7 Fakta Mencengangkan Seputar Uang yang Jarang Diketahui


Uang adalah benda yang setiap saat ada di dekat kita. Bisa di kantong pakaian, bisa di dompet, bisa pula di rekening bank yang dapat ditarik sewaktu-waktu melalui ATM. 

Sebegitu dekat kehidupan kita dengan uang, setiap kita pun sampai memeras keringat dan bekerja keras setiap hari demi mendapatkan uang. Karena dengan uang itulah kita bisa membeli makan dan menjalani kehidupan.

Namun, meski sangat dekat dengan uang, tidak setiap orang tahu bagaimana sebenarnya uang dicetak, atau siapa yang mencetaknya. Kebanyakan orang mungkin menganggap bahwa uang dicetak oleh pemerintah di masing-masing negara. Padahal, kenyataannya, tidak seperti itu. Berikut ini adalah 7 fakta mencengangkan seputar uang yang jarang diketahui kebanyakan orang.

Bukan pemerintah yang membuat uang

Hak memproduksi uang bukanlah milik pemerintah, tapi milik swasta (The Fed, dalam kasus AS). Di negara-negara lain seperti Inggris atau Indonesia, hak memproduksi uang diberikan secara eksklusif pada bank sentral yang “independen”. Yang artinya, operasi bank sentral yang serba rahasia, dan “obscure”, tidak bisa dikontrol oleh publik. 

Sebaliknya, seluruh operasi dan mekanismenya mengikuti supervisi yang diberikan oleh Bank of International Settlement (BIS, banknya bank-bank sentral) yang disetir oleh The Fed dan bank sentral beberapa negara Eropa. Sistem ini telah dimulai sejak berdirinya The Fed di tahun 1913 dan BIS di tahun 1930-an. 

Uang diproduksi sebagai utang dengan bunga

Tak banyak yang menyadari bahwa setiap kali uang diproduksi, negara harus berutang pada bank sentral. Negara, yang diwakili pemerintah, tak boleh memproduksi uang begitu saja. Ia harus berutang atau mengeluarkan surat utang untuk ditukarkan dengan uang oleh bank sentral. 

Tak cuma itu, utang tersebut juga memiliki bunga yang harus dibayar oleh pemerintah (“interest-burdened debt”). Wajar saja kalau seluruh planet bumi penuh dengan utang (lihat www.webofdebt.com). 

Uang dibuat, tapi bunganya tidak ikut dibuat

Tadi disebutkan bahwa uang yang diproduksi adalah utang pemerintah pada bank sentral, yang dikenai beban bunga. Persoalannya, pada saat uang diproduksi, bunganya tidak ikut diproduksi. Pertanyaannya adalah: Bagaimana utang tersebut akan dibayar, kalau bunganya tidak pernah dicetak atau diproduksi? 

Misalnya, pemerintah AS meminta The Fed untuk memproduksi uang sebanyak $100 juta dengan bunga 6 persen. Artinya, pemerintah AS berutang $106 juta pada The Fed. Tapi, karena uang yang diproduksi hanya $100 juta, pemerintah AS tak kan pernah bisa membayar lunas utangnya. Mengapa? Sebab, ia harus kembali “berutang” (plus bunga) untuk mendapatkan $6 juta sisanya. 

Ini bukan cuma kekeliruan matematis, tapi salah satu kesintingan utama yang telah lama terjadi. Sebab, dengan cara ini, jumlah utang akan terus bertambah secara tak terbatas. 

Cara cepat menjadi kaya adalah memiliki bank

Sistem yang sekarang, membolehkan bank untuk memberikan pinjaman atau kredit sebesar ratusan hingga ribuan persen dari cadangan modal yang dimilikinya. Bila cadangan wajib perbankan ditentukan 10%, misalnya, maka dengan modal sebesar $100 juta, bank bisa memberikan kredit hingga $900 juta, tentu saja dengan mengenakan bunga bagi si peminjam. 

Inilah yang dinamakan “fractional reserve system” atau sistem cadangan fraksional. Sistem ini membuat kita mudah menyimpulkan bahwa cara paling cepat untuk jadi kaya adalah dengan memiliki bank. Tapi, pihak yang paling bertanggung jawab terhadap inflasi (uang beredar lebih besar daripada barang) juga tak lain adalah bank. 

Kemiskinan adalah hasil pasti dari sistem ini

Kemiskinan salah satunya terjadi lantaran pengenaan bunga pinjaman. Bank-bank memberi pinjaman atau kredit bagi publik dengan beban bunga. Artinya, publik harus “bertarung” untuk mengembalikan pinjaman yang lebih tinggi dari yang mereka pinjam. 

Padahal, seperti dijelaskan sebelumnya, bunga yang harus dikembalikan itu tidak pernah diproduksi oleh bank sentral. Sudah pasti ada yang “kalah” dan ada yang “menang” dalam pertarungan ini. Yang kalah akan miskin (karena harus kehilangan aset-aset yang sudah dijaminkan pada bank), yang menang akan bertambah kaya (karena mendapatkan limpahan aset yang disita). 

Dalam jangka panjang, para pemenang akan terkonsentrasi pada segelintir orang yang paling besar modalnya (para pemilik bank-bank besar). 

Perang memberi banyak keuntungan bagi bank

Sudah dijelaskan di atas, bahwa setiap kali uang diproduksi, pemerintah akan berutang pada bank sentral. Selanjutnya, utang-utang pemerintah dapat diperjualbelikan dan dijadikan aset oleh perbankan untuk kembali “menggandakan” uang (ingat “fractional reserve system” pada poin 4 di atas). Semakin banyak utang pemerintah, semakin banyak pula uang yang dapat digandakan oleh bank. 

Perang adalah salah satu peristiwa ketika pemerintah akan berutang dengan jumlah luar biasa besar. Perang Irak konon menghabiskan biaya sampai $3 triliun menurut ekonom peraih Nobel, Joseph Stiglitz. 

Wajar saja, kalau sejumlah pihak berpandangan bahwa perang terhadap terorisme adalah konspirasi besar yang sengaja dilakukan untuk memompa lebih banyak uang bagi bank-bank di Wall Street. 

Yang kaya akan semakin kaya, begitu pula sebaliknya

Dalam sistem yang sekarang berlaku, kecerdasan dan kerja keras tidak dengan sendirinya membuat seseorang menjadi kaya. Mereka yang memiliki akses lebih baik terhadap modal, itulah yang akan menjadi kaya. Mereka tidak perlu bekerja keras, modal akan bekerja secara otomatis untuk mereka. 

Para pemilik modal super besar itu, selain merupakan para pemilik bank raksasa, juga biasa menitipkan modal mereka pada para spekulan kelas kakap yang dikenal sebagai “hedge funds”. 

Degan teknologi dan modal yang dimiliki, mereka bisa meraih keuntungan yang tak terbayangkan dari perdagangan valuta asing maupun berbagai produk turunan dari pasar modal. Modal lebih menguntungkan untuk dipupuk atau diakumulasi lewat pasar finansial, ketimbang digunakan sebagai alat tukar untuk memutar perekonomian di sektor riil. 

Dalam jangka panjang, sektor riil akan kekeringan modal, dan kemiskinan akan bertambah luas. Tapi, di lain pihak, sistem ini juga akan menuju kehancurannya sendiri, karena hilangnya “daya beli” publik terhadap produk-produk bisnis yang cuma dimiliki segelintir orang tadi.