Benarkah Minum Air Hangat Sebelum Makan Bisa Menurunkan Berat Badan?


Kita mungkin pernah menemukan informasi di situs-situs internet, yang menyatakan bahwa rutin meminum air hangat, khususnya sebelum makan siang, akan dapat membantu menurunkan berat badan. Informasi mengenai hal itu bahkan tergolong populer, karena tidak hanya muncul di satu dua situs, melainkan di banyak situs, khususnya di situs-situs yang fokus pada bidang kesehatan.

Benarkah minum air hangat atau panas sebelum makan, bisa menurunkan berat badan?

Sebenarnya, air hangat atau panas tidak punya fungsi langsung dalam menurunkan berat badan. Ketika kita minum air (entah hangat, adem, panas, atau dingin), maka lambung akan terisi. Hal itu menyebabkan kita merasa kenyang. Karenanya, ketika kita meminum air sebelum makan, maka porsi makan kita pun akan berkurang, lantaran sudah merasa kenyang akibat minum air tadi.

Brenda M Davy dari Department of Human Nutrition, Foods and Exercise, Virginia Polytechnic Institute and State University, dan rekan-rekannya, pernah mempublikasikan hasil studi mengenai konsumsi air dan penurunan bobot badan. Hasil studi itu terbit di jurnal Obesity. 

Mereka mencoba membuktikan bahwa “konsumsi air secara akut mampu mengurangi asupan energi makanan di antara orang dewasa setengah baya dan lebih tua”. Air yang dimaksud dalam studi ini dimaknai sebagai air saja – tanpa keterangan air panas/hangat.

Brenda dkk., melakukan pengujian dengan dua sampel kelompok partisipan. Satu kelompok partisipan berjumlah 23 orang, diminta konsisten mengonsumsi air selama program diet berlangsung. Sementara 25 orang lain masuk dalam kelompok partisipan non-konsumsi air. 

Sampel Brenda dkk., itu adalah perempuan dan laki-laki dengan usia 55-75 tahun, dengan kadar kegemukan indeks massa tubuh (BMI) 25–40 kg/m, dan tidak merokok. Setelah 12 pekan, Brenda dkk. menemukan adanya penurunan bobot badan kelompok pertama yang mencapai 44% lebih besar daripada kelompok non-konsumsi air. 

Namun ada catatan tambahan yang sangat penting: pengujian yang dilakukan Brenda dkk. tersebut dikombinasikan dengan program diet hypocaloric. Artinya, praktik mengonsumsi 500 ml air sebelum menyantap makanan utama sehari-hari itu tidak berdiri sendiri. 

Hasil lebih spesifiknya begini: pada orang dewasa setengah baya dan lebih tua, konsumsi air sebelum makan mengarah ke penurunan bobot badan yang lebih besar dari sekadar diet hypocaloric saja. Kombinasi itulah yang membawa Brenda, dkk. pada kesimpulan: pengurangan porsi makan terjadi setelah partisipan minum air sebelum makan.

Sebelumnya, studi dari Boschmann M., dkk. (Franz-Volhard Clinical Research Center and Helios-Klinikum-Berlin, Humboldt-University) menemukan pengeluaran energi sebagai dampak minum air per hari.

Studi Boschmann menggunakan 14 partisipan sehat dengan bobot badan normal. Partisipan itu terdiri dari tujuh laki-laki dan tujuh wanita. Partisipan laki-laki: usia 29 ± 3 tahun; indeks massa tubuh (BMI) 24,20 ± 0,94 kg/m2; sementara partisipan perempuan: usia 27 ± 2 tahun; BMI 20,80 ± 0,88 kg/m 2; P <0,05 untuk BMI.

Studi itu menemukan bahwa minum 500 ml air dapat meningkatkan metabolisme hingga 30%. Peningkatan terjadi dalam 10 menit, dan mencapai maksimum setelah 30-40 menit. Proses inilah yang disebut efek termogenik air. Hasil dari respons peningkatan metabolisme itu senilai dengan sekitar 100 kJ. 

Dengan asumsi orang minum 2 liter air per hari, akan didapatkan pengeluaran energi sekitar 400 kJ. Studi juga menyimpulkan efek termogenik air ini harus dipertimbangkan ketika memperkirakan pengeluaran energi, terutama selama program penurunan bobot badan.