Memahami Hubungan dan Pertentangan Antara Sains dengan Agama



Sains dan agama, tampaknya dua kubu yang saling terpisah, sulit disatukan, karena yang satu sering kali menyangkal yang lain. Agama mengajarkan sesuatu, lalu sains membuktikan ajaran itu keliru, dan begitu seterusnya. Meski, kadang-kadang, agama dan sains memiliki pandangan yang sama terhadap suatu hal.

Salah satu pandangan yang paling terkenal mengenai perbedaan antara sains dan agama adalah mengenai asal usul manusia dan penciptaan dunia. Agama mengajarkan, manusia berasal dari Adam dan Hawa yang turun dari surga, lalu berkembang menjadi umat manusia di bumi. Sementara sains menyebutkan asal usul manusia berasal dari evolusi, dan tidak terkait dengan Adam dan Hawa.

Agama mengajarkan bahwa dunia yang kita tinggali adalah hasil ciptaan Tuhan, sementara sains menemukan teori bahwa bumi tercipta dari sebuah ledakan besar yang dinamai Big Bang.

Selama ratusan tahun, para pemikir yang mendukung agama dan ilmu pengetahuan berusaha menyatukan kedua hal ini, kata Dr Thomas Dixon, penulis buku Ilmu Pengetahuan dan Agama: Sebuah Pendahuluan Pendek, dan pengajar sejarah di Universitas London.

Pernyataan Profesor Stephen Hawking pada Agustus 2010 bahwa fisika tidak memerlukan agama menjadi berita besar. Buku barunya, The Grand Design, menggunakan Teori-M untuk menyatakan hukum fisika menciptakan alam semesta tanpa bantuan.

Ledakan Besar tidak memerlukan picuan supernatural. Big Bang bisa terjadi begitu saja, selama berkali-kali tanpa henti di alam semesta, sama seperti lilin pada kue ulang tahun yang tidak bisa ditiup mati.

Jadi apakah penolakan Profesor Hawking tentang Tuhan hanyalah salah satu contoh konflik yang sudah berlangsung lama antara agama dan ilmu pengetahuan? Apakah sejarah mengisyaratkan kedua usaha besar manusia ini akan selalu berbenturan? Tidak selalu.

Banyak terjadi bentrokan antara keyakinan dan ilmu pengetahuan, yang paling terkenal kemungkinan adalah kecaman Galileo terhadap aksi agama Katolik menghukum kelompok sesat di Roma pada tahun 1633. 

Hukuman dan ajaran sesat

Saat itu pengetahuan umum, ilmu pengetahuan dan Gereja, memandang Bumi adalah pusat alam semesta. Tetapi lewat hasil pengamatan dengan menggunakan teleskopnya, Galileo menyatakan Bumi berputar mengelilingi Matahari. Menurut sejumlah legenda, Galileo dipenjara dan bahkan disiksa gereja Katolik.

Semua hal ini sebenarnya tidak terjadi, tetapi dia memang dituduh menentang agama, dikenai tahanan rumah, dipaksa menyatakan dirinya dikutuk, dan menentang "kesalahan dan kesesatan" karya ilmu pengetahuannya.

Gereja kemudian mengakui kesalahan pandangannya, dengan mencabut karya Galileo dari indeks buku-buku terlarang, meskipun baru dilakukan pada abad 19.

Kemudian muncul keributan terkenal tentang Musa dan monyet di Inggris pada masa Ratu Victoria abad ke 19, ketika sejumlah warga Kristen menyerang teori evolusi Charles Darwin karena bertentangan dengan Injil.

Di Oxford pada tahun 1860, kurang setahun setelah penerbitan On The Origin of Species yang menjadi dasar teori tersebut, terjadi perdebatan terkenal antara Uskup Oxford, Samuel Wilberforce dan ahli biologi Thomas Huxley. Dikabarkan bahwa di depan ruang pertemuan yang penuh pengunjung, Wilberforce bertanya kepada Huxley, apakah kakek atau neneknya yang keturunan monyet.

