Canggih! Di Masa Depan, Ponsel Tidak Lagi Memakai Kartu SIM


Ponsel dan kartu SIM adalah pasangan yang tak terpisahkan, khususnya saat ini. Ponsel tidak bisa dioperasikan—khususnya tidak bisa digunakan untuk menelepon—jika tidak dilengkapi kartu SIM. 

Sebaliknya, kartu SIM juga tidak bisa digunakan sebelum dimasukkan ke dalam ponsel. Keduanya saling membutuhkan, karena memiliki fungsi yang saling menunjang.

Kita tahu seperti apa bentuk kartu SIM, yang rata-rata bentuknya sama. Untuk menggunakannya, kita perlu membuka ponsel, lalu memasukkan kartu SIM ke dalamnya. Jika sewaktu-waktu ingin berganti operator, artinya kartu SIM yang ada di ponsel juga perlu diganti. Maka kita pun harus kembali membuka ponsel, mencabut kartu SIM lama, dan memasukkan kartu SIM baru. 

Meski mungkin tampak mudah, namun proses penggantian kartu SIM semacam itu bisa dibilang ribet, karena harus mematikan ponsel, membukanya, lalu menghidupkan ponsel kembali. Di masa depan, kartu SIM tampaknya akan punah, dan diganti cara lain yang lebih mudah dan praktis, yang disebut eSIM.

Ketika Google merilis ponsel pintar terbaru Pixel 2 dan Pixel 2 XL, ada satu fitur terbaru yang sebenarnya penting namun keberadaannya tak mendapat banyak sorotan. Fitur tersebut adalah eSIM (embedded Subscriber Identity Module), alias kartu SIM tertanam. 

Para pengguna ponsel bisa dipastikan tahu apa itu kartu SIM. Tanpanya, ponsel takkan bisa terhubung dengan operator telekomunikasi, sehingga sulit digunakan untuk berkomunikasi.

Sebelum beranjak kepada penjelasan mengenai eSIM, mari kita simak sejarah singkat kartu SIM.

Kartu SIM pada dasarnya menyimpan informasi jaringan tertentu, yang digunakan untuk autentifikasi dan mengidentifikasi para pelanggan di jaringan tersebut. Dalam 27 tahun terakhir, proses yang wajib dilakukan dalam penggunaannya adalah memasukkan kartu SIM fisik ke gawai yang ingin digunakan.

Pada tahun 1991, ukuran kartu SIM mencapai ukuran kartu kredit. Pada 1996, manufaktur menyusutkan ukurannya menjadi ukuran kartu SIM mini—ukuran yang dikenal luas saat penetrasi ponsel di Indonesia merebak sekitar tahun 1997.

Ukuran micro diperkenalkan pada 2003, disusul nano yang menjadi ukuran kartu SIM standar saat ini, yang diperkenalkan pada 2012.

Teknologi terus berkembang, dan ukuran SIM bisa semakin diperkecil. Tahun lalu GSMA (asosiasi yang mewakili operator jaringan di dunia) melahirkan eSIM. Sebuah cip dengan ukuran fisik 5mm x 5mm.

Karena ukuran yang sangat kecil, eSIM tidak perlu cabut-pasang lagi karena sudah tertanam di ponsel. Sebagai contoh di Google Pixel 2, jika ingin berganti operator, pengguna cukup melakukan sejumlah langkah langsung di layar ponsel. Dengan demikian, pengguna tak perlu lagi membeli kartu fisik, lalu memasukkannya ke ponsel.

Teknologi ini tentunya amat bermanfaat bagi mereka yang kerap bepergian ke luar negeri, karena bisa berganti operator dengan lebih mudah. Tak hanya itu, eSIM juga diklaim memiliki tingkat keamanan yang lebih baik.

