Mengapa Kita Sulit Mengubah Kebiasaan Tidur? Ternyata Ini Jawabannya


Ada orang yang tampaknya sangat teratur dalam urusan tidur. Mereka tidur pada waktu yang sama, dan bangun pada waktu yang sama pula. Tampaknya, mereka sangat mudah untuk tidur, semudah saat mereka bangun. Saat melihat orang semacam itu, bisa jadi kita ingin meniru. 

Tetapi, di luar dugaan, mencoba tidur tepat waktu—apalagi ditambah bangun tepat waktu—sering kali luar biasa sulit.

Kita yang biasa tidur pukul 22:00, misalnya, mungkin ingin mengubah jam tidur menjadi pukul 21:00. Hanya mundur satu jam, dan kita mungkin berpikir itu mudah. Tapi bisa jadi sulit sekali. 

Mengubah waktu tidur, tampaknya, tidak seremeh dan semudah yang dibayangkan banyak orang. Itu membutuhkan latihan dan pembentukan kebiasaan yang harus dilakukan perlahan-lahan dan teratur, serta terus menerus.

Menyangkut jadwal tidur, ada penelitian menarik yang dilakukan tim ilmuwan dari National Institute of Mental Health di Bethesda, Maryland, AS. Berdasarkan penelitian tersebut, ternyata jam tubuh manusia memprogram sejumlah orang untuk tidur lebih lama, atau lebih sedikit, dibandingkan yang lain. 

Dr. Daniel Aeschbach, salah satu peneliti, menyatakan bahwa jam internal atau ritme sirkadian mengendalikan kapan kita tidur dan bangun, serta memainkan peran dalam proses biologis lain, seperti pengaturan temperatur dan produksi hormon. 

Jam internal tubuh menciptakan sinyal yang membagi siklus sirkadian menjadi dua periode yang berbeda, biologis siang dan biologis malam. Pada biologis malam, tubuh kita mengalami perubahan tingkat hormon, temperatur, dan kecenderungan untuk tidur.  

Rata-rata orang dewasa tidur 7,5 jam semalam, beberapa orang perlu waktu lebih banyak, sementara lainnya membutuhkan lebih sedikit. Dalam penelitian yang dipublikasikan di Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism tersebut, para peneliti membandingkan orang yang biasa tidur lama (sekitar 9 jam) dengan orang yang biasa tidur sebentar (sekitar 7 jam). 

Para relawan yang terlibat dalam penelitian itu diminta terjaga atau tidak tidur selama 40 jam, sehingga yang biasa tidur lama dan yang biasa tidur sebentar berada dalam kondisi yang sama.

Dari berbagai pengukuran yang mencakup tingkat hormon, temperatur tubuh, dan tingkat kantuk yang terjadi, para peneliti mendapati bahwa orang yang biasa tidur lama memiliki biologis malam lebih panjang, dibandingkan orang yang biasa tidur sebentar. 

Untuk hal tersebut, Dr. Daniel Aeschbach menyatakan, “Ini berarti ada perbedaan sinyal sirkadian di dalam tubuh mereka.”

Penyebab perbedaan itu memang belum diketahui. Namun, fakta yang diungkap dalam penelitian itu menjelaskan mengapa kita sulit mengubah kebiasaan pola tidur. Karenanya, seperti yang dinyatakan di atas, mengubah pola tidur membutuhkan latihan dan pembentukan kebiasaan yang perlu dilakukan dengan sabar, teratur, dan kontinyu.