Mengenal Void, Ruang-ruang Kosong di Alam Semesta


Bumi yang kita tinggali hanyalah sebutir debu dari luasnya alam raya. Karenanya, meski mungkin pengetahuan para ilmuwan mengenai bumi sudah sangat banyak, namun pengetahuan terkait alam semesta masih sangat minim dan terbatas. Bukan hanya karena luasnya lingkup yang harus diteliti, namun juga karena terbatasnya sarana yang bisa digunakan.

Meski begitu, dari waktu ke waktu para ilmuwan terus menemukan hal-hal baru di luasnya alam raya. Salah satu yang kini menjadi sejarah penting adalah kemampuan ilmuwan untuk melihat isi void, yang ada di angkasa.

Jejaring kosmos adalah jejaring rumit dengan galaksi tersusun. Di antaranya, ada ruang-ruang kosong yang disebut void. Void dalam ruang angkasa muncul karena perluasan alam semesta, sehingga menimbulkan ruang di antara filamen. Seperti keju yang berlubang. Bila kita dapat melihat isi di dalam void, ada banyak hal yang bisa dipelajari. 

Kini, hal itu bukan mustahil lagi. Untuk pertama kalinya para astronom dapat mengintip ke dalam ruang misterius itu. Lewat pengamatan peta Cosmic Microwave Background (CMB), para astronom berhasil mempelajari ruang void. 

CMB merupakan sisa radiasi elektromagnet yang ditinggalkan Epoch of Recombination sekitar 380.000 tahun setelah Big Bang. CMB dipercaya sebagai perwakilan cahaya pertama yang muncul di alam semesta dan di dalamnya. 

Para ahli berkatam ruang void berhubungan dengan suhu. Daerah yang lebih panas berkaitan dengan filamen, sementara daerah yang lebih dingin berhubungan dengan void. 

Dalam penelitian yang dipimpin David Alonso dari Universitas Oxford, Inggris, para astronom memetakan 774 void kosong ke CMB untuk melihat bagaimana sifat gas mengapung di dalamnya. 

Penelitian yang dipublikasikan di Physical Review D itu juga menggunakan data dari Baryon Oscillation Spectroscopic Survey (BOSS) untuk memeriksa gelombang suara yang bergetar saat pembentukan alam semesta awal dan masih dapat dideteksi di seluruh alam semesta sebagai fluktuasi reguler dalam masalah normal. 

Cara ini membantu menemukan lokasi void di seluruh alam semesta. Mereka kemudian membandingkannya dengan energi foton dari CMB dalam setiap ruang kosong terhadap tekanan elektron yang dimodelkan untuk menyimpulkan sifat gas. 

Foton merupakan partikel yang mewakili kuantum cahaya atau radiasi elektromagnet. 

Hasilnya, mereka menemukan tekanan di dalam void lebih rendah daripada rata-rata kosmik. Tak banyak material di dalam rongga dan tak banyak aktivitas yang terjadi. 

"Temuan ini bisa menjadi tanda bahwa pancaran kuat dari lubang hitam supermasif memompa energi ke gas intergalaksi dan membantu pembentukan kosmos," kata Christopher Crocket, dilansir Science Alert. 

Ini berarti, angin dari lubang hitam supermasif dapat membentuk seluruh galaksi. Penelitian ini tetap membutuhkan pengamatan lebih mendalam, mungkin dengan teleskop yang lebih memadai untuk memverifikasi data.