Kisah Suram di Balik Keindahan Alam Grand Canyon di Amerika


Grand Canyon adalah salah satu kawasan wisata terkenal di Amerika Serikat, yang setiap tahun dikunjungi sekitar 5,5 juta wisatawan. Bentang alam yang mempesona di Grand Canyon kerap dijadikan sebagai tempat untuk selfie, atau untuk mengagumi keindahan alam. Yang mungkin jarang disadari para wisatawan, Grand Canyon sebenarnya sebuah desa.

Sebelum kedatangan pemukim Eropa, Grand Canyon adalah rumah alam bagi suku Havasupai. Dahulu, orang Havasupai biasa menjelajahi 1,6 juta hektar wilayahnya, namun keindahan alam mereka telah menarik hasrat pemerintah untuk membudidayakannya.

Hingga pada 1882, hamparan luas milik Havasupai itu menyusut jadi 518 hektar. Dalam periode selanjutnya, banyak suku asli Amerika yang dipindahkan dari tanah kelahiran mereka secara paksa. Havasupai pun menjalani serangkaian perlawanan mengenai hak wilayah leluhur mereka.

Mereka cukup cerdik. Ketika Presiden Franklin Delano Roosevelt membuka Grand Canyon Part di National Park Service pada 1919, orang-orang Havasupai menawarkan keahlian mereka sebagai tour guide, agar bisa tetap tinggal di desanya.

Havasupai bermakna ‘orang-orang dari perairan biru-hijau’. Mereka tinggal di dekat Air Terjun Havasu, dan telah diam-diam hidup di pedalaman Arizona, Amerika Serikat, selama lebih dari seribu tahun.

Penduduk percaya, eksistensi merekalah yang membuat Air Terjun Havasu tetap mengalir. Curah hujan di sana sangat sedikit, karenanya keberadaan air terjun di area tandus Grand Canyon bagai keajaiban. Meski sebenarnya itu bukan mistis, karena sumber Air Terjun Havasu berasal dari mata air bawah tanah yang berusia 30.000 tahun.

Saat ini, cuma ada tiga cara untuk sampai di Desa Havasupai; menaiki kereta keledai melalui ngarai, berjalan kaki dan mendaki bukit, atau naik helikopter. Pengunjung boleh tinggal di desa ini untuk beberapa hari pada bulan Februari sampai November, jika mendapatkan izin khusus dari Dewan Suku Havasupai.