Mengenal dan Mewaspadai Bahaya Mikroplastik Dalam Air Minum Kemasan


Dunia, khususnya Indonesia, sedang digegerkan dengan temuan mikroplastik yang terdapat di dalam air minum kemasan. Ceritanya, State University of New York at Fredonia melakukan penelitian secara global terhadap beberapa merek air minum kemasan, untuk menguji apakah di dalamnya tercemar mikroplastik. 

Hasil riset terbaru itu menunjukkan sejumlah merek air minum dalam botol di seluruh dunia rata-rata tercemar mikroplastik. Partikel yang ditemukan dalam air kemasan itu rata-rata berukuran 6,5 mikrometer, yang setara dengan ukuran sel darah merah. Ada juga yang berukuran 100 mikrometer atau seukuran diameter rambut.

Riset State University of New York at Fredonia itu didukung Orb Media Network, organisasi media nirlaba di Amerika Serikat. Hasil penelitian itu dipublikasikan serentak oleh 12 media di seluruh dunia, beberapa di antaranya adalah BBC dari Inggris, Deutsche Welle (Jerman), dan CBC (Kanada).

Ahli toksikologi dari Universitas Indonesia, Budiawan, mengatakan partikel yang berukuran sama atau lebih kecil dari sel manusia dapat diserap dan masuk aliran darah. Selain itu, akumulasi mikroplastik dalam tubuh dapat mengganggu kerja organ vital, seperti ginjal dan hati. 

"Akumulasi terjadi kalau tubuh tidak mengeluarkan partikel asing secara alami lewat ekskresi," kata Budiawan.

Sementara ahli nutrisi Tan Shot Yen, pemilik klinik kesehatan di Tangerang, mengatakan potensi bahaya semakin nyata terhadap tubuh. Sebab, semakin kecil partikel mikroplastik, semakin mudah dan semakin banyak diserap sel. Menurut Tan, penelitian menyeluruh tentang dampak mikroplastik bagi manusia memang masih minim.

Namun dia merujuk salah satu penelitian dari Pusat Informasi Bioteknologi Nasional Amerika Serikat tentang dampak partikel itu terhadap plankton di perairan bebas yang telah tercemar. "Dampak terberatnya adalah gangguan pertumbuhan dan reproduksi. Tentu saja, jika mencetuskan radikal bebas, risiko kanker tidak bisa ditepis," katanya.

Mikroplastik adalah pecahan terkecil sampah plastik buangan manusia. Karena sifatnya yang tak bisa terurai, limbah ini akan terus terpecah menjadi bagian-bagian kecil. Penelitian ini tidak mampu mengungkap sumber mikroplastik, apakah dari sumber mata air ataukah saat proses pengemasan air minum ke dalam botol.