Pentingnya Mencintai Kerja dan Mensyukuri Hidup, agar Hati Selalu Tenteram


Ada dua hal yang sangat mempengaruhi kehidupan kita sebagai manusia. Yang pertama adalah yang kita kerjakan, dan yang kedua adalah yang kita jalani. Bagaimana sikap kita terhadap pekerjaan akan ikut menentukan kehidupan yang kita jalani, dan begitu pula sebaliknya. Kalau kita bekerja dengan baik, kehidupan yang kita jalani bisa baik pula. Hal sebaliknya juga sering terjadi.

Dalam hal itu, ada banyak orang yang membenci pekerjaannya. Padahal, orang harus bekerja setiap hari, rata-rata 8 jam. Kalau kita membenci pekerjaan, maka artinya kita harus menjalani sesuatu yang kita benci selama 8 jam setiap hari. Itu sangat berat. Dampaknya, begitu selesai kerja, kita pun memandang kehidupan di luar jam kerja dengan sama buruk atau negatif.

Mendapatkan pekerjaan favorit dan sesuai dengan passion, tentu harapan semua orang. Namun karena alasan kebutuhan, terkadang seseorang mengabaikan hal tersebut. Yang penting dapat kerjaan agar kebutuhan hidup dapat terpenuhi dengan baik. 

Namanya juga manusia, awalnya akan merasa senang dan puas saat mendapatkan pekerjaan. Apalagi jika sebelumnya sudah berusaha keras mencari pekerjaan, tapi tak kunjung mendapat pekerjaan. Hingga di satu titik, di saat hampir berputus asa, gayung bersambut. Pekerjaan yang diharapkan kehadirannya tiba juga, meski tak sesuai harapan. 

Tapi biasanya, rasa puas dan senang mendapatkan pekerjaan itu tak bertahan lama. Saat sudah mengetahui situasi dan kondisi di tempat kita bekerja, rasa iri hati yang merupakan sifat dasar manusia mulai mengusik rasa puas dan senang kita tersebut. 

Di mata kita, yang kita kerjakan saat ini terasa berat. Sedang pekerjaan orang lain terlihat lebih mudah. Apalagi jika tahu pekerjaan orang lain yang kita anggap lebih mudah tersebut gajinya lebih gede. Padahal, apa yang kita lihat belum tentu sesuai yang mereka rasakan. Mungkin mereka juga bakal menganggap apa yang kita kerjakan jauh lebih mudah dan lebih enak, dibandingkan dengan pekerjaannya. 

Sering sebagai karyawan kita berpikir, "Enak ya, jadi bos. Tinggal duduk ongkang-ongkang kaki saja sudah kaya.” 

Tapi bos juga mikir, "Enak jadi karyawan, tidak perlu mikir menggaji karyawan, tinggal mengerjakan tugasnya sudah pasti gajian."

Begitu pun saat melihat pekerjaan divisi lain, kelihatannya kerjanya enak sekali. Tapi kalau semisal kita dipindah ke divisi tersebut, belum tentu apa yang selama ini kita lihat dari luar sesuai dengan yang kita rasakan saat sudah masuk ke sana. 

Tak hanya dalam hal pekerjaan, dalam hal lain pun, semisal kehidupan berumah tangga, banyak dari kita yang iri dengan kehidupan keluarga lain. Semisal seorang istri yang iri dengan kehidupan tetangganya, yang di matanya kelihatan lebih enak. Atau seorang suami yang iri dengan tetangganya, karena punya istri cantik. 

Padahal, di balik kecantikan istri tetangga, biaya perawatannya juga mahal. Bisa jadi suami yang punya istri cantik juga bakal berpikir, "Enak punya istri sederhana, biaya perawatannya tidak mahal." 

Masih banyak hal lain yang bisa membuat kita iri dari hidup orang lain. Padahal jika kita diberi kesempatan untuk bertukar nasib dengan orang yang membuat kita iri, belum tentu kita akan merasa apa yang selama ini kita bayangkan. 

Sawang sinawang adalah kata dalam bahasa Jawa, yang berarti "saling melihat". Ini cocok untuk menggambarkan situasi ini. Padahal, sebagai manusia, kita harus “narimo ing pandum”, tak usah saling iri dengan orang lain, dan selalu mensyukuri apa pun yang kita dapat saat ini.