Hati-hati, Tikus Ternyata Bisa Menularkan Penyakit Cacingan


Di antara hewan-hewan yang kadang berdekatan dengan manusia, tikus adalah salah satunya. Hewan dengan tubuh hitam yang kadang juga berbau tidak enak itu kadang masuk ke dapur rumah kita, mencuri makanan yang mungkin mereka temukan. Kadang pula, tikus bahkan masuk ke ruangan rumah atau kamar. 

Sekilas, tikus tampak tidak berbahaya, selain hanya menjengkelkan, karena suka menggerogoti apa pun. Karenanya, banyak orang yang menganggap remeh masalah tikus di rumahnya. Namun, ternyata, tikus juga mengandung bahaya, yang salah satunya adalah dapat menularkan penyakit cacingan ke manusia.

Masyarakat sepatutnya bersikap waspada terhadap keberadaan tikus. Sebab, hewan pengerat yang kerap dijumpai di lingkungan tempat tinggal manusia ini ternyata merupakan salah satu agen dalam penyebaran penyakit menular pada manusia. 

Selama ini, wilayah aktivitas tikus dalam mencari makan maupun tempat bersarang mereka kerap bersinggungan dengan tempat tinggal manusia. Akibatnya, tentu saja potensi penularan penyakit melalui tikus kepada manusia sangatlah tinggi. 

Beberapa penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia (zoonosis) yang dapat disebabkan oleh tikus antara lain adalah pes, leptospirosis, salmonelosis, tifus, dan penyakit cacingan. Penyakit cacingan selama ini kurang mendapat perhatian serius dari masyarakat, ternyata dapat menimbulkan efek yang sangat merugikan bagi kesehatan.

Tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Institut Pertanian Bogor (IPB) yang terdiri dari Dr. drh. Risa Tiuria, drh. Ridi Arif, dan Herianto Sitepu, telah melakukan riset untuk melihat jenis-jenis cacing pada organ tubuh tikus got (Rattus norvegicus) dan tikus rumah (Rattus tanezumi). Dua spesies tikus ini diteliti karena habitat mereka sangat dekat dengan manusia.

Dari riset ini, diperoleh informasi terkait jenis-jenis spesies cacing yang ditemukan dan gambaran infeksi cacing pada tikus. 

Cacing yang teridentifikasi pada tikus got adalah cacing pita tikus (Hymenolepis diminuta), Nippostrongilus brassiliensis, Angiostrongylus cantonensis, dan Strobilocercus. Sedangkan cacing yang teridentifikasi pada tikus rumah yaitu Hymenolepis diminuta.  

Dr. Risa memaparkan, berdasarkan berbagai studi terdahulu, hampir seluruh organ tubuh tikus sudah terinfeksi oleh penyakit infeksius (berbahaya), terutama penyakit cacingan. Beberapa penyakit cacingan yang kemudian dapat disebarkan oleh tikus ke manusia antara lain himenolepiasis, strobilocerkosis, serta penyakit meningocephalitis. 

Herianto, salah satu peneliti, menjelaskan dalam penelitian ini ditemukan Angiostrongylus cantonensis, yaitu cacing zoonosis yang menyebabkan penyakit meningoensefalitis Strobilocercus, pada organ hati tikus. Selain itu, Hymenolepis diminuta dan Nippostrongilus brassiliensis juga ditemukan pada organ usus tikus, dan Angiostrongylus cantonensis ditemukan pada organ jantung hewan pengerat ini. 

“Cacing yang ditemukan dalam penelitian ini hampir semua bersifat zoonosis (dapat menular ke manusia). Gambaran infeksi pada tikus, yaitu infeksi tunggal, infeksi, dan jumlah cacing lebih banyak (ditemukan) pada tikus dengan umur dewasa dan tikus jantan,” ujarnya.