman modern, dari waktu ke waktu, konflik dan peperangan terus terjadi. 

Satu konflik selesai, muncul konflik lain. Satu perang berhenti, muncul perang yang lain. Manusia sepertinya tidak bisa hidup damai dalam ketenteraman, hingga terus menciptakan konflik dan perang.

Jika menengok lembar-lembar sejarah kuno, kita bisa menemukan berbagai konflik dan peperangan yang terjadi, meliputi perang berdasar agama sampai konflik di antara negara-negara.

Satu abad yang lalu, misalnya, Putra Mahkota Austria-Hungaria, Archduke Franz Ferdinand, dan istrinya, Sophie, terbunuh di Sarajevo, pada Juni 1914. Terbunuhnya mereka kemudian memicu peperangan besar, yang dikenang sejarah sebagai Perang Dunia I. Beberapa tahun kemudian, setelah dunia damai sejenak, Adolf Hitler di Jerman memicu perang lain hingga pecahlah Perang Dunia II.

Lalu, baru kemarin, September 2001, menara kembar WTC hancur ditabrak pesawat yang konon dikendalikan teroris. Hancurnya WTC kemudian menjadi jalan bagi Amerika untuk menyerang dan menghancurkan Irak, wilayah yang selama ribuan tahun menjadi peradaban adiluhung Babilonia. Konflik hingga perang besar selalu mewarnai perjalanan sejarah manusia.

Sepanjang itu pula manusia mencoba menjawab hakikat konflik, sehingga teori-teori konflik bermunculan. Beberapa tipe konflik yang ada di dunia mencakup perang sipil, kekerasan kriminal, konflik antar negara, ketidakstabilan politik, sektarian, sengketa wilayah, teroris, dan konflik non-konvensional.

Semua ini terekam dalam sebuah peta yang dibuat oleh beberapa situs global yang mengumpulkan data-data konflik. Peta konflik menggambarkan, dunia sedang dihadapkan dengan konflik yang merata dan tersebar. 

Konflik berkepanjangan di Timur Tengah seperti di Suriah, Israel-Palestina, atau pemberontak Houthi di Yaman yang belum lama ini jadi pemberitaan besar terhadap upaya menyerang Arab Saudi, hanya sekelumit konflik yang terjadi di Planet Bumi.

Konflik yang merata

Melihat peta konflik di dunia saat ini sangat mengkhawatirkan, seperti yang dipacak laman warsintheworld.com, konflik dan perang yang masih berlangsung menyebar di banyak negara dan benua. Dari peta konflik, ada kecenderungan Asia dan Afrika menjadi daerah yang paling dominan sebagai wilayah konflik yang masih terus terjadi hingga saat ini.

Hingga Oktober 2016, setidaknya ada 67 negara yang terlibat konflik perang di dunia, atau setara 35 persen dari total anggota PBB yang mencapai 193 negara. Konflik perang ini mencakup 734 kelompok militan-gerilyawan, termasuk kelompok teroris, separatis, dan kelompok anarkis lainnya

Di Afrika, setidaknya ada 29 negara yang berkonflik yang melibatkan 214 militan gerilya, teroris-separatis-kelompok anarkis yang terkait konflik bersenjata. Beberapa negara yang terjadi konflik antara lain Kongo terkait perang dengan pemberontak, Mesir terkait militansi agama, Libya dengan perang sipil, Mali soal konflik pemberontak dengan tentara. Selebihnya ada Mozambik, Nigeria, Somalia, Sudan, Sudan Selatan dan lainnya.

Di Asia, ada 16 negara yang terlibat konflik perang yang mencakup 169 kelompok militan dan sejenisnya, antara lain di Afganistan, Burma-Myanmar, Pakistan, Filipina, dan Thailand. 

