'Faktor X' di Balik Para Entrepreneur Sukses dan Pelajaran di Baliknya


Jumlah entrepreneur atau pengusaha sukses tentu jauh lebih sedikit dibandingkan para pegawainya, juga lebih sedikit dibandingkan entrepreneur atau pengusaha yang mungkin gagal. 

Pertanyaannya, mengapa mereka bisa sukses, sementara yang banyak lainnya mengalami kegagalan, atau hanya menjadi pegawai mereka? Apa faktor yang menentukan mereka bisa sukses?

Tren terkini, bersama popularitas startup, ada banyak orang yang memutuskan untuk membuka usaha rintisan, dengan harapan bisa menuai keuntungan dan menjadi pengusaha sukses. Namun, nyatanya, di antara segelintir yang sukses selalu ada banyak yang gagal. Fenomena semacam itu tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di seluruh dunia.

Banyak anggapan bahwa para entrepreneur sukses adalah orang-orang yang langka, memiliki bakat dan talenta yang berbeda dengan orang lainnya. Lihat saja sosok Richard Branson, Mark Zuckerberg, dan Steve Jobs yang merupakan sosok yang kerap pertama kali muncul ketika memikirkan wirausahawan sukses.

Namun demikian, ternyata menjadi seorang wirausahawan bukan hanya soal bakat dan mental yang gemilang. Sebuah studi menunjukkan bahwa sebenarnya sebagian besar wirausahawan adalah orang-orang biasa yang tak jauh berbeda dengan kita, namun memiliki akses pada kekayaan.

Laporan yang dirilis Reuters menunjukkan sebagian besar perusahaan rintisan (startup) didirikan oleh mantan bankir yang memiliki jejaring luas. Ada pula fakta yang diyakini secara meluas bahwa perusahaan modal ventura lebih senang dikenalkan pada pendiri perusahaan rintisan lewat koneksi mereka sendiri.

Yang menarik, koneksi ini dimulai dari universitas. Sebagai contoh, alumni Harvard, MIT, dan Yale University biasanya bekerja di perbankan, perusahaan modal ventura, dan perusahaan yang sudah mapan seperti Google dan McKinsey di mana akhirnya mereka membangun jejaring dengan orang-orang berpengaruh.

Beberapa pengusaha sukses juga ternyata berasal dari keluarga kaya. Contohnya adalah semua orang tahu bagaimana Bill Gates mulai merintis Microsoft, namun tak banyak yang tahu bahwa orang tua Gates yang kaya membantu mendirikan usaha Gates, dan membantunya memperoleh klien pertama di IBM.

Namun demikian, banyak juga pihak yang memandang kekayaan dan koneksi yang baik tak menjamin kesuksesan. Bakat dan mental yang baik pun dapat menggiring seseorang pada kesuksesan.

Akan tetapi, pada akhirnya, Anda tak perlu kaya dan memiliki jejaring yang luas untuk menjadi pengusaha sukses. Patahkanlah statistik, studi, maupun survei tersebut, dan dengan gigih memulai usaha hingga akhirnya meraih kesuksesan.

Mereka yang tidak memiliki kekayaan dan koneksi pun banyak yang sudah terbukti menjadi pengusaha sukses. Sehingga, jangan pernah pesimis untuk menangkap kesuksesan Anda!