Aneh tapi Nyata, Wanita Ini Bisa Melihat Naga yang Tak Terlihat Orang Lain


Ada banyak penyakit dan masalah medis yang bisa dibilang tidak dikenal masyarakat umum, tapi diidap oleh orang-orang tertentu. Penyakit atau masalah medis itu ada, tapi jarang dikenal, lantaran jumlah penderitanya yang tidak bisa dibilang banyak. Penyakit terkait halusinasi, misalnya. 

Ada orang yang mengalami masalah medis aneh ini. Setiap kali ia menatap wajah orang lain, yang ia lihat bukan wajah manusia, tapi sesosok naga. Kenyataan aneh itu terjadi pada seorang wanita Belanda.

Seorang wanita dibawa ke klinik psikiatri di Belanda, karena mengalami kondisi aneh. Setiap kali wanita itu melihat wajah orang lain, wajah yang ia lihat berubah menjadi wajah naga. Halusinasi seperti ini terjadi beberapa kali dalam sehari.

“Ia bisa melihat wajah manusia, tapi dalam beberapa menit wajah yang ia lihat berubah menjadi hitam, menjadi panjang, memiliki telinga lancip, kemudian tumbuh moncong, kulitnya menjadi seperti reptil, dan matanya menjadi besar berwarna kuning terang, biru, hijau, atau merah,” demikian tertulis dalam studi yang dipublikasikan di jurnal The Lancet.

“Ia melihat wajah mirip naga di sekitarnya, baik di dinding, stop kontak, atau di layar komputer. Dan di malam hari, ia melihat banyak wajah naga di dalam kegelapan.”

Wanita berusia 52 tahun itu mengalami kelainan mental yang disebut prosopometamophopsia. Karena kelainan ini, wajah yang ia lihat menjadi terganggu.

Para peneliti tidak mengetahui apa yang menyebabkan kelainan ini. Mereka melakukan berbagai pemeriksaan otak dengan menggunakan MRI, EEG, dan pemeriksaan saraf, serta tes darah. Namun hasilnya normal.

“Kita memang melihat dengan mata kita, tapi kita juga melihat dengan otak,” kata ahli saraf dari Inggris, Oliver Sacks, di TED talk.

Sacks, yang juga bagian dari penelitian ini, ternyata memiliki gangguan ketika mengenali wajah. Dia tidak bisa memproses bentuk wajah yang ia lihat. 

Sampai saat ini, para peneliti belum mengetahui apa yang menyebabkan prosopometamorphopsia, namun kelainan ini antara lain bisa terjadi karena konsumsi obat halusinogen, atau karena stroke dan tumor yang mempengaruhi area otak tertentu.

Salah satu area otak yang dimaksud adalah fusiform gyrus, bagian otak yang membuat kita mampu mengenali wajah. Fusiform gyrus terletak di korteks occipitotemporal ventral, dan kerusakan pada bagian tersebut dapat membuat orang berhalusinasi atau tidak dapat mengenali wajah.

Namun, kondisi yang dialami oleh wanita itu tetap tidak biasa karena wajah yang ia lihat berubah menjadi bentuk tertentu.

Setelah melalui proses trial and error, dokter akhirnya menggunakan obat anti-demensia bernama rivastigmine untuk menghilangkan naga yang wanita itu lihat.

Rivastigmine membantu tubuh manusia mensintesis neurotransmiter bernama aseltikolin. Neurotransmiter berhubungan dengan pembelajaran dan ingatan. Obat ini efektif dalam membantu penderita Alzheimer tingkat awal untuk mengenali orang terdekat yang mereka cintai. Dan ternyata, obat ini juga bisa membantu wanita itu.

Sebelum dilakukan perawatan, wanita itu tidak bisa bekerja karena halusinasi telah mengganggu interaksi sosialnya. Sekarang, berkat pengobatan oleh Sacks dan para koleganya, wanita itu bisa bekerja selama tiga tahun terakhir ini. Teman-teman kerja si wanita mengatakan, wanita itu telah membaik.