Di Masa Hidupnya, Ilmuwan Stephen Hawking Sempat Ingin Bunuh Diri


Ternyata, ilmuwan terkemuka dunia, Stephen Hawking, pernah berencana melakukan bunuh diri. Pernyataan yang mungkin mengejutkan itu muncul saat ia diwawancarai oleh BBC. Stephen Hawking menyatakan, ia mungkin mempertimbangkan bunuh diri dalam kondisi tertentu. Namun, dia menyatakan tidak mendukung hak seseorang untuk mengakhiri hidup sendiri. 

Menurut Hawking, bunuh diri yang dilakukan harus legal, dan ia akan mempertimbangkan untuk dirinya sendiri. "Hanya jika saya sudah tidak bisa berkontribusi lebih bagi dunia," katanya. 

Kepada Dara O'Briain, yang mewawancarainya, Hawking menyatakan hanya akan mempertimbangkan untuk mengakhiri hidupnya sendiri jika ia kesakitan atau menjadi beban bagi orang yang dicintainya. Namun ia merasa terkutuk jika memutuskan untuk mati sebelum menguraikan banyak teorinya tentang alam semesta. 

Hawking menyatakan hal itu selama wawancara untuk sebuah film dokumenter BBC. Hawking menderita penyakit Amyotrophic lateral sclerosis, umumnya dikenal sebagai penyakit Lou Gehrig, selama puluhan tahun.

Hawking didiagnosis dengan kondisi itu ketika berusia 21. Namun kondisi fisik tidak menghentikannya untuk tetap berkontribusi terhadap ilmu pengetahuan, termasuk pemikirannya tentang teori lubang hitam dan asal-usul alam semesta pada 2010.

Hawking pernah mengatakan kepada BBC bahwa ia pernah mencoba bunuh diri pada pertengahan 1980-an setelah operasi trakeostomi. 

"Saya sempat mencoba bunuh diri dengan tidak bernapas," ujar Hawking, yang hidupnya pernah diangkat ke layar lebar dalam film The Theory of Everything. "Namun refleks untuk bernapas terlalu kuat."