Uskup zaman Victoria memandang hal ini sebagai lelucon, tetapi Huxley tersinggung. Dengan marah dia mengatakan dirinya lebih suka menjadi keturunan monyet daripada seorang uskup yang menyalahgunakan kekuasaan dengan berusaha melucu dalam sebuah pembicaraan serius. 

Hubungan monyet

Saat menulis karya besarnya, Darwin masih percaya pada Tuhan, dan menulis tentang pencipta yang menerapkan hukum materi, dan memberikan kehidupan pada alam. "Kemegahan terjadi dalam pandangan hidup seperti ini," Darwin menyimpulkan, dan banyak orang sependapat.

Sekarang terdapat sejumlah ilmuwan aliran evolusi yang menggabungkan ilmu pengetahuan dengan keyakinan agama.

Kenneth Miller adalah seorang ahli biologi beragama Katolik yang menentang bentuk baru penciptaan Disain Pintar yang terjadi di sebagian wilayah Amerika. Mantan pimpinan Proyek Genom Manusia, Francis Collins, memadukan agama Protestan dengan pekerjaannya sebagai ahli genetika.

Di dekat makam Darwin di Westminster Abbey, terdapat bapak ilmu pengetahuan lain, Sir Isaac Newton, yang menjadi Profesor Lucasian matematika di Cambridge tiga abad sebelum Stephen Hawking.

Kita dapat memperkirakan pendapat Newton tentang kesimpulan teologis penerusnya. Newton menulis ateisme "tidak berguna dan menjijikkan". Newton memandang keteraturan kosmos menunjukkan Tuhan "sangat terampil dalam mekanika dan geometri", Tuhan agak mirip dengan Newton sendiri. 

Bakteri muntah

Dalam masa berabad-abad yang memisahkan Newton dengan Darwin, banyak pemikir besar memandang ilmu pengetahuan meningkatkan bukti adanya Tuhan. Pandangan seperti itu mendukung pandangan bahwa insting lebah, keindahan anggrek, dan konstruksi mata dan tangan manusia, menunjukkan kekuasaan dan kebaikan Tuhan. Sekarang pendukung gerakan Intelligent Design atau Disain Pintar menemukan bukti kekuasaan dan kebaikan Tuhan pada ekor berputar bakteri E. coli.

Sejumlah orang mungkin terkejut bahwa bakteri penyebab muntah adalah bukti paling jelas tentang kepintaran Tuhan. 

Pandangan keagamaan tradisional jelas menghadapi tekanan dari kalangan ilmu pengetahuan dalam 400 tahun terakhir. Temuan astronomi modern, geologi dan biologi memastikan bahwa buku-buku Musa tidak dapat diterima secara ilmiah.

Tetapi tentu saja hal tersebut tidak perlu dilihat seperti itu. Galileo menyuarakan pandangan banyak orang saat mengatakan Injil menyatakan cara ke surga bukannya hilangnya surga.

Ilmu pengetahuan dan agama memiliki hubungan yang erat dan bermasalah, sama seperti antara saudara kandung atau bahkan suami istri. Keduanya mengagungkan kebesaran dunia, dan berkeinginan untuk mengetahui apa yang terjadi dibelakangnya.

Kehausan terhadap emosi dan intelektual akan berlangsung lebih lama daripada teori-M Profesor Hawking, dan orang-orang yang berkeinginan mengadopsi pandangan ilmu pengetahun murni dinasehatkan untuk mengikuti pendangan agnostik Thomas Huxley. 

Sebelum meninggal, dia menulis, "Bukankah lebih baik untuk tidak berkomentar tentang materi, karena kata-kata tidak dapat menggambarkan hal ini; dengan berpuas diri pada kepastian hal-hal yang tidak diketahui yang terus terjadi?"