Orang-orang yang Dilarang Mendapatkan Vaksin, Menurut Dokter


Vaksin dimaksudkan untuk membantu kekebalan tubuh dalam menghadapi virus atau penyakit yang masuk ke dalam tubuh. Vaksin cacar, misalnya, ditujukan untuk menghindarkan tubuh dari serangan penyakit cacar. Karenanya, vaksin bertujuan sebagai preventif, yaitu melakukan upaya pencegahan sebelum penyakit datang.

Meski begitu, tidak semua orang bisa mendapatkan vaksinasi karena beberapa hal atau kondisi tertentu. Karena adanya latar belakang kesehatan tertentu, orang bisa mengalami kontraindikasi jika diberi vaksin.

Sebenarnya, kontraindikasi dapat diminimalisir dengan melakukan pemeriksaan sebelum vaksin. Secara umum, vaksin MR tak bisa dilakukan pada individu dalam terapi kortikosteroid, imunosupresan, dan radioterapi. Ia juga dilarang juga diberikan pada wanita hamil, leukimia, anemia berat dan kelainan darah lainnya. 

Penderita kelainan fungsi ginjal berat, decompensatio cordis (gagal jantung), riwayat alergi terhadap komponen vaksin (neomicyn), juga tak boleh diimunisasi. Atau individu yang baru saja diberi gamma globulin atau transfusi darah. Pemberian imunisasi juga harus ditunda saat seseorang sedang dalam keadaan demam, batuk pilek, dan diare. 

Dr. dr Indra Irawan, SpAK, Ketua Komite Nasional Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI), menjelaskan, sebagian besar anak bisa saja mengalami Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi seperti demam, nyeri ringan, dan ruam. Hal ini dinilai masih wajar dan normal, sebab vaksin terbuat dari virus yang dilemahkan. Normal saja jika tubuh akan bereaksi ketika benda asing masuk.

“Akan ada reaksi tubuh memperlihatkan gejala ringan karena virus hidup, tapi tidak menimbulkan penyakit berat dan menyebabkan kematian,” katanya.

Demam ringan, batuk pilek, mencret, dan ruam merupakan reaksi tubuh yang lazim pasca-vaksinasi. Nyeri ringan di bagian tubuh yang disuntik akan hilang dalam waktu 2-3 hari. Lalu, ruam kemungkinan timbul pada hari ketujuh sampai hari kesepuluh. 

“Demam ringan, batuk pilek dll bukan kontraindikasi. Dibandingkan reaksinya, lebih banyak keuntungan untuk dilakukan,” jelas dokter Indra.

Saking jarangnya, kejadian pasca-imunisasi vaksin MR terjadi hanya 1 per sejuta. Menurutnya, kecurigaan boleh ditempatkan ketika terjadi kejadian pasca-vaksinasi secara serempak. Namun, hingga saat ini, belum ada temuan yang bisa membuktikan terdapat masalah dengan produk vaksin MR.