Menguak Rahasia Kekuatan Telekinesis: Mengendalikan Benda dengan Pikiran


Dalam film serial X-Men, kita menyaksikan orang-orang yang memiliki kekuatan luar biasa. Profesor X, misalnya, bisa mengendalikan pikiran orang lain dengan kekuatan pikirannya. Sementara Magneto bisa mengendalikan logam dengan kekuatan pikirannya. 

Contoh-contoh itu disebut telekinesis. Tentunya akan sangat hebat kalau saja kita bisa mempelajari kemampuan semacam itu, hingga juga bisa seperti Profesor X atau Magneto.

Tapi apakah telekinesis benar-benar bisa dipelajari? Ataukah ia hanya ada di ranah fiksi?

Telekinesis, juga disebut psikokinesis atau dikenal dengan istilah Mind Over Matter, merupakan kemampuan untuk memanipulasi benda melalui kekuatan pikiran. Ini mencakup menggerakkan, mengangkat, membengkokkan, mematahkan benda, hingga mengangkat diri sendiri melayang di udara tanpa penyangga (levitasi).

Di dunia sains fiksi, Anda mungkin akrab dengan karakter Jean Gray dalam X-Men yang kekuatannya berupa persepsi ekstrasensor dan telekinesis. Di dunia nyata pun, ternyata ada orang-orang berkemampuan seperti itu yang pernah tercatat dalam sejarah.

Tiga yang paling terkenal adalah Nina Kulagina asal Rusia yang mampu memindahkan berbagai objek nonmagnetik dari korek api sampai tempat garam.

Ada pula Stanislawa Tomczyk dari Polandia yang menarik perhatian karena kemampuannya menciptakan fenomena poltergeist—istilah dunia paranormal untuk berbagai benda melayang—bila ia sedang di bawah pengaruh hipnotis.

Kemudian Uri Geller, seorang mentalis yang pernah menggemparkan dunia pada 1973, dengan kemampuannya membengkokkan sendok dari jarak jauh di beberapa lokasi.

Benarkah telekinesis memang ada?

Meskipun banyak orang percaya pada kemampuan psikis semacam itu, bukti ilmiah untuk keberadaannya sebetulnya masih sangat sulit dipahami. Merunut sejarah, telekinesis telah ada sejak zaman purba. Kala itu fenomenanya lebih dikaitkan dengan sihir dan kemampuan orang suci.

Semakin ke sini, kemampuan telekinesis mulai mendapat sorotan di bidang psikologi semenjak Sigmund Freud memperkenalkan teori psikoanalisis lewat pendekatan teori unconscious.

Selanjutnya, teori ini berkembang di tangan pakar psikologi Carl Jung menjadi ilmu baru, parapsikologi, untuk menjelaskan hal-hal yang semula dianggap klenik atau metafisika.

Secara ilmiah, keberadaan telekinesis telah ditelisik dan diperdebatkan periset sejak lebih dari seabad silam. Pada 1890, Alexander N. Aksakof asal Rusia menjadi yang pertama meneliti telekinesis. Ia dan sejumlah periset lainnya menghubungkan telekinetis dengan dunia spiritual.

Namun, ketimbang menyebut fenomena macam poltergeist ini disebabkan oleh hantu, telekinesis dipercaya tercipta di bawah alam sadar. Misalnya pada orang yang sedang stres, mengalami gejolak emosional seperti ketakutan dan terancam bahaya, hingga karena hormon yang memuncak.

Pada 1934, Profesor J.B. Rhine, parapsikolog dari Duke University, Amerika, melakukan serangkaian tes panjang yang menyimpulkan bahwa telekinetis itu nyata. Ia meneliti perubahan hasil lemparan dadu. Sayang, penelitiannya dianggap kontroversial karena protokol yang longgar dianggap memungkinkan responden melakukan tipu muslihat.

Eksperimen ilmiah yang melibatkan kemampuan telekinetis juga pernah ditinjau dalam makalah penelitian Angkatan Udara AS pada 2004. Studi fisika yang ditulis oleh astrofisika Dr. Eric W. Davis itu memprediksi kemampuan telekinetis bisa menjadi senjata ampuh dalam perang.

Yang jelas, bagaimana cara kerja telekinesis tidak pernah diketahui secara pasti.

Bagi yang percaya, fenomena terjadinya telekinesis dikenal dengan istilah "Quantum Superposition". Yakni buah kesadaran hasil perpaduan kemampuan otak yang kompleks, bersama peleburan energi tubuh dan semesta yang tercakup dalam fisika kuantum.

Dengan kata lain, telekinesis yang terjadi ketika seseorang melepas sejumlah besar energi fisik, hanya akan tercipta oleh kekuatan pikiran yang berasal dari kesadaran tinggi.

Jadi, bukan sekadar karena Anda "berharap" itu bisa terjadi pada tingkatan fisik, melainkan karena ada keseimbangan dengan energi sekitar, yang perlu dilakukan dengan fokus dan tanpa beban.

Sebaliknya bagi yang skeptis, sejarah telekinesis tak lebih dari sejarah penipuan dan pemalsuan, yang terbukti sekaligus dicurigai.

Pada satu sisi, kebanyakan periset skeptis mengakui bahwa data telekinesis jauh melampaui standar pembuktian ilmiah. Di sisi lain, mereka menghadapi masalah besar bahwa pikiran manusia dan cara kerja otak itu misterius.

Sejak dulu sampai sekarang, banyak orang masih percaya mitos populer bahwa manusia hanya mempergunakan 10 persen kapasitas otaknya. Sementara orang yang bisa memanfaatkan lebih dari itu dipercaya memiliki kekuatan super, termasuk pemilik kemampuan telekinetis.

Padahal fakta menyebutkan bahwa seluruh manusia mempergunakan otaknya 100 persen secara utuh. Pun belum ada bukti bahwa gelombang otak bisa menjangkau radius di luar tengkorak kepala. Karenanya, jika kemampuan telekinesis memang benar ada, kekuatannya pasti sangat kecil.

Apalagi, periset juga mengungkap satu per satu kejadian telekinesis ternyata hasil kecurangan peserta. Bahkan, ilusionis terkenal Harry Houdini pernah membeberkan sejumlah tipuan yang digunakan pesulap saat bertelekinesis, yang tertuang dalam bukunya, "Miracle Mongers and Their Methods".

Di luar itu semua, para ahli berpendapat sama. Kemungkinan benar atau tidaknya keberadaan telekinesis, bisa saja ada. Alangkah bijak jika saat ini kita hanya berpuas diri bahwa telekinesis berada dalam ranah fiksi dan fantasi.