Bila ditambah dengan kawasan Timur Tengah, Asia menjadi penyumbang konflik terbanyak kedua. Di Timur Tengah masih berlangsung perang yang melibatkan 7 negara, mencakup 244 kelompok militan atau gerilya dan sejenisnya. Misalnya di Irak terkait memerangi ISIS, konflik di Israel-Palestina, Suriah, dan Yaman.

Benua Biru juga tak terlepas dari konflik, setidaknya ada 10 negara yang melibatkan 80 kelompok militan atau gerilya. Misalnya di Chechnya, Dagestan, Ukraina, dan lainnya. 

Sementara itu, di benua Amerika juga terjadi konflik bersenjata, tapi lebih pada konflik melawan kartel narkoba, teroris dan separatis, yang mencapai 26 kelompok, meliputi 6 negara. Contoh paling umum adalah konflik melawan kelompok mafia narkotika di Meksiko, dan konflik pemberontak di Kolombia.

Konflik tak hanya melibatkan negara-negara yang bersangkutan, tapi juga negara adidaya AS yang jadi “polisi dunia”. Laman www.cfr.org memetakan beberapa konflik yang berkaitan dan berdampak bagi AS. Kategori kritikal yang berdampak pada AS antara lain di konflik Taliban, Korea Utara, konflik laut Cina Selatan, perang sipil di Libya, dan perang Irak.

Konflik yang signifikan bagi AS antara lain militan Islam di Pakistan, konflik India dan Pakistan. Sedangkan dampaknya yang terbatas bagi AS yaitu Uighur dan konflik sektarian di Myanmar, Boko Haram di Nigeria, Perang Yaman, konflik Ukraina, konflik di Mesir, dan Israel-Palestina.

Konflik yang terjadi pasti membutuhkan anggaran, dari mulai alat pertahanan hingga logistik negara atau pihak yang bertikai. Konflik juga harus memaksa keluarnya anggaran kemanusiaan organisasi internasional seperti Palang Merah. 

Selama tiga tahun terakhir, anggaran kemanusian palang merah internasional sudah melonjak 50 persen, yang per tahunnya harus dirogoh hingga 1 miliar poundsterling. Konflik juga memaksa negara-negara anggota dewan keamanan PBB merogoh lebih dalam kantong mereka untuk biaya operasional memelihara perdamaian.

“Sistem internasional saat ini sulit mengatasi konflik, banyak negara juga sulit mencapai konsensus bagaimana keluar dari krisis mereka,” kata Presiden International Committee of the Red Cross (ICRC) Peter Maurer, dikutip dari laman theguardian.com.

Kegelisahan Peter ini cukup beralasan. Berdasarkan data Institute for Economics and Peace, yang dikutip independent.co.uk, tercatat hanya 10 negara di dunia yang benar-benar terbebas dari konflik, setidaknya dalam 10 tahun terakhir. 

Mereka adalah Botswana, Chili, Costa Rica, Jepang, Mauritius, Panama, Qatar, Swiss, Uruguay, dan Vietnam. Sementara itu, Global Peace Index 2016 membandingkan dalam setahun terakhir, ada 81 negara yang makin damai, sedangkan 79 negara sebaliknya.

Sejarah telah mencatat konflik itu berkembang dan lahir di tengah-tengah masyarakat dari skala kecil hingga besar. Masyarakat yang terlibat dan ikut merasakan dampak negatifnya, termasuk yang tak terlibat seperti masyarakat Eropa yang harus diserbu para pengungsi dari Timur Tengah. 

Petitih tandingan “Manusia adalah manusia bagi sesamanya” barangkali akan sekadar utopia belaka. Bayi bernama konflik memang bisa lahir kapan saja, dan ini tergantung apakah manusia mau melahirkannya, sehingga menambah populasi konflik baru, yang berdampak pada kerugian korban jiwa hingga materi. 

Peta konflik yang menunjukkan konflik sedang terjadi di banyak tempat, barangkali bisa menjadi penunjuk jalan untuk menemukan jawaban agar tak menambah konflik.