Mengapa Berita Hoax Cepat Menyebar di Internet? Ini Penjelasan Ahli


Hoax atau hoaks adalah sebutan untuk berita atau kabar yang sebenarnya palsu, tapi seolah-olah benar terjadi. Ada banyak sekali hoax atau kabar palsu yang beredar di dunia maya selama ini, dan telah membuat banyak orang mempercayainya mentah-mentah. Yang mengkhawatirkan, sebagian hoax yang beredar bernada provokatif, sehingga dapat memicu amarah sebagian pihak, yang lalu berlaku agresif.

Kenyataan itu tentu patut dikhawatirkan, dan karena itu pula penyebar hoax di internet termasuk pihak yang diburu untuk ditangkap. Karena keberadaan mereka bisa memecah-belah orang-orang. Pertanyaannya, mengapa ada banyak hoax di internet, dan mengapa berita hoax cepat menyebar?

Para peneliti dari MIT mempelajari sekitar 126.285 informasi dan melakukan konfirmasi kebenaran atas informasi tersebut pada enam situs internet yang bekerja untuk melawan hoaks.

Enam situs tersebut adalah snopes.com, politifact.com, factcheck.org, truthorfiction.com, hoax-slayer.com, dan urbanlegends.about.com.

Dari hasil konfirmasi pada enam situs tersebut, ditemukan bahwa dua per tiga dari informasi yang ada ternyata palsu. Hanya satu per lima yang betul-betul benar, sementara sisanya adalah informasi yang isinya telah bercampur antara benar dan salah.

Selain enam situs tersebut, ada juga dua orang peneliti lain yang turut melakukan uji kebenaran atas ribuan informasi tersebut.

Menurut Soroush Vosoughi, pemimpin studi yang juga merupakan ilmuwan data MIT, ada tiga informasi atau cerita palsu yang tersebar cukup jauh dan cepat. Salah satunya adalah cerita tentang seorang penjaga keamanan Muslim yang menjadi pahlawan saat kejadian bom di Paris, Prancis, pada 2015.
 
Sementara dua sisanya adalah kisah tentang pemberian penghargaan pada Caitlyn Jenner yang kontroversial, dan kisah tentang episode dari acara TV "The Simpsons" yang dibilang memprediksi Trump jadi presiden AS pada tahun 2000, padahal itu adalah kisah dari tahun 2015.

Berita politik terbilang sangat laku dalam hal berita palsu. Dan kita telah melihat sendiri kondisi dunia media sosial Indonesia yang sering memanas menjelang pesta demokrasi.

Menurut temuan para peneliti MIT, berita politik atas hal yang mengejutkan atau menyulut kemarahan menyebar lebih cepat dibandingkan berita hoaks lainnya.

"Kepalsuan akan terlihat lebih aneh daripada kenyataan," jelas Sinan Aral, profesor teknologi informasi di MIT yang juga anggota tim studi. "Sangat mudah (informasi) menjadi aneh ketika berdasarkan dari karangan."

Temuan ini sejalan dengan riset sebelumnya yang mempelajari penyebaran informasi palsu. "Semakin aneh dan sensasional suatu cerita, semakin besar kemungkinan cerita akan di-retweet," kata Dan Kahan, peneliti dari riset tersebut.