Hasil Survei: Keharmonisan Keluarga adalah Kunci Kebahagiaan Orang Indonesia


Hal-hal yang mempengaruhi kebahagiaan orang di masing-masing negara bisa berbeda, karena kultur dan cara hidup yang memang tak sama. Di negara-negara yang sangat kompetitif, faktor paling menentukan untuk bahagia bisa jadi pekerjaan yang mapan dan penghasilan yang cukup, karena biaya hidup sangat tinggi. Namun, hal itu belum tentu sama dengan mayorias masyarakat di Indonesia.

Secara internal, Indonesia juga telah melakukan perhitungan soal kebahagiaan dengan memperhatikan tiga indikator: dimensi perasaan (seperti tidak tertekan atau gelisah), kepuasan hidup personal atau individu, dan dimensi makna hidup (pengembangan diri dan hubungan dengan orang lain). 

Hasil Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK), Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Indeks Kebahagiaan Indonesia mencapai 70,69 pada skala 0-100.

Menurut laporan ini, dimensi keharmonisan keluarga (indikator kepuasan hidup sosial) memiliki nilai yang paling tinggi sebesar 80,05. Sementara itu, dimensi pendidikan dan keterampilan dengan skor 59,9 mendapatkan skor terendah. 

Maluku Utara menjadi provinsi dengan skor indeks kebahagiaan tertinggi (81,33), yaitu kepuasan terhadap aspek kehidupan sosial seperti keharmonisan keluarga, ketersediaan waktu luang, dan hubungan sosial.

“Dilihat dari ketiga dimensi penyusun Indeks Kebahagiaan, penduduk yang tinggal di wilayah perkotaan secara konsisten memiliki indeks yang lebih besar dibanding di wilayah pedesaan,” jelas Kepala BPS. 

Suhariyanto dalam keterangan resmi yang dilansir situs resmi Sekretaris Kabinet Republik Indonesia. Walaupun nilai indeksnya tidak jauh, 71,64 dibanding 69,57 peningkatan kualitas hidup untuk warga desa tetap harus dilakukan.

Salah satu solusi untuk menciptakan pembangunan inklusif yang merangkul daerah pedesaan, adalah dengan menciptakan keterbukaan pemerintah di daerah.