Mengapa Orang Indonesia Punya Ciri Fisik Berbeda-beda? Ini Penjelasannya


Ada beragam suku yang sekarang hidup di Indonesia, dan masing-masing suku memiliki ciri-ciri fisik yang bisa dibilang berbeda. Orang Jawa, misalnya, rata-rata berkulit sawo matang. Orang Sunda cenderung lebih putih. Orang Tionghoa rata-rata memiliki mata yang sipit. Sementara orang Papua rata-rata berkulit hitam. 

Mengapa orang-orang Indonesia memiliki ciri fisik yang berbeda-beda?

Peneliti Eijkman Institute, Profesor Herawati, mengatakan, perbedaan fisik diakibatkan oleh adanya pencampuran genetik yang terjadi di tubuh manusia. Peristiwa ini berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu dari sejumlah gelombang migrasi.

Gelombang migrasi pertama terjadi sekitar 60.000 tahun lalu. Bermula dari Afrika, manusia menyebar ke berbagai daerah. Saat itu, kepulauan yang kita lihat di peta Indonesia belum terbentuk.

Kalimantan, Jawa, dan Sumatera masih menjadi satu dataran luas yang disebut Sundaland, dengan luas sekitar 1.800.000 Km. Kemudian, Wallacea menjadi daerah sendiri yang kini bisa dikenali sebagai wilayah Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku. Sementara itu, Papua masih satu daratan dengan Australia.

Gelombang migrasi kedua terjadi sekitar 30.000 tahun yang lalu, dengan datangnya orang-orang Austro-asiatik. Di antara mereka berasal dari Vietnam dan Yunani.

“Kemudian bercampur dengan yang (gelombang) pertama, atau yang pertama tadi sudah jalan terus ke timur sampai ke Papua,” kata Herawati dalam acara Wallacea Week di Perpustakaan Nasional, Jakarta.

Gelombang migrasi ketiga datang dari Formosa atau Taiwan, sekitar 6.000-5.000 tahun yang lalu. Meski datang terakhir, orang-orang Formosa juga turut berpengaruh terhadap bahasa astronesia yang sekarang digunakan.

Meski demikian, pencampuran genetika tak berhenti sampai di situ. Diapit oleh Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, Indonesia yang merupakan pusat perdagangan dunia memungkinkan percampuran genetika terjadi lebih banyak.

“Jadi ketika DNA seseorang dites, nanti bisa didapatkan ada China, India, dan Eropa. Kalau Minang kita sudah periksa, ada Eropanya karena itu kawasan maritim,” kata Herawati.

Penelitian Herawati dan koleganya menggunakan sampel DNA dari 500 orang yang berasal dari 25 tempat di regional Asia. Dia juga membandingkan genetika yang telah tersedia di bank genetika dari penelitian sebelumnya.

Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) itu menuturkan, dalam konteks indonesia, tidak ada genetika dominan yang menguasai dari barat ke timur. Dari ujung utara, genetika Austro-asiatik lebih banyak.

“Kemudian yang kedua, campurannya astronesia yang dapat dari Formosa tadi, terus baru yang lain. Makin ke timur makin banyak (percampuran),” kata Herawati.

Dia melanjutkan, pencampuran itu juga bisa menjelaskan perbedaan fisik. Karena itu evolusi. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain, semua akan mengalami seleksi dan adaptasi, sesuai dengan teori Wallace atau Darwin. Yang selamat adalah mereka yang berhasil melewati medan yang sulit.

Adanya migrasi dan analisis DNA juga dapat menjelaskan keberadaan pribumi atau orang Indonesia asli. Bila pribumi sering kali diartikan sebagai orang yang telah mendiami suatu tempat selama beberapa generasi, sains berkata sebaliknya.

“Pribumi itu 100 persen. Nah, yang 100 persen mana, kalau kamu melihat hasilnya tadi? Tidak ada satu pun yang 100 persen,” kata Herawati.