Waspadai Hoax, Tampak Tidak Penting tapi Sebenarnya Berbahaya

Share:


Sebegitu populer istilah hoax (atau hoaks), istilah itu pun nyaris muncul setiap hari, khususnya di media sosial. Saat suatu kabar atau berita baru muncul, sebagian orang bisa mudah menyebutnya hoax, jika tidak menyukai isinya. Sementara pihak lain menganggapnya berita benar (bukan hoax) jika menyetujui isinya.

Kenyataannya, suatu berita atau kabar tertentu bisa saja hoax selama belum ada klarifikasi dan verifikasi. Yang menjadi masalah, terkait hoax, masyarakat yang percaya akan mudah terpancing oleh berita tersebut. Mereka malas melakukan verifikasi atas berita yang mereka baca. Pokoknya, kalau mereka suka isinya, mereka akan percaya. 

Sekilas, hoax memang tampak hal yang sepele, namun sebenarnya bisa berbahaya, karena mengancam kerukunan masyarakat. Orang bisa berselisih atau bahkan sampai melakukan tindak kekerasan, karena hoax.

Terkait hoax, banyak yang mengatakan bahwa masyarakat Indonesia kurang kritis dalam membaca berita, sehingga tidak mau repot-repot mengkrosceknya ke media-media lain soal kabar hoaks tersebut. Meski begitu, menghindari media hoaks tak semudah yang diperkirakan. 

Menurut Dannagal Young, peneliti dari University of Delaware, Amerika Serikat, menyalahkan pembaca yang menyebarkan berita bohong atau hoaks merupakan tindakan yang tidak adil, apabila dilihat dari perspektif kognitif. 

Melalui penelitiannya selama satu dekade, Young menemukan bahwa otak manusia merespons secara khusus informasi-informasi unik nan trivial ketimbang informasi lainnya. Apalagi ketika informasi tersebut dibumbui humor, seperti misalnya satir, ataupun ketika suatu hal dianggap lucu dan menarik oleh pembaca.

“Hal-hal yang punya konteks lebih menarik akan lebih mudah diingat oleh otak Anda,” ucap Young. 

Memang, otak manusia memiliki kemampuan untuk memproses informasi dan mengingat fakta-fakta yang melakukan verifikasi terhadap hoaks-hoaks yang dikonsumsi sebelumnya. Meski begitu, walaupun argumen yang menyatakan hal tersebut adalah hoaks sangat kuat, hal-hal yang lebih trivial apalagi yang memiliki unsur humor akan lebih mudah diingat oleh otak.

“Setelah Anda memasukkan berita bohong di kepala Anda, ia akan tetap di situ selamanya. Anda tidak bisa tidak memikirkan hal itu,” ucap Young. 

Hal ini dicontohkan dengan kalimat-kalimat yang, meskipun belum tentu benar, selalu kita percaya, seperti: “Trump itu bodoh”. Meski belum tentu benar, apa yang sudah tertanam di pikiran kita, dengan segala kehebohan Trump menjadi presiden AS, akan sangat sulit untuk dilupakan.

Parahnya lagi, keadaan media sosial sekarang membuat masyarakat terjebak pada apa yang dinamakan The Filter Bubble. Menurut penulis bernama Eli Pariser, internet membuat kita hanya mendapatkan apa yang kita sukai dan sudah setujui sebelumnya. 

Hal ini didasarkan pada algoritma Google ataupun Facebook yang selalu merekam perilaku kita di internet. Pada gilirannya, internet akan menampilkan pada kita hal-hal senada dari apa yang selama ini kita konsumsi sebelumnya, bahkan ketika informasi-informasi tersebut merupakan hoaks. 

Dan itu belum semuanya. Sebuah penelitian berjudul When Corrections Fail menjelaskan bahwa informasi koreksi, atau pembetulan, atau ralat, atau penjelasan bahwa sebuah informasi yang sebelumnya telah beredar ternyata hoaks, tidak mampu mengurangi mispersepsi yang telah terjadi sebelumnya.

Sebuah kelompok yang sudah memercayai suatu hoaks secara kolektif, kecil kemungkinannya akan mengubah pikiran mereka setelah diberi informasi soal pembetulan informasi tersebut. Bahkan penelitian yang dilakukan oleh Brendan Nyhan dan Jason Reifler dari Universitas Michigan dan Georgia, menjelaskan adanya kemungkinan yang lebih buruk, yaitu “backfire effect”. 

Efek tersebut, sederhananya, menyebut bahwa koreksi atas suatu hoaks justru akan menimbulkan kebingungan lain dan meningkatkan mispersepsi dari tingkat sebelumnya. Alasannya, senada dengan teori The Filter Bubble, adalah karena seseorang lebih sering mendapat apa yang sudah dia percayai, dan hanya mau memercayai apa yang dia suka. 

Alih-alih menambah wawasan dan membuat seseorang makin bijaksana, internet era kini ditakutkan justru membuat pemikiran makin sempit dan bebal.