Mengenal Ciri-ciri Orang yang Mudah Dicuci Otak (Brainwashing)


Cuci otak (brainwashing) adalah istilah untuk menyebut aktivitas “pemaksaan keyakinan baru untuk menggantikan keyakinan lama”. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin mengenal orang yang semula berkeyakinan A. Namun, suatu waktu kemudian, kita mendapatinya berubah keyakinan menjadi B. Kira-kira seperti itulah hasil cuci otak.

Terkait hal tersebut, ada orang-orang yang otaknya mudah dicuci (keyakinannya mudah dibengkokkan atau diubah), ada pula yang sulit dicuci otaknya. Berikut ini adalah ciri-ciri orang yang biasanya mudah dicuci otaknya, sehingga orang-orang yang tidak memiliki ciri-ciri berikut juga biasanya sulit untuk dicuci otak.

Psikis yang labil

Misalnya memiliki perasaan negatif, bingung atau ragu dengan identitas dirinya sendiri.

Cenderung sombong

Tidak hanya orang yang psikisnya labil yang mudah dicuci otaknya, orang yang percaya dirinya berlebihan alias sombong, juga bisa dengan mudah dipengaruhi.

Misalnya orang-orang yang egois dan bangga bahwa apa pun yang ia percaya secara otomatis adalah benar, namun tidak didukung dengan pengetahuan yang luas dan mendasar.

Mengalami tekanan fisik dan mental

Orang yang mengalami tekanan fisik dan mental juga mudah dicuci otak. Hal ini karena kondisi tersebut membuat orang menjadi kelelahan, tidak berdaya, hingga akhirnya mengurangi kemampuan berpikir dan menolak pengaruh baru yang diberikan.

Kenapa orang dengan tipikal tersebut gampang dicuci otaknya?

Karena di dalam cuci otak ada tiga prinsip dasar yang bisa mengenai orang-orang seperti contoh di atas. Prinsip dasar ketika melakukan cuci otak adalah pendekatan fisik dan emosional untuk mengurangi kemampuan berpikir dan menolak. Bisa dalam bentuk godaan halus atau penghargaan kecil.

Dalam ilmu psikologi, studi tentang cuci otak sering disebut reformasi pikiran (thought reform), yang masuk dalam lingkup pengaruh sosial. Teknik cuci otak nantinya bisa mengubah sikap, kepercayaan, dan perilaku orang.

Cuci otak merupakan bentuk parah dari pengaruh sosial yang menggabungkan semua pendekatan untuk menyebabkan perubahan dalam cara berpikir seseorang tanpa persetujuan orang tersebut, dan sering bertentangan dengan kehendaknya.

Karena cuci otak adalah bentuk pengaruh invasif, teknik ini memerlukan isolasi lengkap dan ketergantungan subjek, itulah sebabnya kegiatan cuci otak kebanyakan terjadi pada kamp penjara atau tempat dengan pengawasan penuh.

Si agen pencuci otak (brainwasher) harus memiliki kontrol penuh atas target (brainwashee), sehingga menyebabkan pola tidur, pola makan, dan pemenuhan kebutuhan dasar manusia lainnya tergantung pada kehendak agen.

Dalam proses cuci otak, agen secara sistematis memecah identitas target ke titik yang tidak bekerja lagi. Agen kemudian menggantikannya dengan satu set perilaku, sikap dan keyakinan, yang bekerja di lingkungan target saat ini. Itulah yang membuat kebanyakan target bisa melupakan kepercayaan dan keyakinan yang dilakukannya sebelum proses cuci otak.

Beberapa definisi cuci otak memerlukan adanya ancaman bahaya fisik, definisi lain bergantung pada paksaan non-fisik dan kontrol sebagai sarana efektif untuk menegaskan doktrin atau pengaruh.

Terlepas dari definisi yang digunakan, banyak ahli percaya bahwa efek dari proses yang paling sering terjadi dari cuci otak adalah efek jangka pendek. Artinya, identitas lama korban pada kenyataannya tidak dihilangkan tetapi hanya disembunyikan. Jika 'identitas baru' dihentikan, maka keyakinan awalnya akan kembali normal.