Apa yang Terjadi Pada Tubuh dan Otak Saat Kita Tidur?


Setiap kita menjalani satu hari dalam waktu 24 jam. Selama 12 jam siang biasa digunakan untuk bekerja dan beraktivitas, dan 12 jam lagi (malam hari) biasa digunakan untuk beristirahat, melakukan hal-hal yang ingin dilakukan, sampai tidur untuk bangun keesokan hari. 

Umumnya, orang-orang menikmati tidur malam sebagai istirahat sebelum kembali beraktivitas dan bekerja keesokannya.

Karena rutin dilakukan setiap hari, tidur tentu bukan hal istimewa. Tetapi, pernahkah kita bertanya-tanya, apa yang terjadi pada diri kita ketika sedang tidur?

Apa yang terjadi saat kita tertidur? Para ahli medis dan filsuf telah lama mencari jawabannya. Dalam tataran filosofis, dalam On Sleep and Sleeplessness pada 350 SM, Aristoteles mencoba memahami tidur sebagai transisi antara tubuh dan jiwa. 

Filsuf Prancis Rene Descartes, dalam kumpulan pemikirannya, Meditation (1641), menelusuri persepsi manusia terhadap ilusi mimpi dan realitas dengan kondisi tidur dan terbangun, “…tak pernah ada indikasi pasti yang membedakan keduanya.”

Dua abad setelah Descartes, berbagai penelitian berusaha menyimpulkan penyebab tidur. Fungsi otak dalam tidur menjadi fokus ahli anatomi Italia, Luigi Rolando dan dikembangkan peneliti Prancis, Marie-Jean Pierre Flourens. 

Penelitian keduanya membuktikan terjadinya perubahan pola tidur burung merpati (menjadi terus-menerus tertidur) setelah mengalami pengangkatan jaringan di belahan otak besar. Pembahasan tidur secara medis dipelopori peneliti Prancis, Henri Pieron dalam Le Probleme Physiologique du Sommeil.

Fungsi otak dalam mengatur pola tidur manusia menjadi fokus penelitian Constantin von Economo, seorang ahli medis Romania di tengah wabah influenza yang melanda Eropa pada 1918. Economo mempelajari kecenderungan pasien-pasiennya yang menderita radang otak akut yang kerap susah tidur (insomnia) atau justru malah tidur berlebih. 

Melalui pembedahan atas sejumlah pasien yang meninggal, dia menyimpulkan keberadaan komponen dalam hipotalamus (bagian otak) yang mengatur pola tidur.

Komponen yang dimaksud Economo pada abad berikutnya dikenal sebagai suprachiasmatic nuclei atau “jam internal” manusia yang mengatur berbagai aktivitas rutin selama 24 jam. 

Ia mengatur pola tidur dan bangun manusia melalui paparan cahaya dan gelap sebagai pemicu. Paparan ini difasilitasi oleh keberadaan pigmen melanopsin (Opn4) dalam sel retina yang sensitif terhadap cahaya serta hormon melatonin yang berproduksi dalam kondisi gelap serta menimbulkan kantuk.

Terobosan besar dalam penelitian tidur manusia terjadi ketika peneliti Jerman, Hans Berger, membandingkan rekaman gelombang otak saat tidur dan bangun dengan alat EEG (electro-enchephalogram) pada 1928. Dengan EEG pula, peneliti Allan Rechtschaffen dan Anthony Kales pada 1968 memformulasikan beberapa tingkatan tidur yang terjadi dalam durasi di atas 7 jam. 

Tidur bukanlah sebuah proses linear, melainkan memiliki beberapa tahap yang terdiri dari kategori Non Rapid Eye Movement (NREM) dan Rapid Eye Movement (REM). Bahkan bunga tidur alias mimpi, menurut beberapa penelitian, cenderung kompleks, terasa nyata dan berdurasi lama pada tahap REM dibanding NREM. 

Dengan demikian otak manusia tidak “pasif” saat tidur, namun aktif dan memiliki pola gelombang dan frekuensi berbeda dalam tiap tingkatan.

Berbagai penelitian juga membuktikan waktu tidur yang kurang dapat menyebabkan kantuk berlebih, perubahan mood, mundurnya proses kognitif dan konsentrasi, gangguan metabolisme, hingga menurunnya sistem imunitas tubuh.

Kebiasaan “berhutang” waktu tidur, menurut Steven W. Lockley dan Russel G. Foster dalam Sleep: A Very Short Introduction, harus “dibayar” keesokan harinya dan tak dapat ditunda. 

Jika waktu tidur ideal orang dewasa adalah 7,5 jam sehari dan seseorang hanya tidur 4 jam, Lockley dan Foster menyebutnya sebagai kurang tidur kronis. Jika dilakukan dua minggu penuh, orang tersebut akan mengalami kekurangan akut dan penurunan kinerja serupa orang yang tak tidur selama 2-3 hari berturut-turut.

Lebih parahnya lagi, Lockley dan Foster menambahkan bahwa orang tersebut tak serta-merta “sadar” akan merosotnya kinerja diri, “…mungkin bisa dikatakan serupa dengan mereka yang minum banyak alkohol dan tetap yakin mampu menyetir kendaraan.”