Mie Instan Kuah dan Goreng, Mana yang Lebih Baik?


Mie instan telah menjadi bagian keseharian banyak masyarakat Indonesia, karena banyak yang menggemari. Selain praktis, mie instan juga enak bagi lidah mereka. Meski memiliki berbagai merek, yang jelas mie instan punya dua pilihan, yaitu mie instan kuah dan mie instan goreng. Manakah yang lebih baik? 

Jawabannya mungkin tergantung selera. Karena ada orang yang lebih suka mie instan kuah, dan ada pula yang lebih senang mie instan goreng.

Dari data yang dihimpun berdasarkan laman Fatsecret.com dan Myfitnesspal.com, sebenarnya jumlah varian mie instan goreng cenderung lebih sedikit dibandingkan kuah.

Hanya sekitar 31,5 persen para produsen membuat mie instan dengan varian goreng. Angka tersebut setengah dari jumlah mie instan varian kuah, yang mencapai 68,5 persen.

Data di atas bukan menunjukkan jumlah penjualan yang dilakukan masing-masing produsen. Melainkan berapa banyak satu produsen membuat varian kuah-goreng dari produknya.

Tentu saja, selain sebagai penguasa pasar mie instan, Indomie—produksi Indofood Sukses Makmur (ISM)—juga memiliki varian terbanyak dibanding produsen lain.

Dalam situs resmi mereka, Indomie memiliki sembilan varian rasa mie kuah dan tujuh varian rasa mie goreng. Posisi kedua, Sarimi, yang lagi-lagi diproduksi oleh ISM. Ada 14 varian Sarimi, di mana 4 di antaranya adalah jenis goreng.

Mungkin, bagi Anda, soal varian itu hanyalah preferensi semata. Namun, di dunia maya, varian tersebut berubah menjadi ajang serang antar kubu; mie kuah vs. mie goreng. Tentu, hal ini hanya bersifat lucu-lucuan saja, bukan hal yang serius. Seperti yang dilakukan di forum diskusi Kaskus.

Kuah kaya lemak-protein

Oleh karena sifatnya yang cepat saji, maka bisa dibilang mie instan masuk dalam kategori fast food. Mendengar hal itu, tentu tak sedikit pihak yang akan berpikir mengenai betapa tidak sehatnya makanan tersebut; berisi pengawet, minim gizi, vitamin hingga protein.

Lalu, benarkah mie instan identik dengan makanan yang tak bergizi? Nanti dulu. Sebab, beberapa jenis mie instan bahkan mampu memenuhi 29,5 persen kebutuhan Angka Kebutuhan Gizi (AKG).

Sebagai catatan, AKG merupakan kecukupan konsumsi seseorang dari energi, protein, lemak, karbohidrat, serat dan air.

Bila merujuk pada AKG dari Direktorat Gizi Masyarakat pada Dirjen Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan, AKG penduduk Indonesia rata-rata mencapai di atas 2.000 kilokalori (kkal), tepatnya 2.150 kkal.

Mie goreng rasa ayam kecap isi 2 dan mie goreng rasa ayam kremes isi 2 produk Sarimi, mampu memenuhi 29,5 persen AKG tadi. Untuk mie kuah, mie ayam rasa tongseng isi dua menjadi yang tertinggi, dengan presntase mencapai 28 persen.

Memang, bila melihat data di atas, tidak semua jenis varian mie instan yang ada memiliki AKG yang cukup tinggi. Mie goreng paling populer misalnya, yaitu Indomie goreng, hanya mencukupi 17,5 persen dari kebutuhan AKG.

Bila dijabarkan lebih lanjut, ternyata tidak selamanya produk mie instan dengan AKG tertinggi memiliki komposisi jumlah protein yang cukup. Bahkan kandungan protein mie goreng rasa ayam kecap isi 2 tadi hanya mengandung 7,46 persen dari 590 kkal/bungkusnya.

Mie goreng rasa ayam kremes isi 2 lebih parah lagi, hanya memenuhi 6,78 persen dari 590 kkal/bungkusnya. Untuk soal protein ini, mie kuah keriting wortel produksi Gaga, menjadi yang tertinggi.

Berdasarkan data yang diperoleh, dari 260 kkal per satu bungkus mie keriting wortel Gaga, sebesar 13,85 persen disumbangkan oleh protein. Jumlah yang sama diperoleh dari lemak.

Bila mengacu pada produk lain, angka lemak mie goreng keriting wortel tadi terhitung kecil. Sumbangan kalori yang berasal dari lemak terbesar, datang dari Mie Sedap kuah rasa soto cup, produksi Wings Food.

Lemak pada Mie Sedap kuah rasa soto cup menyumbang 48,65 persen dari total kalori sebesar 370 kkal.

Jadi, bila Anda ingin memakan mie instan dengan protein dan lemak yang tinggi, ada baiknya Anda memilih yang berkuah. Sebab, dari data di atas, rata-rata mie instan berkuah memiliki dua kandungan tersebut yang terbanyak.