Misteri di Balik Matinya Pohon Raksasa Berusia Ribuan Tahun di Afrika



Di Afrika, ada pohon unik yang sulit ditemukan di tempat lain. Namanya baobab. Berbeda dengan pohon-pohon lain yang biasa kita saksikan, pohon baobab mampu tumbuh sangat besar, hingga serupa pohon raksasa. Sebegitu besar pohon itu, hingga lubang di batangnya bisa dijadikan rumah untuk tempat tinggal. 

Karena pohon raksasa, buah yang dihasilkan (disebut buah baobab) juga berukuran sangat besar. Kemudian, yang lebih menakjubkan, pohon baobab dapat hidup hingga ribuan tahun.

Sejak berabad-abad, bahkan ribuan tahun lalu, pohon baobab menjulang perkasa di hamparan sabana Afrika. Kini, pohon-pohon berjuluk trees of life itu mati satu per satu. Penyebabnya masih tanda tanya.

Pohon baobab Afrika bisa dikatakan salah satu keajaiban alam. Berasal dari Sub-Sahara Afrika, penampakannya serupa gambar dalam buku Dr. Seuss. Berbatang lebar, gemuk, dari dahannya menyembul cabang-cabang kecil yang ditutupi daun hijau. Batangnya sering kali kosong, hingga bisa dijadikan rumah, bahkan bar.

The Atlantic melaporkan bahwa pohon-pohon baobab tertua di Afrika telah mati selama belasan tahun terakhir. Peneliti meyakini itu adalah akibat langsung dari perubahan iklim.

Hasil penelitian itu dipublikasikan dalam jurnal Nature Plants. Salah satu penulisnya, Adrian Patrut dari Bebs-Bolyai University Romania, mulai mempelajari baobab pada tahun 2000.

Fokusnya pada Adansonia digitata, spesies baobab paling besar yang ditemukan di selatan Afrika. Dalam 15 tahun, Patrut mengidentifikasi sekitar 60 pohon baobab paling tua dan paling besar.

Ia mengumpulkan sampel dari pepohonan, menggunakan penanggalan radiokarbon untuk menentukan umur mereka. Patrut menemukan, banyak dari pepohonan ini berusia lebih dari 2.000 tahun. Namun, beberapa peneliti beranggapan teknik penanggalannya mungkin konservatif, mengurangi 1.000 tahun dari usia mereka.

Ada kejanggalan yang terjadi selama penelitian. Dalam belasan tahun terakhir, empat dari 13 pohon terbesar yang diteliti telah mati. Tiba-tiba mereka membusuk dan membelah. Lima lainnya telah kehilangan batang tertua mereka. Kondisinya mengenaskan, sekarat.

Baobab yang mati itu termasuk Homasi, juga dikenal sebagai Grootboom, pohon raksasa di Namibia. Sementara Sunland Baobab di Provinsi Limpopo di Afrika Selatan, yang saking besarnya bisa dijadikan bar, tiba-tiba mulai sekarat pada tahun 2016. Umurnya mungkin tak lama lagi.

"Malapetaka seperti ini sangat tidak terduga. Rasanya sangat janggal, karena ini adalah pohon yang bisa hidup selama 2.000 tahun atau lebih, dan kami melihat bahwa mereka sekarat satu demi satu selama masa hidup kita. Secara statistik, ini sangat tidak mungkin," jelas Patrut kepada NPR.

Artinya, ada penyebab di balik kematian baobab. Soal itu, dalam beberapa tahun terakhir memang penyakit jamur misterius telah mengusik pohon baobab di bagian-bagian tertentu Benua Afrika.

Namun, menurut Patrut, jamur tersebut tidak menyerang pohon-pohon kuno ini. Sebab mereka tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit. Sebaliknya, para peneliti meyakini kekeringan akibat perubahan iklim yang melemahkan kondisi baobab.

Dalam satu dekade terakhir, di Afrika bagian Selatan memang tercatat adanya peningkatan suhu dan berkurangnya curah hujan. Sementara baobab sangat bergantung pada musim hujan tahunan.

Keperkasaannya bergantung pada sekitar 70 hingga 80 persen air yang mengisi volume mereka. Jika kebutuhan air tidak tercukupi ketika menghasilkan daun, bunga dan buah, pohon itu akan mati dengan cepat dan roboh.

Selain perubahan iklim, ada kemungkinan kematian baobab adalah bagian dari siklus alami. Meski ini sulit dibuktikan karena baobab membusuk dengan cepat dan tidak meninggalkan bukti kematian sebelumnya.

Erika Wise dari University of North Carolina, Chapel Hill, dan ketua kelompok penelitian Environmental & Tree Ring Environmental Science sependapat. Katanya, ini tidak mungkin siklus alami.

“Sekitar 70 persen dari pohon Anda yang berusia 1.500 hingga 2.000 tahun mati dalam 12 tahun, tentu tidak normal. Sulit untuk mengusut penyebabnya selain perubahan iklim,” kata Wise.

Soal iklim, Afrika Selatan memanas lebih cepat daripada rata-rata global. Malah diperkirakan akan lebih cepat menghangat daripada bagian lain di benua itu, baobab pun makin terancam.

Wise menjelaskan, baobab bukan satu-satunya pohon yang menderita. Kekeringan serta perubahan suhu membuat pohon dan hutan rentan terhadap masalah di seluruh dunia.

Namun, tidak semua orang yakin perubahan iklim adalah penyebab kematian baobab. Michael Wingfield, ahli patologi tanaman di University of Pretoria, mengatakan bahwa ukuran sampel studi Patrut sangat kecil.

Penelitian itu juga tidak sepenuhnya mengesampingkan penyakit yang menimpa pohon yang lebih tua. Sementara spesialis baobab Sarah Venter dari University of Witwatersrand mengatakan jika kekeringan adalah masalahnya, maka itu akan mempengaruhi semua baobab, bukan hanya yang terbesar dan tertua.