Kisah Hoax Tertua yang Tercatat Sejarah: Terjadi Pada Tahun 1661


Di Indonesia, istilah hoax atau hoaks mungkin belum lama populer. Istilah itu muncul ke permukaan setelah seringnya muncul kabar-kabar tertentu yang belakangan diketahui bohong belaka. Sejak itu, publik Indonesia pun mulai akrab dengan istilah hoax, hingga sekarang. 

Meski di Indonesia baru dikenal dalam satu dekade terakhir, namun sebenarnya hoax telah lama dikenal di dunia, dan memiliki akar sejarah yang panjang. Istilah “hoaks”, yang kini tercantum di Kamus Besar Bahasa Indonesia dengan arti “berita bohong”, tidak sesederhana kelihatannya. 

Sebuah kebohongan bisa disebut hoaks apabila dibuat secara sengaja agar dipercaya sebagai sebuah kebenaran. Tak hanya itu, kebohongan baru bisa disebut hoaks apabila keberadaannya memiliki tujuan tertentu, misalnya untuk mempengaruhi opini publik.

Di luar rumor, kabar burung, dan desas-desus yang jelas berusia lebih tua lagi, hoaks pertama yang berhasil dicatat sejarah ditemui pada 1661. Kasus tersebut adalah soal Drummer of Tedworth, yang berkisah soal John Mompesson—seorang tuan tanah—yang dihantui oleh suara-suara drum setiap malam di rumahnya. 

Ia mendapat nasib tersebut setelah menuntut William Drury—seorang drummer band gipsy—dan berhasil memenangkan perkara. Mompesson menuduh Drury melakukan guna-guna terhadap rumahnya, karena dendam akibat kekalahannya di pengadilan. 

Singkat cerita, seorang penulis bernama Glanvill mendengar kisah tersebut. Ia mendatangi rumah tersebut dan mengaku mendengar suara-suara yang sama. Ia kemudian menceritakannya ke dalam tiga buku cerita yang diakunya berasal dari kisah nyata. 

Kehebohan dan keseraman local horror story tersebut berhasil menaikkan penjualan buku Glanvill. Namun, pada buku ketiga, Glanvill mengakui bahwa suara-suara tersebut hanyalah trik, dan apa yang ia ceritakan adalah bohong belaka.

Ada juga kisah soal Benjamin Franklin yang pada tahun 1745, lewat harian Pennsylvania Gazette, mengungkap adanya sebuah benda bernama “Batu China” yang dapat mengobati rabies, kanker, dan penyakit-penyakit lainnya. Sayangnya, nama Benjamin Franklin saat itu membuat standar verifikasi kedokteran tidak dilakukan sebagaimana standar semestinya.

Meski begitu, ternyata batu yang dimaksud hanyalah tanduk rusa biasa yang tak memiliki fungsi medis apapun. Hal tersebut diketahui oleh salah seorang pembaca harian Pennsylvania Gazette, yang membuktikan tulisan Benjamin Franklin tersebut. Hoaks-hoaks senada beberapa kali terjadi sampai adanya Badan Makanan dan Obat-obatan Amerika Serikat pada awal abad 20.

Meskipun demikian, kata “hoaks” baru mulai digunakan sekitar tahun 1808. Kata tersebut dipercaya datang dari hocus yang berarti “untuk mengelabui”. Kata “hocus” merupakan penyingkatan dari “hocus pocus”, semacam mantra yang kerap digunakan dalam pertunjukan sulap, saat akan terjadi sebuah punch line dalam pertunjukan di panggung.

Hingga kini, eksistensi hoaks terus meningkat. Dari kabar palsu seperti entitas raksasa seperti Loch Ness, tembok China yang terlihat dari luar angkasa, hingga ribuan hoaks yang bertebaran di pemilihan umum presiden Amerika Serikat di tahun 2016. Semua hoaks tersebut punya tujuan masing-masing, dari sesederhana publisitas diri hingga tujuan yang amat genting seperti politik praktis sebuah negara adidaya.

Kemunculan internet semakin memperparah sirkulasi hoaks di dunia. Sama seperti meme, keberadaannya sangat mudah menyebar lewat media-media sosial. Apalagi biasanya konten hoaks memiliki isu yang tengah ramai di masyarakat dan menghebohkan, yang membuatnya sangat mudah memancing orang membagikan.