Kisah di Balik Tangan Raksasa di Gurun Paling Kering di Dunia


Bayangkan suatu tempat yang kering, sepi, tidak ada seorang pun, dan kita terdampar di sana. Tidak ada siapa pun, dan tidak ada apa pun, selain hanya hamparan padang pasir luas yang kering kerontang. Namun, di tengah-tengah padang pasir yang sepi itu terlihat sebuah tangan raksasa, seperti keluar dari kedalaman pasir. Itulah pemandangan yang ada di Gurun Atacama.

Gurun Atacama adalah salah satu gurun yang paling kering dan paling sepi di muka bumi. Sekilas, wujudnya bahkan menyerupai dataran di planet Mars. Studi yang dilakukan oleh NASA menunjukkan bahwa rata-rata curah hujan di wilayah ini hanya sekitar 1 mm per tahun. 

Dengan area padang pasir yang luas dan tidak menerima hujan sama sekali selama bertahun-tahun, tentu membuat wilayah ini menjadi ekstrem. Bahkan suhunya pun bisa mencapai level 40º C (104º F) di bawah sinar matahari dan 5º C (41º F) selama malam hari, yang membuat gurun ini begitu kering hingga hampir tidak mungkin orang tinggal di sini untuk waktu yang lama. 

Karena alasan inilah, sangat aneh kalau kemudian ada sisa-sisa manusia zaman dulu ditemukan di sini, yang menunjukkan berkembangnya peradaban yang telah lama hilang di gurun ini.

Pada tahun 1917, seorang arkeolog Jerman bernama Max Uhle, pertama kali mengidentifikasi bahwa orang-orang zaman dulu yang menempati wilayah gurun ini mengandalkan sebagian besar kehidupannya pada memancing, berburu, dan mengumpulkan berbagai kebutuhan makanan. Mereka diprediksi tinggal di Gurun Atacama dan Peru selatan antara 7.000 dan 1500 SM.

Dalam ekspedisi arkeologisnya, dia menemukan mumi sisa-sisa Chinchoros yang jauh lebih lama dari mumi Mesir yang berumur ribuan tahun.

Gurun Atacama tidak terlihat ada tanda-tanda aktivitas manusia dengan pemandangan yang hanya sebatas gurun pasir yang kering. Tapi ada sebuah jalan kerikil kecil sekitar 75 km dari selatan kota Antofagasta, dengan tanda "1309" di jalan tol Pan-American, mengarah ke sebuah tangan yang terbuat dari semen setinggi 11 meter.

Tangan menonjol di atas pasir itu adalah karya pemahat asal Chili, bernama Mario Irarrázabal. Pahatan ini diberi nama La Mano del Desierto atau Tangan Gurun.

Tangan raksasa itu menggambarkan kerentanan dan ketidakberdayaan rakyat Chili, terutama para penambang di kota Antofagasta, pusat terpencil industri pertambangan tembaga Chili.

Pematung Mario Irarrázabal menciptakan empat jari terentang dan ibu jari yang memberi kesan raksasa yang terkubur, meraih langit meminta bantuan.