Kata Ilmuwan Stephen Hawking, Surga Itu Tidak Ada


Apakah Anda percaya keberadaan alam akhirat setelah kematian manusia? Jika ya, maka Anda tentu percaya keberadaan surga dan neraka di alam akhirat, karena dua tempat itu—surga dan neraka—memang menjadi tempat balasan bagi umat manusia. Yang baik akan masuk surga, yang buruk akan masuk neraka. Setidaknya, begitulah yang diajarkan oleh agama.

Sebagaimana bentuk ajaran agama lain, keberadaan alam akhirat, termasuk surga dan neraka, sulit dibuktikan, selain hanya bisa diyakini melalui keimanan. Dalam hal itu, sebagian kalangan—khususnya para ilmuwan—sulit mempercayai keberadaan alam akhirat, termasuk surga dan neraka. Salah satu ilmuwan yang tidak mempercayai keberadaan alam akhirat adalah Stephen Hawking.

Stephen Hawking pernah berbicara soal surga dan neraka saat diwawancarai The Guardian. Menurut fisikawan ternama dari University of Cambridge ini, surga itu tak ada.

Hawking mengatakan kepercayaan mengenai surga atau kehidupan setelah mati adalah "cerita bohong" bagi orang-orang yang takut mati. Sebagai penegasan penolakannya terhadap nilai keagamaan, ilmuwan paling terkenal asal Inggris ini mengatakan tidak ada masa setelah otak kita berhenti bekerja.

Hawking yang didiagnosis menderita penyakit motor neurone ketika usianya 21 tahun ini juga mengungkapkan pendapatnya mengenai kematian, tujuan hidup manusia, dan peluang keberlangsungan hidup manusia. Penyakitnya yang tidak bisa disembuhkan diperkirakan bakal mencabut nyawa Hawking. Namun, masa depannya yang dianggap suram tersebut justru membuat Hawking lebih menikmati hidup.

"Saya telah hidup dengan ancaman mati lebih dini selama 49 tahun. Saya tidak takut mati. Namun, saya tidak mau buru-buru meninggal. Saya masih mau melakukan banyak hal," ujar Hawking.

"Saya mengibaratkan otak sebagai sebuah komputer yang akan berhenti ketika komponennya rusak. Tidak ada surga atau kehidupan setelah mati bagi komputer-komputer yang rusak. Itu hanya cerita bohong bagi orang yang takut kegelapan," tambahnya.

Komentar Hawking tersebut sejalan dengan pendapatnya pada bukunya, The Grand Design. Di buku itu, Hawking menegaskan tidak perlu Sang Pencipta untuk menjelaskan keberadaan alam semesta. Buku tersebut memicu kecaman dari para pemimpin agama, termasuk Rabbi Lord Sack. Sack menuding Hawking memiliki logika mendasar yang keliru.