Benarkah Cairan Anti-Bocor Bisa Menambal Ban Bocor? Ini Penjelasannya


Salah satu masalah di jalan raya adalah ban bocor. Karena ban sudah aus, atau karena tertusuk paku atau benda tajam lainnya, ban kendaraan bisa mengalami kebocoran, dan itu artinya perjalanan akan terganggu. Pasalnya, ban adalah bagian penting kendaraan. Jika ban mengalami kebocoran, maka ia tak bisa berjalan lancar, karena ketiadaan angin.

Masalah ban bocor mungkin tidak terlalu membingungkan, kalau kebetulan terjadi di tempat ramai, yang biasanya ada tukang tambal ban. Tapi bagaimana jika masalah ban bocor terjadi di tempat sepi yang jauh dari tukang tambal ban?

Masalah itulah yang coba dijawab beberapa produsen cairan anti-bocor, yang kini banyak tersedia di berbagai toko suku cadang atau bengkel. Jika disuntikkan ke ban, cairan tersebut diklaim mampu menutup kebocoran ban seketika, saat tertusuk benda tajam.

Cairan anti-bocor ban itu merupakan senyawa kental—mirip gel—berbahan dasar silikon atau lateks, yang dapat menempel pada dinding ban tubeless bagian dalam.

Produsen mengklaim, cairan yang dimasukkan ke dalam ban itu mampu meredam berkurangnya tekanan angin secara drastis ketika ban tertembus benda tajam, hingga ban tak kempes. Bahkan ada sebagian produsen yang mengklaim kalau cairan tersebut mampu melindungi ban dari peluru kaliber 32 atau panjang tusukan 3,5 cm.

Walau tampaknya amat berguna, terutama ketika berkendara di tempat terpencil yang jauh dari bengkel atau tukang tambal ban, penggunaan cairan anti-bocor tersebut masih menjadi kontroversi.

Beberapa produsen ban menyatakan bahwa mereka tidak merekomendasikan penggunaan cairan itu. Alasannya, cairan tersebut berpotensi merusak struktur kandungan komponen ban.

"Penggunaan cairan anti bocor di ban, apalagi tipe ban tubeless yang bersentuhan langsung dengan pelek motor, bisa mengakibatkan korosi (karat) pada pelek. Karena itu kan cairan, dan bukan tidak mungkin merembet pada hal-hal lain," papar Jimmy Handoyo, Kepala Departemen Technical Support di PT. Suryaraya Rubberindo Industries (SRI), yang merupakan produsen ban merek FDR. 

"Makanya, kami selaku produsen ban tidak pernah merekomendasikan penggunaan produk ini," tambahnya.

Cairan yang berada dalam ruangan tertutup, sambung Jimmy, bisa menyebabkan efek buruk, misalnya tidak sempurnanya performa ban ketika digunakan.

Hal senada diutarakan instruktur keselamatan berkendara Michelin Safety Academy, Anondo Eko. Ia mengatakan, "Kalau dimasuki cairan tersebut, terkadang ban menjadi keras. Yang pasti, untuk yang bawa kendaraan juga kurang nyaman, dikarenakan adanya cairan yang menyerap di lapisan ban tersebut." 

Anondo juga mengingatkan, sebelum menggunakan cairan tersebut para pengguna kendaraan ada baiknya memahami betul karakter ban yang digunakan, apakah berkompon lunak (soft), menengah (medium), atau keras (hard).

"Kalau kita pakai ban yang karakternya sudah hard, akan bertambah keras lagi ban tersebut bila dimasuki cairan. Disarankan, penguna kendaraan selalu melihat kondisi ban, baik ketebalan, umur ban, dan tekanan anginnya," sarannya.

Cairan itu, menurutnya, bahkan bisa jadi malah memperpendek umur ban. Pasalnya, pabrikan sudah membuat spesifikasi ban sesuai dengan karakternya, yang apabila ditambahkan cairan zat kimia akan mengubah struktur kimia ban.

Mengganggu keseimbangan rotasi

Masalah lain yang mungkin muncul akibat penggunaan cairan anti-bocor tersebut adalah terganggunya rotasi ban.

"Kami belum pernah menguji secara langsung produk anti-bocor seperti itu. Tapi yang jelas, jika ada obyek lain, dalam hal ini adalah gel yang berada dalam ruang ban, maka obyek itu akan ikut berputar dan keseimbangan ban jadi terganggu," jelas Herry Maylanda, Manajer Perencanaan Produk PT Bridgestone Tire Indonesia.

"Ketika gel bekerja menambal, maka ia akan jadi gumpalan, dan berkumpul di satu spot (titik) bocor itu. Hal ini malah makin membuat ban kehilangan keseimbangan putarannya," tambah Herry.

Karena cairan itu dimasukkan melalui pentil ban, ada juga kemungkinan ia malah menyumbat saluran udara tersebut. Bahkan pada beberapa kasus, rusaknya pentil akibat cairan itu justru dapat membuat ban lebih cepat bocor, karena udara yang merembes melalui sela-sela pentil. 

Menanggapi hal itu, pihak produsen cairan anti bocor pun angkat bicara.

"Wujud cairan yang berupa gel memang bisa mempengaruhi keseimbangan ban. Tapi tidak berlaku untuk produk yang wujudnya lebih encer," jelas Firman, Area Manajer PT Tetsan Maju Bersama, yang memproduksi IML Super Tyre Sealant.

Firman tak menyangkal jika cairan anti bocor berpotensi tak hanya bisa mempengaruhi keseimbangan ban, tapi juga bisa merusak permukaan pelek bagian dalam.

"Itu karena rata-rata cairan anti bocor ada kandungan pH-nya (asam) dan bisa menyebabkan pelek berkarat. Tapi beberapa cairan, termasuk produk kami, tidak ada unsur pH-nya," papar Firman.

Kandungan pH yang dimaksud Firman adalah tingkatan keasaman yang digandeng dalam mineral. Kandungan ini akan menjadi musuh besi atau logam lainnya, karena jadi penyebab karat bila terlalu asam. Ia menyarankan, bagi pengendara yang ingin memasang cairan anti bocor, sebaiknya memilih cairan tanpa kandungan asam.

"Saat bekerja menambal, nantinya ia tidak menggumpal, melainkan jadi seperti lapisan kertas yang mengisi dan menutup celah yang bocor. Tidak jadi beban putaran ban juga," bebernya.