Kisah Anak-anak Muda Indonesia Mengubah Sampah jadi Barang Bernilai Jutaan Rupiah


Sampah adalah sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita, karena masing-masing kita memproduksi sampah. Karenanya, bentuk sampah pun beragam, yang biasanya disebut sampah organik dan sampah non organik. 

Saat ini, sampah telah menjadi masalah besar, karena menumpuk di mana-mana. Jumlah sampah terus meningkat, sementara pengelolaannya lebih lambat, atau tak bisa mengikuti kenaikan jumlah sampah yang ada. 

Untung, di tengah masalah sampah semacam itu ada orang-orang kreatif yang bisa mengubah sampah menjadi barang-barang bernilai—karya seni, kerajinan tangan, dan lain-lain—hingga memiliki harga jutaan rupiah. 

Tentu tidak semua jenis sampah bisa diubah menjadi karya tertentu. Namun, hal-hal yang dilakukan orang-orang berikut ini, dalam memanfaatkan sampah, mungkin bisa memberi inspirasi bagi kita.

Angger, Anggara, Arief, dan kardus bekas

Angger, Anggara, dan Arief tiga orang mahasiswa asal Institut Teknologi Surabaya (ITS) berhasil meraih keuntungan lumayan dengan bermodalkan kardus bekas. Usaha yang sudah dimulai sejak 2013 dan diberi nama Dus Duk Duk kini sudah merambah bisnis ritel. 

Beberapa produk yang diritel, seperti mainan anak-anak berbentuk binatang, pesawat, organ tubuh, dan tempat pensil, dijual seharga Rp 150.000 per kemasan.

Meskipun belum mengekspor, tapi mereka sudah beberapa kali kerja sama dengan beberapa art designer dan arsitektur dari luar negeri, di antaranya dari Italia dan Belanda. Harganya pun lumayan, yakni mencapai Rp 10 juta untuk produk instalasi seni yang dipajang sebagai kap lampu. Produk Dus Duk Duk ini pun berhasil menjadi hiasan interior di sebuah hotel di Belanda.

Harga termahal yang ditawarkan pun sesuai dengan bentuk produknya, mulai dari Rp 150.000 sampai Rp 60 juta. Permintaan produk terbanyak biasanya berupa instalasi untuk mall, hotel, kantor, pameran, dan dekorasi lainnya. Produk Dus Duk Duk disukai karena pengemasannya mudah sehingga pembeli bisa bongkar pasang sendiri.

Rosihariyati, Herdiantoro, dan kaleng bekas

Di tangan mereka berdua, kaleng bekas berubah menjadi bermacam-macam karya. Herdiantoro menyulap kaleng bekas menjadi minatur sepeda motor, kapal laut, bahkan menyerupai orang yang sedangan menari. 

Harganya bevariatif mulai dari Rp 50.000 sampai Rp 2 juta. Bahan bakunya sendiri cukup mudah ditemukan. Selain mengandalkan sampah kaleng yang dikumpulkannya sendiri, ia biasa membeli dari dari para pemulung seharga Rp 12.000/kg.

Sama-sama membuat kerajinan, Rosihariyati membuat pajangan dari lembaran-lembaran kaleng bekas. Pada awalnya dia hanya iseng menggunting kaleng menjadi bentuk lembaran kemudian menggambar di atasnya. Ternyata di balik lembaran tersebut muncul motif gambar timbul yang lebih bagus.

Dari situlah tercetus ide untuk menggambar ikon Jakarta seperti monas, mobil, dan gambar-gambar lainnya. Hasil gambar dari lembaran kaleng bekas tersebut kemudian dia bingkai agar lebih menarik. Lewat kreativitasnya, Rosiharyati dapat mengantongi Rp 500.000-Rp 2,5 juta per bingkai tergantung ukuran.

Rozi, Imal, dan sampah kerang

Saat ini, kerang memang sudah banyak dikreasikan menjadi beragam bentuk kerajinan. Salah satu pelaku usaha berbahan dasar sampah kerang adalah Rozi. Usaha yang ditekuninya ini bermula sejak 2005 ketika melihat sampah kerang di pantai. 

Di tangannya, sampah kerang disulap menjadi lampu cantik nan elegan. Dalam sebulan dia bisa mengantongi omzet rata-rata Rp 200 juta/bulan. Produknya sendiri sudah merambah pasar ekspor seperti ke Amerika dan India.

Kalau di Jepara ada Rozi, di Pandeglang Banten ada Imal. Selain disulap menjadi lampu hias, limbah kerang juga disulapnya menjadi beragam hiasan dinding yang cantik. Dalam sehari, dirinya mengaku bisa menjual hingga 70 buah karya yang dibanderol dengan harga Rp 100.000-300.000 per buah.

Amir Hendi dan limbah kertas

Amir Hendi, warga asal Bengkulu, berhasil menyulap limbah kertas menjadi lukisan tiga dimensi yang bernilai ekonomi. Usaha kerajinan tangan dan miniatur ini serius digelutinya sejak 2002. 

Mulanya ia terinspirasi dari membuat kerajinan tangan berbentuk peta di tempat dirinya mengajar. Lewat kreativitas teknik tiga dimensi, ia mampu menciptakan lukisan bunga Rafflesia Arnoldi dan Amorphophallus mirip seperti sungguhan.

Lukisan karyanya dihargai mulai dari Rp25 ribu hingga Rp500 ribu per bingkai. Dalam sebulan ia bisa meraup omzet Rp2 juta hingga Rp3 juta. Dari hasil usaha lukisan berbahan baku limbah kertas ini, ia bisa menguliahkan keempat anaknya hingga menjadi sarjana.

Haerani Erlina dan koran bekas

Koran bekas hampir selalu kita temui di mana-mana. Tapi tidak semua orang terbersit ide untuk menyulapnya menjadi barang bernilai ekonomi. 

Adalah Haerani Erlina, ibu rumah tangga kelahiran Bandung yang memproduksi tempat sampah, vas bunga, tempat tisu, tempat payung, karpet, tempat aksesoris, tas, penutup makanan, keranjang, bingkai foto, dan alas piring berbahan koran bekas.

Modalnya hanya sebesar Rp 100 ribu. Itu pun untuk membeli lem dan pelitur sedangkan koran bekas ia dapatkan secara cuma-cuma. Dengan modal yang minim, Haerani menjual karyanya mulai dari Rp5.000 hingga Rp 400 ribu tergantung ukuran dan kerumitan pembuatan. 

Dalam sehari, ia dan pengrajinnya mampu menghasilkan sekitar 30 barang per hari untuk ukuran kecil. Sedang yang berukuran besar diproduksi 10 produk per hari dengan omzet berkisar Rp 5 juta per bulan.

Karena inisiatif memberdayakan masyarakat sekitar dan kreativitas tanpa batas ini, Haerani didaulat menjadi ketua Komunitas Daur Ulang Indonesia. Dia juga pernah diikutsertakan oleh pemerintah dalam pameran yang berlangsung di Hong Kong beberapa waktu lalu.