Informasi dalam eSIM akan sesuai atau dapat ditulis ulang oleh semua operator, yang berarti pengguna dapat memutuskan untuk mengubah operator, hanya dengan panggilan telepon sederhana. Kartu SIM baru dalam bentuk fisik tidak akan diperlukan dan, seharusnya, tidak ada waktu yang terbuang untuk mengganti kartu saat pindah operator.

Sesuai namanya, cip eSIM tersolder ke papan sirkuit. Ia memiliki kemampuan M2M (Machine to Machine) dan Remote Provisioning. Kemampuan Remote Provisioning dalam standar eSIM itulah yang memungkinkan pengaturan operator jarak jauh, tanpa mengharuskan pengguna mendatangi kantor operator.

Pada Mobile World Congress, dalam Seminar GSMA, Thomas Henze, Direktur Program eSIM, Product Innovation, Deutsche Telekom, mendemonstrasikan cara pengaktifan eSIM melalui pemindaian kode di sebuah surat berbentuk fisik dari operator.

Pada demo lain, eSIM diaktifkan melalui Kode Aktivasi Universal, sekali lagi menggunakan pemindaian, pengguna bisa mengaktifkan sebanyak mungkin ponsel yang diinginkan.

Kesimpulan logisnya, saat bepergian, ponsel otomatis mengetahui terjadi perubahan lokasi dan kemudian menawarkan sejumlah operator dan paket-paket dari operator lokal.

Wait and see

Meski terdengar hebat dan memudahkan pelanggan, tetapi masih belum diketahui apakah operator setuju dan segera mengadopsi teknologi ini. Adita Irawati, Vice President Corporate Communications Telkomsel, menyatakan bahwa pihaknya masih berada dalam posisi "wait and see", guna melihat perkembangan teknologi terbaru ini.

Begitupun dengan operator XL Axiata. Mereka menyatakan, meski telah meninjau teknologi eSIM, namun kejelasannya perlu didukung adanya regulasi yang dikeluarkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Meski Pixel 2 menjadi yang pertama di kategori ponsel pintar, teknologi eSIM sebenarnya sudah lebih dahulu diaplikasikan oleh sandangan (wearable) jam tangan pintar seperti Samsung Gear S3 versi LTE, begitupun dengan Apple Watch Series 3.

Pengaplikasian eSIM juga sebenarnya berujung pada lingkup yang lebih luas. Diperkirakan dalam beberapa tahun ke depan gawai Internet of Things (IOT) akan menjadi kategori terbesar, menyalip populasi ponsel.

eSIM tidak hanya membantu gawai-gawai IOT bekerja, namun juga memungkinkan sebuah kategori gawai baru dengan sedikit kompromi.

Bagaimana jadinya jika Apple atau Samsung harus menyesuaikan ukuran kartu SIM fisik pada Apple Watch Series 3 dan Samsung Gear S3 LTE? Kedua gawai tersebut pasti akan menjadi lebih besar ukurannya, sehingga tidak nyaman digunakan sebagai jam yang digunakan sehari-hari.

Selain sandangan, pemanufaktur otomotif juga bisa memanfaatkan eSIM. Mereka bisa membuat kendaraan yang terhubung dengan jaringan seluler, juga internet, tanpa menggunakan ponsel sebagai perantara. Atau mungkin suatu hari nanti, jika eSIM dipasang pada laptop, operator bisa membuat paket kenoktivitas seluler baru, khusus untuk pemakaian laptop.

Seperti banyak teknologi baru lainnya, popularitas eSIM hanya menunggu waktu. Cepat atau lambat, ponsel-ponsel akan lebih condong ke eSIM yang lebih praktis daripada kartu SIM konvensional. Jika semakin banyak pemanufaktur memproduksi gawai dengan eSIM, operator telekomunikasi pasti akan lebih mau untuk beradaptasi.

Google tahu itu. Oleh karenanya, sembari menunggu eSIM populer, mereka berkompromi dengan tetap menyediakan slot kartu SIM nano pada Pixel 2.