Mungkinkah Kita Akan Tahu Asal Usul Virus Covid-19 Penyebab Pandemi? (Bagian 2)


Uraian ini merupakan lanjutan uraian sebelumnya (Mungkinkah Kita Akan Tahu Asal Usul Virus Covid-19 Penyebab Pandemi? - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Ketika korban manusia terus meningkat, sebagian besar ilmuwan mendukung pencarian asal usul sebagai cara untuk menghentikan pandemi di masa depan agar tidak terjadi.

Seperti yang ditulis oleh editor senior Scientific American Josh Fischman dalam artikel baru-baru ini, "ada lebih banyak virus penyebab penyakit di luar sana," jadi mendapatkan jawaban akan "sangat berarti karena dengan mengetahui bagaimana itu terjadi, kita akan fokus pada pencegahan situasi serupa."

Dan temuan ini tidak hanya berdampak pada dunia kedokteran dan kesehatan masyarakat. Mencari tahu asal usul apa yang dulu disebut "virus China" dapat membantu menghilangkan prasangka stereotip dan menghindari asumsi rasis.

"Spekulasi bahwa ilmuwan China yang ceroboh menyebarkan virus, yang umum diutarakan pada pemerintahan Trump, telah memicu gelombang rasialisme anti-Asia yang luar biasa di AS, berkontribusi pada ratusan tindakan kekerasan," tulis Fischman.

Mungkin ada implikasi jangka panjang untuk ekonomi dan penelitian ilmiah juga. Lompatan virus jika dikonfirmasi dapat menyebabkan dibuatnya peraturan yang lebih ketat untuk pasar basah, yang populer di seluruh Asia, serta pedoman baru untuk pertanian dan eksploitasi komersial satwa liar.

Namun, jika proposisi kebocoran laboratorium terbukti benar, itu akan menantang beberapa asumsi terkait penelitian tingkat tinggi yang dilakukan hari-hari ini - khususnya, apa yang disebut eksperimen "gain-of-function", yakni patogen dibuat lebih berbahaya untuk mensimulasikan skenario wabah yang berbeda.

Dan itu bisa mengarah pada peraturan baru di laboratorium biosafety, yang telah lama diminta oleh para ahli di seluruh dunia.

China juga telah mendorong teori lain, bahwa virus corona mungkin telah memasuki negara itu melalui pengiriman daging beku, sebuah teori yang didukung oleh penelitian dari salah satu ahli virologi terkemuka.

Jika teori ini dikonfirmasi, tentu akan berimplikasi pada perdagangan internasional, transportasi makanan, dan perusahaan komersial lainnya.

Akankah kita mendapatkan jawaban yang pasti?

Sains mengoreksi diri sendiri: saat bukti baru muncul, teori-teori lama terus-menerus direvisi dan dibalikkan.

Jadi mungkin kita tidak pernah sampai pada jawaban yang konklusif dan bahkan jika kita mengetahuinya, seringkali itu membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menentukan dari mana penyakit baru berasal.

Misalnya, asal kelelawar Sars tidak dikonfirmasi hingga 2017, 15 tahun setelah wabah itu menewaskan sekitar 800 orang.

Profesor Robertson melihat pengalamannya meneliti asal usul HIV, virus human immunodeficiency yang menyebabkan AIDS. HIV menjadi perhatian global pada 1980-an dan sejak itu telah menginfeksi sekitar 76 juta orang.

Terlepas dari penelitian yang tak kenal lelah, baru pada pertengahan 2000-an asal mula virus dikaitkan dengan simpanse liar.

"Awalnya ada sangat sedikit sampel dari simpanse dengan HIV1, butuh waktu lama untuk mencari tahu di mana kita harus mengambil sampel," kata ahli virologi itu.

Dia berpikir, pencarian mungkin sama beratnya kali ini, karena "virus corona tambahan telah ditemukan di Yunnan, China, dan virus baru di Asia Tenggara."

Yang paling penting, bukti yang tersedia di sekitar virus SARS-CoV-2 "tidak berubah sejak musim semi 2020," tulis jurnalis sains Adam Rogers.

"Bukti itu selalu tidak lengkap dan mungkin tidak akan pernah lengkap," tulisnya dalam artikel Wired.

"Sejarah dan sains menunjukkan penyebaran virus melalui lompatan hewan jauh lebih mungkin daripada kebocoran laboratorium. Jadi sekarang yang kita bicarakan adalah bagaimana orang membingkai pandangan mereka di sekitar bukti lemah yang kita miliki."

Inilah sebabnya mengapa pencarian ini tidak pernah bisa lepas dari politik yang telah membentuknya sejak awal, kata Rogers.

"Setiap upaya yang bermaksud baik untuk memahami asal mula virus dapat diubah menjadi alat politik," menurut Prof Iwasaki.

Banyak yang setuju dengannya dan ada risiko bahwa proses tersebut akan semakin membebani hubungan AS-China selama bertahun-tahun yang akan datang.

"Saya sangat menyadari konsekuensi potensial dari permainan saling menyalahkan, terutama menjadi ilmuwan perempuan dari Asia. Hal terakhir yang ingin kami lakukan adalah menimbulkan lebih banyak kebencian anti-Asia."

Lingkungan penelitian

Lalu ada pertanyaan yang penting bagi para ilmuwan di seluruh dunia: dapatkah penyelidikan tentang asal virus benar-benar menciptakan lingkungan penelitian yang lebih aman?

Bahkan jika kebocoran laboratorium terbukti dan langkah-langkah keamanan baru diterapkan, itu tidak dapat menjamin kejadian serupa tidak akan terjadi lagi, kata para ahli.

Virus dan kuman lain telah keluar dari fasilitas penelitian dan menginfeksi manusia di masa lalu - seperti flu Rusia pada tahun 1977 dan wabah Sars 2004, misalnya.

Risiko tampaknya melekat pada pekerjaan laboratorium dengan keamanan tinggi, yang sangat dibutuhkan untuk memajukan ilmu pengetahuan dan kedokteran. Dan ketika pandemi terus memakan korban, beberapa orang berpendapat bahwa sementara waktu, melihat asal-usul virus mungkin penting, tapi bukan prioritas.

"Sebagai seorang dokter, prioritas saya adalah menyelamatkan nyawa," kata Dr Marie-Marcelle Deschamp, yang merawat pasien Covid-19 di sebuah klinik di Port-au-Prince, Haiti, di mana kasus sempat meningkat tiga kali lipat.

Para ilmuwan memiliki tugas yang lebih mendesak, kata dokter garis depan, yang menjalankan kelompok kesehatan nirlaba Gheskio.

"Kami memiliki sumber daya yang terbatas dan saya perlu menghentikan orang terinfeksi, jadi secara realistis, mengetahui asal-usul virus tidak akan segera membantu pekerjaan saya," kata Dr Deschamp.

Namun dalam jangka panjang, dia setuju bahwa memiliki lebih banyak pengetahuian soal ini dapat membantu mencegah darurat kesehatan global lainnya. "Ada kebutuhan untuk memahami apa yang terjadi, dari mana semua itu berasal."