Posisi Tidur Suami Istri ternyata Mempengaruhi Keharmonisan Rumah Tangga


Pada awal-awal pernikahan, pasangan suami istri biasanya masih menggebu-gebu dalam urusan bercinta, dan biasanya pula gairah itu perlahan-lahan turun. 

Meski aktivitas bercinta masih berlangsung, namun tidak sepanas sebelumnya. Kenyataannya, penelitian menemukan bahwa sekitar 48 persen pasangan menikah telah kehilangan minat pada seks, setidaknya untuk sementara.

Hilang atau menurunnya gairah dan minat terhadap seks di antara pasangan suami istri sering kali timbul karena sakit, kelelahan akibat bekerja dan mengurus anak, stres, kekurangan waktu, sampai menurunnya kemampuan fisik. Jika dipikir dan dipelajari lebih lanjut, faktor penting yang berkaitan dengan semua itu adalah tidur yang berkurang.

Karena tidur tidak cukup, fisik mudah kelelahan. Sebaliknya, kesibukan bekerja dan mengurus anak sering kali mengurangi jatah tidur. Karena tidur yang kurang, stres mudah hinggap. Lebih lanjut, semua itu kemudian berdampak pada menurunnya gairah dan minat terhadap aktivitas seksual. 

Para ahli tidur menyatakan, bahwa rata-rata pasien mereka—baik pria maupun wanita—menyatakan rendahnya libido dan berkurangnya hasrat seksual. Energi yang terkuras, rasa kantuk dan tingginya tensi emosi, menjadi alasan utama.

Kemudian, kaum pria yang menderita sleep apnea, atau henti napas sejenak saat tidur, biasanya juga mengeluhkan turunnya gairah bercinta. Studi yang dipublikasikan di Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism menyebutkan bahwa pria yang menderita sleep apnea biasanya memiliki kadar testosteron yang rendah. Kekurangan testosteron menyebabkan pria menjadi tidak bergairah, termasuk dalam urusan seks. 

Tentu saja urusan bercinta antara suami istri dan keharmonisan rumah tangga tidak hanya ditunjang oleh tidur yang cukup, namun juga komunikasi yang baik, kehidupan yang tenteram, saling menyadari satu sama lain, dan—tentu saja—rasa cinta dan sayang. 

Berkaitan dengan tidur, umumnya suami istri tidur satu ranjang. Yang menarik, penelitian menemukan bahwa posisi tidur suami istri ikut menentukan tingkat keharmonisan rumah tangga. 

Para peneliti dari University of Hertfordshire, Inggris, melakukan penelitian terhadap 1.000 partisipan, dengan menanyakan bagaimana posisi tidur mereka dengan pasangan, dan seperti apa rumah tangga yang mereka jalani. Hasilnya diketahui, bahwa pasangan yang tidur dengan posisi yang sarat kontak fisik dapat membuat hubungan semakin harmonis dan hangat.

Kontak fisik yang dimaksud adalah tidur sambil berpelukan atau berpegangan tangan. Kondisi itu secara tidak langsung mencerminkan rasa saling membutuhkan satu sama lain, selalu merindukan pasangan, dan keinginan untuk selalu bersama. 

Richard Wiseman, salah satu peneliti, menyatakan, “Sekitar 94 persen pasangan bahagia ternyata selalu melakukan kontak fisik dengan pasangannya saat tertidur, dibandingkan dengan 68 persen lainnya yang tidak saling bersentuhan.”

Yang juga perlu diperhatikan, penelitian itu mengungkap, bahwa orang yang tidurnya sering terganggu atau kurang tidur cenderung memperlakukan pasangannya secara tidak baik sepanjang hari.

Selain tim peneliti dari University of Hertfordshire, tim peneliti dari University of Chicago juga melakukan penelitian seputar tidur, dalam kaitannya dengan suami istri. Dalam penelitian tersebut, mereka menemukan bahwa kurang tidur bisa membuat hormon testosteron pria menurun. Akibatnya, mereka sering kehilangan gairah bercinta.

Tentu saja urusan kebahagiaan keluarga dan rumah tangga yang harmonis tidak semata-mata ditentukan oleh posisi tidur. Lebih dari itu, ada pasangan yang memang lebih nyaman tidur tanpa bersentuhan, namun mereka tetap mampu membangun rumah tangga yang harmonis. 

Lebih lengkap, berdasarkan penelitian tim University of Hertfordshire, dari responden yang disurvei terdapat 42 persen pasangan yang tidur saling membelakangi, 31 persen lainnya tidur menghadap ke arah yang sama, 2 persen di antaranya tidur dengan jarak 30 inci, dan hanya 4 persen yang mengaku tidur saling berhadapan dengan pasangan masing-masing.